Puisi Arieyoko

0
59

Ruang Tamu yang Sunyi

Tak lengkap kursinya selain
meja yang gumpil dengan
taplak tua yang dekil

Pada tahun pohon belimbing berbunga
banyak tamu suka bertandang dengan
wajah rupa-rupa, bau rupa-rupa, dan
abab mulut, berwarna-warna

Mereka suka tafakur berderet-deret
tanpa nomer antrian, kecuali niatan
bahwa memperbaiki, adalah lebih baik
dari sekadar memohon keselamatan

Ada bunga yang dibawa
ada luka yang dicangking
ada umur yang diserahkan
juga

Udara menjadi tipis dan langit selalu
gembira di ruang tamu, sebab
meniti nasib, bukanlah urusan pikir
semata

Bim bim bim bim bim
nama siapa yang tersebut
untuk dieja dan dilafal
kamu atawa aku?

Pohon belimbing kini kian kering
daun-daunnya rontok ditabrak angin
yang lama telah pulas menjadi ingatan
yang baru bakal bermunculan sebagai
hiasan

Bim bim bim bim bim
akulah penunggu ruang tamu
dengan pintu terpapar
menunggu.

Jonegoro, 2020

Hutan Buku

Buku buk umenjadi hutan
Masuk bukuk luar buku
Buku tuhan buku nabi
Buku terang buku gelap

Buku laut menjadi pasir
Buku gunung menjadi butir
Buku kota menjadi tafsir
Buku tafsi rmendesir

Hutan hutan buku buku
Dirayah-rayah
sebagai
sejarah.

Jonegoro, 2020

Mencuci Angin

Pergilah mencuci angin
Di sendang diri
Di sumber hati

Ada banyak katresnan, disitu
Ada banyak kawelasan, disitu
Ada banyak ngabekti, disitu

Angin pergi
Angin kembali

Menuju
sepi.

Jonegoro, 2020

Perempuan Seribu Bunga

Ada yang salahkah dengan matahari?
Yang memberi cahaya perempuan seribu bunga
Yang kini masih saja memungut kelopak, daun,
sari, dan bicara bersama rama-rama?

Jari jemarinya masih kurus dan kering
sembab di matanya makin lebar dan hitam,
dagunya semula lebah menggantung ujungnya,
kini keriput, kusut, makin sengkarut

Pada hari bulan yang entah, perempuan
Seribu bunga pernah berkisah tentang
Ranjang besar terbuat dari es. Tempat
Segala cintanya dibeberkan penuh
Seribu harum

Konten Terkait:  Puisi Susi Lestari

Hidup yang terus gilir-gumanti, merubah
Ranjangnya kian beku, kian lesu, kian layu,
Kian tergugu dengan segala cinta yang
Yang kian tersedu. Pula

Maka pemberontakan pun dilakukan dengan
bersegera, membawa bedil, kelewang, juga
pedang serta parang. Perempuan itu mencacah
es menjadi butiran-butiran untuk campuran
kopinya bila di beranda

“Kekasihku, bila hari tak lagi penuh, maka
Kusambitkan semua cerita dari awal hingga
akhir. Hanya kepadamu,” desisnya lirih

Maka, matahari sebagai saksi, menggulung
Seluruh awan, merontokkan air dari matanya,
berbuliran, menguar, melantak, meluluhkan
kata-kata perjanjian yang pernah dipahat

Perempuan seribu bunga melumpati gunung,
sungai, tebing, hutan, waktu dan umur yang
terus berderak-derak menyertai kulitnya hingga
mengelupas

Kepada rindu yang telah menjadi batu, kepada
angin yang makin dingin, kepada api yang makin
sepi, kepada nama yang makin terlupa, kepada
cinta yang makin berjelaga, ialah perempuan seribu
bunga yang bersetia

Jadi, Ia tak pernah menulis apa-apa pada kisahnya,
Selain hanya menjadi manusia biasa yang kini
Musti menerima ketuaannya, secara gumbira.
Tanpa apa-apa.

Jonegoro, 2020

Pohon Sepi

Pada awalnya semua gembira
Ada warna angin adawarna langit
Ada suara jengkeri kada pula itik
Di sini

Lalu semua pergi
Waktu telah menerbangkan
Waktu telah menggantikan
Dari ada menjadi tak ada
kecuali
aku

Saat musim yang terlupa
Sungguh telah kulupa bahwa
Aku dari sebiji jadi sebatang

Dan, aku sebatang jadi sepohon
Lalu, berpohon-pohon
mustinya

Tetapi tidak
Aku hanya sepohon saja
Sendiri saja
mencari
nama

Namaku
Pohon sepi

Jonegoro, 2020

Arieyoko
Arieyoko

Arieyoko, aktif di Komunitas Sastra Etnik, mukim di Bojonegoro, JawaTimur. Puisinya dimuat dalam antologi: Serat Daun Jati (2010), Perempuan  dengan Belati (2010), Merapi Gugat (2011), Fiksi Mini (2011), Kitab Radja-Ratoe Alit (2011), Kumpulan Gurit Pagupon (2012), Requiem Murtidjono (2012), Negeri Langit (2014), Negeri Laut (2015)  dan sejumlah antologi puisi lainnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here