Dalam hal seni kethoprak (dan produk kebudayaan lain) Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY sejak 2019 terus bergerak untuk pengembangan dan kelestariannya. Setelah penyelenggaraan workshop kethoprak, lomba naskah kethoprak, uji pementasan kethoprak dari dua naskah pemenang lomba yang semuanya dilaksanakan di tahun 2019, maka di tahun 2020 ini Disbud DIY menyelenggarakan apa yang disebut sebagai Kethoprak Rebon, yakni pementasan kethoprak yang dilaksanakan di hari Rabu malam.

Pementasan perdana Kethoprak Rebon dilaksanakan Rabu malam, 8 Januari 2020 dengan bertempat di Gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Aris Eko Nugroho SP MSi, meresmikan pelaksanaan Kethoprak Rebon, sekaligus menyampaikan sambutan.

Bandung bermimpi berkasih-kasihan dengan Jonggrang-Foto-A.Sartono
Bandung bermimpi berkasih-kasihan dengan Jonggrang-Foto-A.Sartono

Kethoprak Rebon ini merupakan tindak lanjut dari program pengembangan kethoprak Yogyakarta yang berada di bawah Tim Pengembangan Kethoprak DIY yang dimotori oleh Bondan Nusantara dan Purwadmadi. Kethoprak Rebon ini akan dilaksanakan sepanjang tahun dengan jadwal yang sudah ditetapkan, yakni tiga kali kethoprak dan satu kali dagelan Mataram per bulan. Kethoprak Rebon yang dimainkan oleh anak-anak muda, bahkan pengrawit/pengiring pun anak-anak muda, adalah perwujudan dari apa yang disebut sebagai kethoprak milenial atau kethoprak kekinian.

Untuk pementasan Kethoprak Rebon yang pertama ini disuguhkan lakon Kukuh yang merupakan adaptasi dari naskah lakon berjudul Mawar ing Watu Candi karya Bondan Nusantara. Pada intinya lakon ini menceritakan tentang peperangan antara Kerajaan Prambanan di bawah Prabu Boko melawan Salembi yang berada di bawah Prabu Damarmaya.

Prabu Boko berperang melawan Bandung dan gugur di medan laga-Foto-A.Sartono
Prabu Boko berperang melawan Bandung dan gugur di medan laga-Foto-A.Sartono

Prabu Boko beserta seluruh bala tentaranya dapat dikalahkan oleh Bandung (putra Prabu Damarmaya). Bahkan Prabu Boko beserta putra laki-lakinya gugur di medan perang. Kemenangan Salembi oleh karena jasa dari Bandung yang sakti. Prambanan sebagai kerajaan yang kalah harus tunduk di bawah Salembi. Namun tidak demikian halnya dengan Jonggrang yang menjadi putri Prabu Boko. Ia tidak mau tunduk.

Konten Terkait:  Menikmati Seni Rupa Lewat Perangko

Celakanya, Bandung jatuh cinta pada Jonggrang. Jonggrang menampik cinta Bandung. Ia mau jadi istri Bandung asalkan Bandung mampu membuatkan seribu candi baginya dalam waktu satu malam. Hal itu disanggupi Bandung. Namun ketika candi baru selesai 999 buah, Jonggrang melakukan rekayasa menabuh lesung dan membakar jerami di arah timur sehingga langit kelihatan terang (pagi) sehingga para siluman pengikut Bandung takut dan segera bersembunyi karena disangka hari telah menuju pagi. Bandung marah oleh karena rekayasa Jonggrang sehingga dikutuklah dia menjadi arca (candi) untuk kepenuhan jumlah candi dari 999 menjadi 1.000.

Kejengkelan Bandung menyebabkan ia menyumpahi Jonggrang menjadi arca (candi)-Foto-A.Sartono
Kejengkelan Bandung menyebabkan ia menyumpahi Jonggrang menjadi arca (candi)-Foto-A.Sartono

Apa yang dikehendaki sebagai kethoprak kekinian pada pementasan ini tanda-tandanya sudah tampak. Hal itu bisa dilihat dari aspek garapan iringan, kostum, tata panggung, tata gerak/tari, peraga (yang keseluruhannya anak muda), properti, lighting, dan lain-lain yang hampir keseluruhannya menunjukkan kebaruan. Dengan demikian tampak bahwa semua aspek/elemen pembentuk pertunjukan kethoprak mendapatkan sentuhan yang cukup intensif.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here