Di keraton baru itu apa yang dialami Puntadewa juga dialami oleh Wrekudara. Ia selalu dibayang-bayangi manusia tinggi besar persis seperti dirinya. Bahkan makhluk misterius itu bersikap lebih kasar saat mengusir Wrekudara keluar dari keraton baru itu.

Pada akhirnya Puntadewa, Pingten, Tangsen serta Ibu Kunti, Drupadi dan Wrekudara  terusir keluar keraton tanpa perlawanan. Mereka mengalami hal yang sama, begitu kaki mereka menjejak tangga terakhir di pintu keluar, keraton pun  hilang seperti ditelan bumi. Dan mereka kembali berada di hutan yang masih perawan.

Hanya ada beberapa kemah prajurit Hastina yang ditugaskan oleh Resi Bisma untuk membantu para Pandawa dalam membuka hutan. Keadaannya masih seperti sebelum ditinggal masuk keraton. Dari gelagatnya, para prajurit itu tidak tahu-menahu tentang apa yang dialami Pandawa berkaitan dengan keberadaan Keraton Mrentani.

Jika sebelumnya Wrekudara selalu melawan perlakuan tidak adil terhadap dirinya dan terlebih kepada saudara-saudaranya,  kali ini  ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena, selain lawannya tidak kelihatan, Wrekudara juga menyadari bahwa Negara Mertani bukanlah hasil dari jerih payahnya.

Walaupun begitu, Wrekudara tidak tega melihat Ibu Kunthi serta Dewi Drupadi kembali menjalani sengsara yang tak berujung. Rasa malu karena terusir dari keraton pemberian Anggaraparna, rasa marah karena menghadapi musuh yang tidak jelas dan tidak kelihatan, rasa sedih dan tidak tega menyaksikan derita Ibu Kunthi, bercampur menjadi satu di dada Wrekudara.

Hal itulah yang membuat ia bertekad membuka hutan sendirian dengan menghentakan semua kekuatan yang dapat diserap. Yang pertama ia munculkan dan gunakan adalah aji Wungkal Bener dari Gandamana. Dengan ajian tersebut Wrekudara dapat menyakini bahwa apa yang ia kerjakan adalah benar. Bukankah hutan Wanamarta sudah diberikan dan menjadi haknya. Oleh karenanya apapun yang ia kerjakan atas hutan Wanamarta adalah benar adanya. Jika ada yang menghalangi dalam usahanya membuka hutan baik yang kelihatan ataupun yang tidak kelihatan, penghalang itu salah dan wajib disingkirkan.

Yang kedua, Wrekudara juga mengetrapkan aji pemberian Gandamana yang lain yaitu Bandung Bandawasa. Dengan ajian ini, Wrekudara mendapat kekuatan sebanding dengan kekuatan seribu gajah.

Yang ketiga, sebagai saudara Dewa Bayu, Wrekudara menggunakan aji Angkusprana yang dapat menyerap serta mengetrapkan kekuatan angin. Dengan tiga ajian tersebut Wrekudara menjadi manusia setengah dewa yang hebat. Dengan waktu yang cukup singkat, ia telah berhasil membuka hutan dengan area yang cukup luas. Para prajurit dibuat terheran-heran. “Luar biasa kekuatan anak muda ini.” Mereka ikut membantu menyingkirkan dan merapikan pohon-pohon yang telah  ditumbangkan. Dalam hati mereka kawatir, jangan-jangan pohon-pohon ini berdiri lagi pada tempatnya masing-masing seperti beberapa hari yang lalu.

Namun apa yang dikhawatirkan tidak terjadi, area yang dibuka semakin luas, tidak pulih kembali. Aji Wungkal Bener telah menjawabnya, bahwa apa yang dilakukan Wrekudara adalah kebenaran. Pada kenyataannya hutan Wanamarta yang kasat mata dan kelihatan adalah milik Pandawa. Tidak ada orang lain, selain Pandawa yang berhak membuka hutan Wanamarta. Jika dibaliknya yang kelihatan ini ada kerajaan jin yang tidak kelihatan bernama Mrentani, aku tidak peduli. Tekad Wrekudara telah bulat.

Konten Terkait:  Beksan Wireng Perang di Jagad Gedhe

Beberapa hari Wrekudara membuka hutan tanpa kenal lelah, dibantu oleh Puntadewa, Pingten, Tangsen dan para prajurit. Rupanya hal tersebut menyulut kemarahan Prabu Yudistira Raja Jin dari Kerajaan Mrentani. Maka dikerahkannya para senopati pilihan yaitu Dandunwacana, Nakula, Sadewa, Sapuangin, Sapulebu, Sapujagad untuk menghetikan sepak terjang Wrekudara.

Dengan aji Angkusprana Wrekudara dapat merasakan serangan musuh melalui getar angin. Sehingga ia dapat menghindar, menangkis dan bahkan balas menyerang. Dandunwacana pun heran, orang ini tidak dapat melihat akan tetapi ia mampu melawanku dengan tangguh.

Melihat kakaknya kerepotan melawan musuh yang tidak kelihatan, Pingten dan Tangsen segera membantu. Dandunwacana tidak mau kehilangan waktu, pusaka andalan jala sutera ditebarkan, sekejap kemudian ketiga ksatria Pandawa itu tidak berdaya, terperangkap jala pusaka. Para prajurit Mrentani segera membawa mereka dan memasukannya di dalam penjara. Puntadewa, Ibu Kunti dan Dewi Drupadi mengalami kecemasan yang luar biasa, ketika Wrekudra, Pinten dan Tangsen hilang secara gaib.

Prajurit Hastina yang ada di sekitarnya merasakan hal yang sama. Mereka khawatir jika tiba-tiba dirinya diserangg oleh musuh yang tidak kelihatan dan hilang menyusul Wrekudara, Pinten dan Tangsen. Suasana sunyi mencekam. Tidak ada suara pohon tumbang, ranting patah dan daun pada rontok. Dengan hilangnya Wrekudara, kegiatan membuka hutan pun berhenti.

Hidup bagaikan cakra manggilingan, demikian pepatah luhur yang diwariskan para orang tua. Cakra adalah senjata Dewa Wisnu yang bentuknya bulat bergerigi delapan, mewakili 8 arah mata angin. Pada saat senjata dilempar oleh pemiliknya, cakra tersebut berputar seperti sedang menggiling sesuatu atau manggilingan. Ke delapan gerigi tersebut akan saling bertukar tempat, yang tadinya di bawah akan pindah diatas. Hal tersebut dapat dianalogikan bahwa hidup ini gampang berubah. Antara sedih dan gembira, antara sengsara dan mulia, antara penuh harap dan putus asa.

Sesuai dengan gambaran cakra manggilingan, saat ini Pandawa berada di gigi bagian bawah. Walaupun dalam keadaan sengsara, sedih, takut dan cemas, mereka tidak untuk putus asa. Kunthi sosok ibu yang selalu menemani anak-anaknya di jalan sengsara tidak pernah menanggalkan pengharapan di balik kesengsaraan yang ia sandang. Ada keyakinan yang amat kuat, bahwa pada suatu saat nanti keadaannya bakal berubah. Di balik kesengsaraan ada kemuliaan.

Rupanya keyakinan Kunthi akan datangnya pengharapan yang bakal merubah hidupnya telah memberi semangat anak dan menantunya untuk bertahan dalam kecemasan sampai dengan datangnya pertolongan.

Di penghujung senja, ketika kecemasan mendekati puncak, berkelebatlah bayangan yang gesit dan ringan mendekati kemah Pandawa. Arjuna!

Kunthi, Puntadewa dan Durpadi merasa lega. Kecemasan yang mendidih telah dipindahkan. Kepulangannya Arjuna merubah puncak kecemasan menjadi awal dari sebuah harapan. Senja pun akan berlalu dan malam segera tiba. Namun malam yang gelap tidak bakal menyusup masuk di hati yang benderang. Benderang karena pengharapan telah di ujung mata. (bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here