Dalam jejak rekam sejarah, Kerajaan Kutai di abad ke-4 yang tercatat sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Hal itu menandakan bahwa bangsa Indonesia telah mengenal peradaban yang relatif maju dan teratur di awal abad saat bangsa-bangsa lain masih belum bertumbuh dalam peradaban relatif maju dan keteraturan hidup.

Setelah Kutai kemudian disusul munculnya Kerajaan Tarumanegara di Bogor, Sriwijaya di Palembang, serta pada awal abad ke-8 muncul Kerajaan Mataram Hindu, disusul Kerajaan Kediri-Jenggala-Majapahit. Setelah itu ada Kerajaan Samudera Pasai dan Demak. Lalu muncul pula Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram Islam, Kerajaan Kartasura, Kerajaan Surakarta dan kemudian muncul Kerajaan Kasunanan Surakarta-Kerajaan Kasultanan Yogyakarta-Kadipaten Mangkunegaran-Kadipaten Paku Alaman.

Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik dari Belanda-Foto-A.Sartono
Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik dari Belanda-Foto-A.Sartono

Kenangan akan kerajaan-kerajaan tersebut menggugah Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) untuk menyuguhkannya kembali ke hadapan khalayak melalui foto dokumentasi. Data foto tersebut otentik dan diambil dari sumber berupa buku berjudul Nederland Indie: Land en Volk Geschiedenis en Bestuur Bejdrief en Samenleving terbitan Uitgevers-Maatschappy “Elsevier”, Amsterdam, 1912 dan Majalah Kajawen terbitan Belanda pada kisaran tahun 1930.

Di samping foto-foto lama, BBY juga menyajikan kliping koran tentang fenomena munculnya kerajaan-kerajaan (ilusi) abad ini yang menyesatkan banyak orang. Pameran Foto Keraton di BBY ini dilaksanakan mulai tanggal 4-13 Februari 2020.

Ada pun karya yang dipajang dimulai dengan ilustrasi tentang kunjungan Kompeni Belanda di bawah kepemimpinan Cornelis de Houtman menghadap Sultan di Banten pada tahun 1609. Disusul kemudian dengan foto kebesaran Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik dari Kerajaan Belanda dan lain-lain. Foto-foto tersebut seperti serpihan atau sisa-sisa peristiwa masa lalu dari aneka kerajaan di Indonesia dengan segala kehidupannya.

Residen Belanda dan Sultan Yogyakarta bersama rombongan-Foto-A.Sartono
Residen Belanda dan Sultan Yogyakarta bersama rombongan-Foto-A.Sartono

Serpihan jejak rekam peristiwa ini tentu saja sangat membantu dalam merekonstruksi ingatan akan masa lalu. Rekonstruksi memori berdasarkan bukti otentik seperti foto sangat penting dalam studi sejarah dan arkeologi. Dari  bukti itu kita bisa mengilustrasikan atau “menghadirkan” kembali masa lalu yang dapat menjadi bekal referensi untuk menentukan langkah ke masa depan.

Konten Terkait:  Between Two Gates Bagian Heritage yang Unik di Kotagede

Hadirnya dokumentasi berupa foto tentu tidak bisa dilepaskan dengan penemuan benda atau alat fotografi (kamera foto dengan segala kelengkapannya). Perlu diketahui bahwa fotografi ditemukan pertama kali sekitar tahun 1826 dan kamera foto diproduksi secara massal pada tahun 1850. Di Yogyakarta foto-foto raja mulai ada sekitar tahun 1890. Jadi, mulai dari Sultan Hamengku Buwana VI (1890). Sedangkan gambar atau ilustrasi diri para raja Yogyakarta mulai Sultan Hamengku Buwana I-IV dihasilkan dengan cara melukiskannya (bukan memotretnya).

Sunan Paku Buwana X sewaktu muda-Foto-A.Sartono
Sunan Paku Buwana X sewaktu muda-Foto-A.Sartono

Pameran ini di samping menampilkan foto para raja juga menampilkan foto-foto dari para penguasa setempat setingkat pangeran, bupati, mayor China, para prajurit keraton, prajurit Kumpeni, Marsose, pengadilan di masa kolonial, dan lain-lain. Ada pula foto-foto tentang berbagai kegiatan atau peristiwa di lingkungan kerajaan, seperti Perayaan Grebeg, Prosesi Pemakaman Raja, potret ketika Ir Soekarno dilantik menjadi Presiden.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here