Omah Dhemamit mungkin merupakan salah satu bangunan peninggalan zaman kolonial dengan wujud paling unik dibandingkan bangunan peninggalan lainnya. Bangunan berada di Dusun Ngentak I, Desa/Kalurahan Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Lokasi Omah Dhemamit dapat dijangkau melalu Pojok Beteng Wetan-Jl Parangtritis-Jembatan Kretek-ke arah timur (arah Pundong)-ikuti jalan tersebut hingga sampai pertigaan Dusun Ngentak I-masuk jalan bergapura (ke kiri)-lurus. Jarak lokasi dengan gapura sekitar 300 meter.

Omah Dhemamit berada di samping kiri dari rumah milik Agus Subianto (55). Atap bangunan ini berbentuk melengkung. Dinding dan atap merupakan bangunan yang menyatu, terbuat dari pasangan batu bata berplester. Ukuran bangunan kira-kira 2,5 m x 2,5 m dengan ketinggian sekitar 3 m. Bangunan memiliki satu pintu dengan kusen terbuat dari besi dan tidak berdaun pintu. Ukuran kusen sekitar 80 cm x 60 cm. Pintu menghadap ke arah selatan.

Omah Dhemamit dilihat dari arah timu-selatan-foto-a.sartono
Omah Dhemamit dilihat dari arah timu-selatan-foto-a.sartono

Bangunan itu tidak memiliki jendela maupun ventilasi (lubang angin). Tebal dinding sekitar 20 cm. Pada kedua sudut dinding dalam belakang dari bangunan ini terdapat susunan dinding seperti undakan kecil yang diduga digunakan untuk menempatkan batangan balok kayu atau besi, namun fungsi persisnya belum diketahui.

Menurut warga setempat, Sukari (75), bangunan tersebut merupakan bagian dari kompleks bangunan rumah besar milik orang Belanda di masa lalu. Kompleks bangunan tersebut dulu diberi pengaman berupa pagar tembok keliling cukup tinggi. Setahu Sukari bangunan tersebut digunakan untuk menyimpan senjata. Kompleks rumah Belanda itu sekarang tinggal menyisakan pondasi. Pada bekas kompleks rumah tersebut telah berdiri bangunan-bangunan baru namun sisa pondasi lama masih dapat disaksikan.

Seingat Sukari bekas rumah Belanda itu dulu pernah menjadi milik Lurah Jagabaya (Sukarjo) yang kemudian diturunkan kepada anaknya yang bernama Zainal-kemudian diturunkan kepada Mbah Mantri (Suyat)-dan kemudian diturunkan lagi kepada Agus Subianto. Kondisi bangunan hingga saat ini masih kelihatan utuh. Hanya saja ruang dari Omah Dhemamit ini pada saat sekarang digunakan untuk menyimpan rosok.

Konten Terkait:  Nilai Penting Iklan Enamel Dulu dan Kini
Satu-satunya pintu Omah Dhemamit, Pundong, Bantul-foto-a.sartono
Satu-satunya pintu Omah Dhemamit, Pundong, Bantul-foto-a.sartono

Dulu ruangan bangunan Omah Dhemamit sering digunakan sebagai tempat bermain anak-anak. Nama Dhemamit sering dikait-kaitkan dengan dinamit (bahan peledak) dan juga dhemit (hantu, makhluk halus, dan sejenisnya).

Sukari juga menyampaikan bahwa pada masa lalu ketika orang Belanda itu masih hidup setiap kali ia menerima gaji maka pekarangan di kanan kirinya secara mendadak menjadi seperti pasar karena banyak orang berjualan di tempat tersebut. Tampaknya orang Belanda tersebut berpenghasilan besar sehingga setiap kali ia mendapatkan gaji orang-orang pun berdatangan di sekitar rumahnya untuk menjajakan dagangannya. Sayang, nama dan profesi orang Belanda itu tidak diketahui. Kapan ia aktif di tempat itu dan kapan ia meninggal pun tidak diketahui dengan pasti.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here