Menurut informasi dalam buku yang disusun oleh Hermanu, dkk. yang berjudul “Suikerkultuur, Jogja yang Hilang” terbitan Bentara Budaya Yogyakarta tahun 2018, jumlah pabrik gula di seluruh Jawa pada masa kolonial mencapai 179 buah. Dari jumlah itu, 19 buah di antaranya didirikan di Yogyakarta. Jumlah itu melampaui jumlah pabrik gula yang ada di wilayah lain yang sama-sama disebut sebagai Vorstenlanden, yakni Surakarta. Surakarta hingga tahun 1921 hanya memiliki pabrik gula sejumlah 13 buah. Padahal wilayah Surakarta lebih luas daripada wilayah Yogyakarta.

Hal ini sering menimbulkan dugaan sekaligus guyonan tentang “orang Yogyakarta hampir selalu berselera manis” dalam hampir semua produk makanan mereka. Sebut saja gudeg, bakpia, geplak, yangko, aneka baceman, dan teh nasgithel (panas-legi- kenthel). Dugaan itu mengarah pada oleh karena melimpahnya produk gula di Yogyakarta, maka warga Yogyakarta lebih  banyak menggunakan gula sebagai pelengkap/bumbu bagi produk makanannya dibanding daerah lain. Tentu saja dugaan semacam ini perlu diteliti/dikaji kebenarannya.

Kompleks Puskesmas Mlati II dulunya merupakan kompleks Rumas Sakit PG Cebongan atau RS Petronela-Foto-A.Sartono
Kompleks Puskesmas Mlati II dulunya merupakan kompleks Rumas Sakit PG Cebongan atau RS Petronela-Foto-A.Sartono

Salah satu dari pabrik gula (PG) yang dulu pernah berdiri di Yogyakarta adalah PG Cebongan, di Dusun Cebongan, Desa Tlogoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman. Lokasi pabrik gula ini berada dalam satu kawasan dengan Pasar Tradisional Cebongan yang memiliki hari Pasaran Kliwon.

Lokasi bekas PG Cebongan berada di sisi selatan Pasar Cebongan pada jarak sekitar 100 meter. Lokasi bekas PG Cebongan pada saat ini digunakan menjadi gudang PT Bhanda Graha Reksa (Persero).

PG Cebongan didirikan pada tahun 1879 oleh GF Enger. Pada tahun 1880-an PG Cebongan diambil alih oleh Internationale Crediet en Handelsvereeniging Rotterdam. Sekalipun kepemilikan pabrik telah berpindah tangan, namun jabatan administrator (kepala pabrik) masih dipegang oleh keluarga Enger. Perlu diketahui bahwa salah satu anggota keluarga Enger yang menjadi administratur, yakni GF Enger Jr menikah dengan JM Raaft, putri dari pendiri PG Rewulu dan PG Sedayu.

Konten Terkait:  Di Balik Lensa Kata di Tembi
Bekas PG Cebongan yang sekarang menjadi kompleks pergudangan-Foto-A.Sartono
Bekas PG Cebongan yang sekarang menjadi kompleks pergudangan-Foto-A.Sartono

Setelah kemerdekaan PG Cebongan pernah digunakan sebagai pabrik senjata dan kamp internir (tahanan) untuk orang-orang Belanda dan Indo (blasteran). Menjelang Agresi Militer Belanda II PG Cebongan ikut menjadi korban aksi bumi hangus sebagai antisipasi agar pabrik tidak digunakan sebagai markas militer Belanda.

Bagian dari Kompleks PG Cebongan adalah Rumah Sakit PG Cebongan yang dibuka pada tahun 1929. Rumah Sakit tersebut pada waktu itu menjadi rumah sakit pegawai pabrik gula dan dioperasikan oleh Zendingziekenhuis Petronela yang sekarang menjadi Rumah Sakit Bethesda di Kota Yogyakarta. Bangunan bekas rumah sakit tersebut sekarang digunakan untuk Puskesmas Mlati II. Lokasi bekas Rumah Sakit yang menjadi Puskesmas Mlati II ini berada di sisi selatan bekas PG Cebongan dengan jarak sekitar 100 meter.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here