Pabrik Gula (PG) Colomadu dulu merupakan sebuah pabrik gula andalan di wilayah Karanganyar Surakarta. Pabrik Gula yang berdiri tahun 1861 dan dulu menjadi milik keluarga besar Dinasti Mangkunegaran itu kini telah beralih fungsi menjadi sebuah museum yang cukup megah di wilayah Malangjiwan, Karanganyar, Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Lokasinya mudah dijangkau, karena terletak di Jalan Adisucipto Surakarta. Museum Colomadu, menempati tempat yang cukup luas.

Museum Colomadu yang berarti gunung madu, masih sangat kental dengan nuansa bekas pabrik gula karena memang gedungnya bekas pabrik gula. Bahkan cerobong asap pabrik gula tersebut juga masih berdiri kokoh di antara gedung-gedung yang ada.

Pengunjung berada di halaman depan museum PG Colomadu, Karanganyar-foto-suwandi
Pengunjung berada di halaman depan museum PG Colomadu, Karanganyar-foto-suwandi

Namun setelah menjadi museum, gedung bekas pabrik gula tersebut berubah drastis penampilannya, terutama dari segi keanggunan dan kebersihannya. Tidak ada lagi bekas dedaunan tebu yang berserakan di sana-sini. Begitu pula dengan tembok yang terkelupas semennya di sana-sini, sudah tidak ada.

Kini penampilan pabrik gula yang sudah menjadi museum itu begitu kelihatan cantik, anggun, dan sangat bersih. Halaman sangat luas dan kebersihannya sangat terjaga.

Sebelum Anda memasuki museum, maka perlu membeli tiket seharga Rp 35.000 per orang. Setiap pengunjung di atas umur tiga tahun harus membeli tiket. Jangan khawatir, dengan Anda mengeluarkan uang sebanyak itu, ditanggung tidak akan kecewa setelah memasuki museum. Karena di dalam setiap sudut museum suasana sangat nyaman, semua ruangan berpendingin AC, padahal gedungnya sangat luas dan besar.

Selain itu setelah Anda mengakhiri kunjungan, Anda juga bisa mendapatkan minuman kemasan dan snack secara gratis, dengan menukarkan tiket masuk. Anda bebas untuk mengambil foto di setiap sudut ruangan museum.

Pengunjung melihat maket penggilingan tebu di museum PG Colomadu-foto-suwandi
Pengunjung melihat maket penggilingan tebu di museum PG Colomadu-foto-suwandi

Selain itu setelah Anda mengakhiri kunjungan, Anda juga bisa mendapatkan minuman kemasan dan snack secara gratis, dengan menukarkan tiket masuk. Anda bebas untuk mengambil foto di setiap sudut ruangan museum.

Setelah Anda memasuki museum, pertama-tama yang dikunjungi adalah Stasiun Gilingan. Di ruangan yang cukup luas dan lapang ini kita dapat melihat bekas roda-roda besar yang dulu berfungsi untuk menggiling tebu. Kita di tempat ini bisa melihat mesin-mesin raksasa tersebut dengan jelas, karena hanya dibatasi oleh kaca bening. Namun kita tidak bisa memegang roda-roda besar itu karena batasan pagar kaca tersebut.

Ruangan selanjutnya kita bisa melihat sejarah tentang tanaman tebu dan berdirinya pabrik gula yang didirikan oleh Kadipaten Puro Mangkunegaran dari masa ke masa. Di ruangan ini dilengkapi maket pabrik gula, sehingga pengunjung bisa melihat suasana penggilingan tebu di masa lalu.

Konten Terkait:  Titimangsa Pentaskan Sumur Tanpa Dasar dengan Pemain Orang Awam
Stasiun ketelan museum PG Colomadu sekarang untuk jualan souvenir-foto-suwandi
Stasiun ketelan museum PG Colomadu sekarang untuk jualan souvenir-foto-suwandi

Menurut sejarah, PG Colomadu mengalami masa giling terakhir pada tahun 1997. Setelah itu tidak giling lagi karena masalah berkurangnya suplai tebu, alih fungsi lahan, dan krisis ekonomi. Hingga akhirnya dijadikan ruang publik oleh BUMN sebagai museum.

Upacara-upacara yang berkaitan dengan penggilingan tebu seperti cembengan, ziarah makam, kirab tebu, jamasan, dan sesaji jolen juga ditampilkan di ruangan ini. Sejarah kunjungan Raja Siam (kini Thailand) di PG Colomadu tahun 1929 juga ditampilkan.

Data produksi gula, distribusi gula ke luar negeri, dan keuntungan penjualan gula juga ada di ruangan ini. Sayangnya pada tahun 1880, PG Colomadu diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun pada tahun 1899, industri pabrik gula Mangkunegaran kembali ke tangan trah Mangkunegaran.

Pengunjung memadati ruang taman wagis wara di museum PG Colomadu untuk berselfi-foto-suwandi
Pengunjung memadati ruang taman wagis wara di museum PG Colomadu untuk berselfi-foto-suwandi

Taman Wagis Wara, yang berada di ruang tertutup dengan nyala lampu otomatis, dengan banyak lukisan menawan di dinding, juga cocok untuk berselfi. Taman Wagis Wara berarti Taman Para Raja. Banyak pengunjung yang berfoto di ruangan ini.

Ruangan selanjutnya kita akan menemukan tembang Pocung bertuliskan aksara Jawa yang ada terjemahannya. Baris pertama berbunyi ngelmu iku kalakone kanthi laku, yang artinya bahwa ilmu bisa diraih hanya dengan usaha dan berdoa.

Ruangan lain menampilkan maket PG Colomadu yang cukup lengkap, menampilkan foto jenis-jenis hama dan penyakit tanaman tebu, jenis-jenis tebu, prangko-prangko yang menggambarkan PG Colomadu, buku-buku tentang budidaya tebu, dan video tentang PG Colomadu.

Suasana stasiun penguapan di museum PG Colomadu Karanganyar-foto-suwandi
Suasana stasiun penguapan di museum PG Colomadu Karanganyar-foto-suwandi

Ruang selanjutnya kita bisa melihat Stasiun Penguapan. Banyak tabung-tabung raksasa di ruangan ini yang masih bisa dilihat. Selain itu, di tembok juga terpampang foto  pahlawan nasional berukuran besar, seperti RA Kartini, Sukarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, Kapten Pattimura, dan lainnya. Di sini juga ada kafe yang bisa dikunjungi untuk umum. Di ruangan ini tempatnya sangat luas. Banyak pengunjung yang melepas lelah di ruangan ini sambil berfoto.

Ruang terakhir kita bisa mengunjungi Stasiun Ketelan. Ruangan ini dipenuhi dengan barang-barang souvenir baju, topi, kebaya, tas dan pernak-pernik lainnya yang bisa dibeli oleh pengunjung. Pengunjung juga bisa menukarkan tiket masuk dengan minuman dan snack ringan secara gratis di salah satu stand di ruangan ini. Pengunjung yang lapar dan haus juga bisa singgah di kafe yang berada di Stasiun Ketelan ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here