Gejala-gejala alam, termasuk gejala atau tanda yang terjadi di angkasa (langit) sering membuat manusia takut, khawatir, sekaligus penasaran. Mengapa ada guntur/halilintar, mengapa awan bergerak, mengapa ada siang dan malam, mengapa pula ada gerhana (bulan dan matahari). Gejala semacam itu sering tidak hanya ditangkap sebagai gejala alam biasa.

Manusia mencoba menerka atau merangkai sesuatu serta memaknainya sebagai tanda, peringatan, atau sasmita dari dunia adikodrati. Hal ini menimbulkan sesuatu yang barangkali sesuatu itu berasal dari gagasan, imajinasi, pembayangan tertentu yang tidak atau belum sampai pada kalkulasi-kalkulasi logis. Hal demikian itulah yang barangkali kemudian memunculkan hal-hal yang bersifat mitis (bersifat mitos) dengan logika-logikanya sendiri.

Munculnya perhitungan pranatamangsa, primbon, astrologi, dan kalkulasi tertentu berdasarkan pengamatan rutin dan juga periodik barangkali memunculkan apa yang disebut ilmu titen. Ilmu titen mendasarkan diri pada gejala rutin dan periodik yang kemudian menemukan kesimpulannya berdasarkan perhitungan-perhitungan rutinitas dan periodisitasnya atau gejala-gejala yang sama (umum). Hal-hal semacam itulah yang kemudian menjadi salah satu pedoman dalam manusia menjalani hidup dan kehidupan. Baik dalam relasinya dengan sesama maupun dalam relasinya dengan alam sekitar.

Salah satu sstem astrologi yang ikut dipamerkan-Foto-A.Sartono
Salah satu sstem astrologi yang ikut dipamerkan-Foto-A.Sartono

Hal-hal tersebut selalu menginspirasi manusia untuk mempelajarinya. Manusia mempelajari pula gejala atau pergerakan benda-benda angkasa yang kemudian digunakan untuk membantu mereka dalam mengukur waktu, memandu dalam aktivitas perburuan, navigasi, dan perhitungan masa tanam. Bahkan pada gilirannya juga sampai pada menentukan prinsip-prinsip kepemimpinan      serta berusaha menjelaskan peristiwa luar angkasa.

Perihal jejak pengamatan angkasa di Nusantara telah dimulai ribuan tahun yang lalu yang salah satunya ditandai dengan lukisan gambar cadas (rock art). Manusia-manusia prasejarah menggoreskan beragam bentuk bintang, bulan, dan matahari sebagai bagian kehidupan mereka dinding-dinding gua. Hal tersebut menunjukkan ketergantungan manusia terhadap alam termasuk angkasa amat tinggi untuk mempermudah mereka mengenal tanda-tanda alam yang dapat membantu perburuan.

Konten Terkait:  Candi Kedulan Abad ke-9 Menyebut Soal Dam dan Pajak
Terbitnya Lintang Waluku dianggap bahwa pertanda masa tanam telah tiba, Foto-A.Sartono
Terbitnya Lintang Waluku dianggap bahwa pertanda masa tanam telah tiba, Foto-A.Sartono

Ilmu tentang tata letak bintang yang diimajinasikan membentuk konfigurasi makhluk tertentu atau bentuk tertentu dan kemudian dianggap memiliki pengaruh terhadap sifat manusia sesuai dengan tanggal atau waktu lahirnya kemudian melahirkan ilmu tentang perhitungan musim dan juga astrologi.

Astrologi pada masa lalu menjadi bagian dari ilmu astronomi purba karena kepercayaan masyarakat yang menganggap bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta ini. Sementara peristiwa-peristiwa yang terjadi di bumi dipercaya telah digariskan dan dapat dibaca melalui pergerakan bintang, bulan, dan matahari.

Audio visual yang menceritakan tentang Kalarahu atau mitos gerhana juga dipamerkan-Foto-A.Sartono
Audio visual yang menceritakan tentang Kalarahu atau mitos gerhana juga dipamerkan-Foto-A.Sartono

Hal-hal inilah yang menjadi tema utama dalam pameran temporer Museum Sonobudoyo tahun 2019. Secara spesifik tema tersebut dirumuskan sebagai Angkasa Raya Ruang dan Waktu: Membaca Langit Menebak Pertanda. Pameran temporer berlangsung mulai 10 Desember 2019 – 10 Februari 2020. Pelaksanaan pameran dilakukan di Gedung Pameran Temporer (eks KONI), Jl Pangurakan, Yogyakarta. Pameran temporer yang diselenggarakan dengan dana keistimewaan ini juga dilengkapi dengan diskusi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here