Serat Centhini yang rutin dibaca dengan cara ditembangkan di Tembi Rumah Budaya setiap 35 hari sekali (selapan) masih bercerita tentang perkawinan Niken Tambangraras dan Seh Amongraga. Perkawinan itu digambarkan sangat luar biasa. Baik dari tamu yang datang, busana yang dipakai para tamu tersebut, sumbangan yang dibawa, makanan yang dihidangkan dan rangkaian acara yang dipertontonkan sejak dari malam midodareni.

Hal tersebut tidak mengherankan, menilik Ki Bayi Panurta yang empunya gawe adalah orang nomor satu di padhukuhan Wanamarta yang indah, makmur dan damai. Ia mempunyai banyak relasi, saudara, murid dan juga abdi yang hidupnya bergantung padanya. Seperti yang ditulis pada bait berikut ini.

237.Nulya ingkang pra santana prapti
samya amêrabot
Ki Sêmbagi jumênêng lurahe
kulawarganira Kyai Bayi
misan mindho sami
prênah anak putu

238.Kawandasa ingkang kulit-daging
kang tunggil bêndhoyot
Ki Sêmbagi praptèng pênyampinge
sarung lurik alus Bugis abrit
jubah ginggang lurik
kotang bênik biru

240.Kuluk bêludru wungu tinêpi
udhênge kamanyon
têsbèh bathok nyampir ing goloke
cripu linapis sangkêlat abrit
pra santana wuri
ngangge rêbat unggul

245.sarêng prapta kêtêping pêndhapi
samya lênggah lunggoh
Kyai Bayi suka sokur tyase
aningali santana mêpêki
karaos ing galih mbêrêbêl ingkang luh

Angger Sukisno mengajak para penggemar seni Macapat dan seni Karawitan gembira bersama. foto herjaka
Angger Sukisno mengajak para penggemar seni Macapat dan seni Karawitan gembira bersama. foto herjaka

Ki Sembagi sebagai lurah atau pimpinan rombongan yang terdiri dari saudara misan (satu nenek buyut)  dan saudara mindho (satu nenek canggah) dengan Ki Bayi yang jumlahnya mencapai 40 orang, datang dengan pakaian mewahnya. Ki Bayi pun gembira menyambut kedatangan saudaranya di pendapa. Mereka datang dengan pakaian terbaik serta membawa aneka bahan kebutuhan yang diperlukan. Hal tersebut dilakukan demi suksesnya pernikahan Niken Tambangraras dan Seh Amongraga. Melihat itu semua Ki Bayi Panurta pun meneteskan airmata tanda haru dan sekaligus bahagia.

Konten Terkait:  Para Peziarah Tampil di Sastra Bulan Purnama

Haru dan gembira juga boleh dirasakan oleh siapa pun yang melihat berlangsungnya acara macapatan di Tembi Rumah budaya  pada 7 Januari 2020 pukul 20.00. Terharu karena rata-rata dari penggemar macapat berumur di atas 50 tahun. Dengan kondisi fisik yang sudah semakin surut melemah mereka masih mempunyai semangat yang kuat untuk menghidupi kesenian macapat. Gembira karena dengan semangat yang ada, tembang macapat dan karawitan Jawa yang digelar dapat memberi kegembiraan kepada setiap orang.

Karawitan Langen Suka Paten Jetis Bantul foto herjaka
Karawitan Langen Suka Paten Jetis Bantul foto herjaka

Di kana; Youtube macapatan Tembi Rumah budaya dapat disaksikan kegembiraan itu. Tatkala Angger Sukisno sebagai pemandu acara mengajak para penggemar macapat, untuk nembang bersama lagu dolanan “Aja Padha Korupsi” dengan diiringi karawitan Langen Suka. Tembang tersebut ciptaan Ki Cokrowasita dari Yogyakarta, yang diciptakan pada tahun 1960-an dengan syair berikut ini:

Kuwi apa kuwi e kembang melati
Sing tak puja-puji aja dha korupsi
Merga yen korupsi negarane rugi
Piye mas kuwi, aja ngono, ngona-ngono kuwi

Lagu yang merupakan ajakan untuk merayakan kegembiraan dengan tidak melakukan korupsi menutup acara macapatan malam Rabo Pon putaran ke-180 tepat pada pukul 23.00.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here