Secara khusus seniman-seniman yang berasal dari Bali dan tergabung dalam Sanggar Dewata Indonesia melakukan pameran seni rupa dengan nuansa hitam-putih untuk keseluruhan karya yang dipamerkan. Pameran tersebut diselenggarakan di Bale Banjar Sangkring dan Sangkring Art Project, Yogyakarta. Pameran bertema Samasta dilaksanakan sejak 15 Desember 2019 – 22 Januari 2020. Pameran ini dibuka oleh Butet Kertaredjasa serta dimeriahkan oleh Tari Panyembrama, Tari Joged, dan Rogone Mbah Bedjo. Kris Budiman dan I Gede Arya Sucitra bertindak sebagai penulis untuk pameran ini.

Konsepsi hitam-putih yang menjadi pilihan untuk karya yang dipamerkan merujuk pada konsepsi atau pandangan yang dalam kebudayaan Bali disebut sebagai rwa bhineda. Dalam kebudayaan lain konsepsi semacam ini mungkin mirip dengan yin dan yang, loro-loroning atunggil, dan seterusnya yang pada prinsipnya mengacu pada pengertian tentang dua hal yang berbeda namun tidak terpisahkan. Ada siang ada malam. Ada hitam ada putih. Ada wanita ada pria.

Konsepsi tersebut, seperti tulisan Kris Budiman, termanifestasikan mulai dari artefak sampai dengan sistem kepercayaannya. Produk budaya yang paling simpel, jelas, namun serba meliputi dalam menghadirkan rwa bhineda adalah kain poleng yang tercukupkan dengan pola hitam putih berselang-seling, meskipun masih ada varian-variannya.

Pencerahan (Enlightenment), OOC, 250 x 200 cm, 2019, karya Pande Gotha Antasena-Foto-A.Sartono
Pencerahan (Enlightenment), OOC, 250 x 200 cm, 2019, karya Pande Gotha Antasena-Foto-A.Sartono

Konsepsi rwa bhineda (hitam putih, baik buruk, plus minus, dan seterusnya) itu sesungguhnya berpotensi menjadi kiasan yang bukan semata-mata berlawanan, melainkan saling melengkapi. Bahkan meluangkan area abu-abu. Hal-hal semacam itulah yang mendasari dipamerkannya karya seni rupa para seniman SDI di Bale Banjar Sangkring dan Sangkring Art Project.

Konsepsi hitam-putih, seperti tangkapan Kadek Marta Dwipayana dimiliki oleh semua orang. Kadang-kadang orang menghakimi orang lain dan berargumen atas baik buruknya seseorang. Bahkan berani men-judge seolah dirinya yang paling benar sedangkan yang tidak sependapat adalah salah. Namun pada saat yang bersamaan ada ketidaksadaran akan sisi buruk bisa saja tercermin. Hal itulah yang dihadirkan Kadek dalam karyanya yang berjudul Judgement #1-6.

Konten Terkait:  Prambanan World Heritage Expo Dimeriahkan Aneka Kegiatan Seni

Nyoman Darya dalam karyanya Night Side memaknai malam sebagai keteduhan di mana di sana hampir semua makhluk melepaskan emosinya untuk kembali dalam pelukan kelelapan seperti bayi yang tidur pulas. Hitam malam memberikan perimbangannya pada siang yang “putih” untuk membawa raga berkontemplasi ke sisi teduhnya malam yang penuh makna.

Sandaran Hati, painted fiberglass, 130 x 55 x 105 cm, 2019, Karya Putu Adi Gunawan-Foto-A.Sartono
Sandaran Hati, painted fiberglass, 130 x 55 x 105 cm, 2019, Karya Putu Adi Gunawan-Foto-A.Sartono

Ign Tri Marutama dalam karyanya yang berjudul Samudraraksa menggambarkan bahwa perahu ibarat sebuah bangsa atau negara yang mewadahi rakyatnya untuk menuju kepada kejayaan masa depan. Rakyat atau warga bangsanya tentu saja terdiri dari bermacam-macam hal yang satu sama lain pasti berbeda. Namun perbedaan itu bukanlah alasan untuk saling bertentangan. Perbedaan itu adalah kemajemukan untuk saling melengkapi sehingga menjadi jalinan yang warna-warni, indah, dan kuat.

Sebagai elemen bangsa hendaknya semuanya bisa saling mendukung dan bekerja sama dalam mengarungi setiap tantangan untuk menuju kejayaan bersama, yaitu sebagai satu bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera. Tafsir atau pemaknaan atas tema besar ini oleh masing-masing perupa tentu saja bisa berbeda-beda. Isi semesta adalah keragaman dan aneka perbedaan. Itulah yang menjadikannya indah, dinamis, dan kaya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here