Tim Pengembangan Kethoprak di bawah Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY kembali mementaskan Kethoprak Milenial Rebon. Untuk hari Rabu malam, 15 Januari 2020 Kethoprak Milenial Rebon merupakan Kethoprak Rebon kedua. Pentas ini menyuguhkan lakon berjudul ‘Getih Pungkasan’ karya Sudarmanto. Bertindak sebagai sutradara adalah Ahmad Efendi dan pimpinan produksi adalah Deni Setyawan. Pementasan lakon Getih Pungkasan ini dilakukan oleh para pelaku kethoprak muda Kabupaten Bantul.

Pengadeganan pertama dibuka dengan suasana yang menegangkan di mana iringan bernuansa penuh semangat dan tegang. Di tengah iringan ditampilkan adegan banyak orang yang mendakwa seseorang dan kemudian menganiayanya. Orang teraniaya tersebut adalah Utomo. Motor penganiaya adalah Sembodo, Brangas, Sumitro, dan sekian orang lain.

Utomo dituduh membuat rusuh di Desa Kedungpring di wilayah Giri. Ia dituduh karena ia mengundurkan diri sebagai prajurit Mataram. Ia juga dituduh berteman dengan orang-orang Belanda sehingga menjadi dianggap logis kalau dia dituduh sebagai biang keonaran. Lebih-lebih karena Giri menyatakan diri tidak mau takluk pada Mataram.

Sangkalan dari Utomo tidak digubris. Untung ia diselamatkan oleh Kumolo yang juga membawa surat dari Panembahan Giri yang isinya agar Utomo jangan dianiaya. Utomo dilepaskan dari tuduhan jika ia bisa membuktikan diri bahwa ia tidak bersalah. Utomo pun menyanggupi perintah untuk membuktikan diri bersih.

Sembodo mengakui kesalahan dan minta maaf pada Respati-Foto-A.Sartono
Sembodo mengakui kesalahan dan minta maaf pada Respati-Foto-A.Sartono

Adegan berikutnya Respati (istri Sembodo yang semula naksir Utomo) membuka semua kebusukan Sembodo dan komplotannya yang ingin menyingkirkan Utomo karena ia cemburu pada Utomo. Akhirnya Sembodo sadar dan bersedia membantu Utomo dalam mencari biang kerusuhan di Kedungpring. Kumolo yang dijatuhcintai Sumitro juga meminta Sumitro untuk membantu Utomo. Di tengah situasi demikian Kedungpring malah kian kisruh karena Kumolo diculik orang. Sementara itu Sunan Amangkurat I menjalin hubungan erat untuk menaklukkan Giri yang saat itu juga melindungi Raden Trunojoyo.

Konten Terkait:  Alya Salaisha di Taman Terakhir

Dalam sebuah ronda atau patroli, warga Kedungpring dapat menangkap perusuh yang selama ini mengobok-obok Kedungpring yang ternyata adalah Brangas. Brangas melakukan itu semua untuk menjatuhkan Utomo yang mantan prajurit Mataram yang mbalela (desersi). Di masa dinas Utomo di Mataram keluarga Brangas dihabisi prajurit Mataram, ia dendam dan menumpukan segala kepahitan hidupnya pada Utomo.

Belanda dan Mataram bersenang-senang bersama sebelum menaklukkan Giri-Foto-A.Sartono
Belanda dan Mataram bersenang-senang bersama sebelum menaklukkan Giri-Foto-A.Sartono

Akhirnya keduanya terlibat dalam perang tanding, namun sebelum jatuh korban istri Brangas (Savitri) melerai dan menceritakan jasa Utomo yang telah menyelamatkan nyawanya dari keberingasan prajurit Mataram yang dibantu Belanda. Brangas akhirnya sadar akan jasa utomo. Panembahan Giri pun datang ke Kedungpring serta mengajak warga untuk mempertahankan tanah tumpah darah yakni Giri dari serbuan Mataram.

Utomo tewas di tangan Belanda dengan peluru emas-Foto-A.Sartono
Utomo tewas di tangan Belanda dengan peluru emas-Foto-A.Sartono

Giri akhirnya dapat ditaklukkan Mataram dengan bantuan Belanda. Semua warga Kedungpring gugur. Tinggal Utomo yang kebal akan peluru. Namun Belanda tidak kekurangan akal. Utomo ditembak dengan peluru emas. Itulah pengapesan atau kelemahan ilmu kebal Utomo. Ia pun gugur. Menyusul satu pejuang terakhir, Sawitri. Sebagai warga Kedungpring dan Giri ia gugur sebagai pejuang yang terakhir. Itulah getih pungkasan bagi Desa Kedungpring.

Kethoprak Rebon ke-2 ini pun tetap dipadati penonton. Semakin tampak bahwa Kethoprak Milenial Rebon ini menunjukkan sisi keberbedaannya dengan kethoprak yang selama ini ada. Penonton tidak lagi disuguhi adegan             jejeran yang bertele-tele dengan tembang-tembang yang panjang, dagelan yang menyita waktu, adegan yang lama dan monoton, iringan yang cenderung konvesional, dan lain-lain. Jika dicermati, pengadeganan lebih menyerupai model pengadeganan dalam film yang cepat berganti, padat, ringkas, tanpa meninggalkan suspens tanpa kehilangan kontrol dan benang merah cerita, klimak, dan iringan yang juga tidak lagi sepenuhnya konvensional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here