Pelabuhan Semarang Era Kolonial 2
Pelabuhan Semarang Era Kolonial 2

Selama abad XVIII, Semarang tumbuh menjadi pelabuhan penting di Jawa, dengan jaringan perdagangan membentang sepanjang pantai utara Jawa hingga ke wilayah Sumatera khususnya Palembang dan Selat Malaka. Perdagangan luar negeri didominasi orang-orang Cina dan Jawa. Baru sekitar tahun 1775 hampir 3 % nahkoda yang terdaftar dalam pelayaran internasional, yang membawa komuditas dari Jawa, adalah orang Eropa.

Di bawah kekuasaan Belanda, Semarang menjadi pelabuhan penting ke-2 pada abad XIX dan ke- 3 pada abad XX. Pelabuhan ini terutama untuk eskpor hasil pertanian maupun perkebunan dari pedalaman Jawa. Kapal-kapal bersandar dan mengisi muatan seperti gula, karet, kopi dan teh di pelabuhan ini untuk dibawa ke Belanda. Komoditas inilah yang memberi keuntungan sangat banyak bagi negara Belanda selama bertahun-tahun.

Aktivitas di pelabuhan yang semakin meningkat apabila tidak tertata dan tertangani dengan baik pasti menimbulkan bemacam-macam masalah. Pemerintah kolonial kemudian mengeluarkan kebijakan secara berkesinambungan untuk mengembangkan pelabuhan Semarang dan tata kota Semarang. Kebijakan tersebut melibatkan banyak pihak, baik pemerintah kolonial, pribumi Jawa maupun etnis lain yang berkepentingan.

Wilayah Semarang dikembangkan sebagai kota pelabuhan, pusat komersial atau perdagangan dan administrasi pada abad XIX.  Pengembangan ini ditandai dengan pembuatan jalan baru dan perbaikan beberapa ruas jalan yang sudah ada untuk menghubungkan tempat-tempat produksi di sekitarnya. Jalan dibuat untuk mempermudah pengangkutan komoditas ekspor dari pedalaman ke pelabuhan. Untuk memudahkan kapal masuk dan keluar pelabuhan dibuat mercusuar, kanal dan pengerukan endapan lumpur secara rutin. Juga didirikan galangan kapal, kantor administrasi dan bank untuk memudahkan berbagai urusan.

Berkembangnya kota pelabuhan Semarang jelas mempunyai dampak sosial terhadap kehidupan,  baik penduduk asli maupun pendatang. Masyarakat yang heterogen serta populasi penduduk yang meningkat dengan cepat adalah permasalahan tersendiri. Untuk memudahkan sistem kontrol dan juga hal yang berkaitan dengan pelabuhan, pemerintah kolonial Belanda kemudian mengeluarkan kebijakan tentang permukiman atau tempat tinggal. Permukiman penduduk dibuat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, seperti kelas sosial dan etnis.

Konten Terkait:  Monolog Puisi dari Butong di Tembi

Aktivitas lain di pelabuhan Semarang adalah adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan celah-celah yang ada untuk hal-hal ilegal. Seperti penyelundupan senjata, perdagangan opium sampai perdagangan manusia terutama wanita. Sisi lain adalah munculnya surat kabar/majalah, sehingga informasi cepat diketahui. Dan terbentuknya kebudayaan baru seperti tradisi Dugderan dengan Warak Ngendog sebagai bentuk akulturasi antaretnis.  

Judul: Kota Pelabuhan Semarang dalam Kuasa Kolonial. Implikasi Sosial Budaya Kebijakan Maritim, Tahun 1800-an – 1940-an
Penulis: Dwi Ratna Nurhajarini, Indra Fibiona, Suwarno
Penerbit: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2019, Yogyakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: xi + 170

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here