Umumnya lukisan abstrak berawal dari lukisan figure. Artinya sang perupa lebih dulu menguasai figure sebelum menuju ke abstrak, meskipun hal ini tidaklah mutlak. Ada juga perupa yang begitu memunculkan karyanya langsung bercorak abstrak. Semua memang tergantung pilihan, minat, dan kesukaan masing-masing.

Lukisan figure bisa dipastikan akan bereksplorasi pada masalah bentuk, anatomi, dan eksperimentasi material. Perupa yang berkecimpung di dunia ini akan membentuk karakteristik tertentu dalam karya-karyanya. Hal itu pulalah yang terjadi pada Uswarman yang memamerkan karya rupa abstraknya di Redbase, Jurug, Sewon, Bantul mulai 16 Desember 2019 – 26 Januari 2020.

Menyatukan Dua Sisi, 150 x 200 cm, AOC, 2019, karya Uswarman-Foto-A.Sartono
Menyatukan Dua Sisi, 150 x 200 cm, AOC, 2019, karya Uswarman-Foto-A.Sartono

Uswarman telah memulai kiprah keseniannya sejak 15 tahun lalu. Semula ia berangkat dan berkubang dalam periode lukisan figure, namun kemudian ia beralih ke lukisan abstrak.  Bisa dikatakan bahwa dalam proses keseniannya ia berada dalam dua periode, yakni figure dan abstrak. Periode awalnya itu turut memberi ciri khas pada karya-karya kemudian.

Dapat dikatakan bahwa Uswarman merepetisi unsur-unsur dari periode figure ke dalam karya-karya abstraknya. Ketidaksadaran estetis tersebut memberikan sebuah karakteristik yang kuat sehingga Uswarman bisa ditebak melalui garis dan warna walau dalam gaya melukis yang lain.

Ego adalah ide dalam proses kekaryaan Uswarman. Demikian seperti diungkap oleh Rizki Januar dalam tulisannya untuk mengantarkan pameran ini. Uswarman memupuk setiap hal yang memberikan bekas rasa dalam dirinya. Hal-hal tersebut bisa berupa tragedi, komedi, rasa rindu dan cinta. Dalam proses demikian Uswarman merelakan dirinya sebagai medium utama untuk menciptakan karya, sehingga sebagian dari dirinya seutuhnya sebuah lukisannya.

Suasana pameran tunggal Uswarman di Redbase-Foto-A.Sartono
Suasana pameran tunggal Uswarman di Redbase-Foto-A.Sartono

Pada rentang 15 tahun ini walaupun Uswarman melakukan gaya lukis yang berbeda, namun ia selalu menceritakan tentang dirinya sendiri. Pola semacam ini mungkin bisa dikaitkan dengan retrospeksi ataupun terapi untuk melepaskan emosi sehingga karya-karyanya bersifat sangat personal dan sulit diterjemahkan dalam kesepakatan umum tentang simbol maupun warna.

Konten Terkait:  Sosrokartono, Seorang Nasionalis yang Fasih Bicara dalam 26 Bahasa Asing
Untitled, 120 x 120 cm, AOC, 2010, karya Uswarman-Foto-A.Sartono
Untitled, 120 x 120 cm, AOC, 2010, karya Uswarman-Foto-A.Sartono

Sekalipun demikian, dalam konteks yang lain segala perasaan yang dituangkan Uswarman merupakan permasalahan sosial masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu pula karya-karya Uswarman menampung sebuah cerminan permasalahan umum yang berpusat pada dirinya. Karya-karyanya seolah seperti cermin besar di mana setiap orang bisa melihat dan kemudian memaknai diri sendiri sehingga menemukan kesadaran baru dari proses merasakan tersebut.

Pameran tunggal Uswarman ini memperlihatkan eksplorasi artistik. Dalam pameran ini pula kita dapat melihat sebuah transisi bagaimana karya-karya dari periode figure perlahan-lahan berubah menuju dan menjadi abstrak. Transisi ini memperlihatkan juga betapa tidak mudah seorang seniman menemukan pilihan visual yang tepat. Oleh karena itu pula pilihan dari figure ke abstrak bagi Uswarman bukanlah sebuah ketiba-tibaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here