Puisi Kelana

0
125

Fragmen

Lewat garis-garis telapak tanganku
kota mengabarkan para penjarah
derap lars yang mengerap kaku
memporak porandakan altar

Tapi bunga tetap asyik dengan android
sementara adzan yang menguar
mirip pintu besi nyaring berderit
merontakan luka demi luka

Ini kali kota tak juga sudah
kesibukan nyaris serupa kepanikan
sebelum kamu dan beku terkapar
mencecang lesi bagai ular

Bulan nyaris menyembul
derum mesin di jalanan
bagai menara rubuh
menjelma senyummu lesu

Lewat garis-garis telapak tanganku
kota mengabarkan para penjarah
derap lars yang mengerap kaku
memporak porandakan altar

selebihnya
mamring

Kendal, 08092019

 

Panorama

Menuju kesenja
angin mengajakku
sebelum terlihat bulan
memaku wajah kaku

Di sini sedang tenang
katamu sembari mengenang
meski rambut tetap lusuh
dan hati selalu rusuh

Angin laut yang mengesah
terseok membaca matahari angslup
di setiap waktu yang pindah
dalam ceracau tanpa jemu

rupa-rupa warna resah
penuh kesah mencari rumah
di sudut-suduthilang arah
meski belum kalah

kau musti tetap menegak
biar merkuri tak lagi sinis
seolah menggantikan bintang
di relung matamu manis

akupun beranjak pulang
meninggalkan gelap kota
tanpa peta perjalanan
Cuma dengan keyakinan

Tanggungrejo – Lemahgempal, 07092019

 

Menuju Perjalanan

Di tengah hari
pada tebaran debu
yang tak usai-usai
kau mengabu
menyelip pada dedaunan
nan tak sudah bergoyangan
dilanda anginb iru
serupa wajah kuru
aku melerap bisu
memandang betapa paras
tak ketemu tisu
sebagai belai dari hidup keras
‘aku masih menunggu’
katamu sayu lemas
akupun tergugu
sembarit etap berkemas

Kendal, 040719, 13:02

 

Meditasi

Di sini
waktu serasa berhenti
angin susut
ngungun
nyenyet
mamring
daun-daun alum
tapi hijau sangat
mengingatkan
bila berhenti
usia

Konten Terkait:  Puisi Ade Novi

hu
allah

Kuncen, 25  Mei 2019

– – – – – –

Kelana
Kelana

Kelana lahir di Kedungjati, Grobogan, Jawa Tengah, pada 13 Maret 1970.  Sejak tahun 1990 ia banyak menulis reportase kebudayaan, cerpen, puisi dan beberapa tulisan human interest di beberapa media massa seperti Swadhesi, Simphoni (Jakarta), Dharma, Kartika, Wawasan dan Suara Merdeka (Semarang). Sejak 2003 ia mulai membacakan karya-karya puisinya di berbagai kesempatan aksi massa dan juga di forum-forum rakyat. Tahun 2000 bersama Yuli BDN Kelana mendirikan Komunitas Budaya Rakyat (Kobar) Fajar Merah. Pada 17 Agustus 2010 bersama beberapa kawan di Kendal mendeklarasikan Lembaga Sastra Rakyat (LeSTRA) dan sampai sekarang masih berjalan dengan agenda rutin bulanan Hajatan Kebun Sastra di Kendal. Sekarang aktif berpolitik kesenian di Serikat Kebudayaan Masyarakat Indonesia (SeBUMI) duduk di Divisi Sastra. Kini tinggal di Kendal, WA: 083842177199

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here