Puisi Maulidan Rahman Siregar

0
108

Seekor Naga

kepada; Ev

seekor naga muncul dari mulutmu
dan membakar seluruh buaya
pun juga seekor babi: aku
kau mulai menyiapkan banyak bumbu

kau berlindung di antara banyak hukum
dan petuah nabi-nabi,

ketika kau tanya kenapa aku membencimu
dalam hati, kujawab aku sudah punya pacar,
sama, pacarku juga muncul dari mulutmu

setiap hari, kita akan menanam banyak benci
sambil berulang menyebut kata cinta
hingga seluruhku, lumat remuk
di pipimu yang aduh,
terbakar, mati, aku!

2019

Perempuan-Perempuan Gabut

dia akan kebangun pukul tiga pagi
dan membukakan pintu,
dia akan menyebut, hai hai hai
dan kau menimpali dengan.
“hai hai hai, juga”
kadang dia bertanya kau berumah di mana
kau bilang, kau berumah di hatinya
tapi, tidak hanya kau di situ!
di sana juga banyak buaya sepertimu,
banyak serigala, dan sekaligus pemburu
yang akan mencekam dirimu
tapi, perempuan gabut itu punya banyak
cara, agar kau tetap di sana
ia punya banyak lagu dan puisi!
kau ingin tidur, tapi tidak tidur
kau bermimpi, tapi tidak jadi
sebab, di depan pintu telah menunggu
seorang om-om, dia akan membakar
rumahmu, dan membunuh seluruh
isi rumah, sebab kau, gabut semata
kau ingin segera keluar dari rumah,
tapi tubuhmu, internet belaka
kau terus sembunyi di banyak aplikasi

2019

Tidur /2/

dalam tidur,
kau menari telanjang
pakaianmu, jadi
pakaianku. kau kilau
cahaya, dilampisi doa-
doa. basah semesta!
lebur hancur aku
mabuk berkali-kali

2019

Mencintaimu Pakai Tanda Seru

meski foto selfie-mu tak lagi untukku
meski status facebookmu tak lagi
ada aku, meski kita sudah tidak lagi
video call, meski seluruh puisi yang
kau tulis jelek semua, meski kau
kadang tak ada di internet, meski kau
tidak pernah lagi menyuruhku salat,
bertanya kabar, menyuruh mandi
dan makan, meski kau lebih percaya
media daring, meski kau selalu bunyi!

Konten Terkait:  Uji Pentas Ketoprak dari Naskah Pemenang Sayembara yang Diselenggarakan Tim Pengembangan Ketoprak DIY

meski ketika kusuruh nyanyi kau tak
mau, meski kau sok oke, meski kau
tidak salat Jumat hari Jumat, meski
kau lebih memilih toilet perempuan,
meski kau bilang tidur lebih nyaman
nggak pakai beha, meski capresmu
prabowo, meski kau jauh di sana, aku
akan gini-gini doang: mencintaimu!
mencintaimu sampai besok. besok
akan selalu besok!

2019

Alangkah Gaya

kau mendengar bunyi azan
ketika sedang di dalam wc,
kau kemudian berwudlu
dan langsung ke toko buku.

di toko buku kau
mengaduh, duh hidup
alangkah panjang, buku-
buku alangkah tebal,
alangkah mahal.
kau menyebut nama Tuhan
dan ingat, kau meminta
agar jangan mati dulu, dan
segera pulang menemui ibu

keluar dari toko buku, kau
mendapati semua orang
sedang sembahyang di jalan
raya, kau mengaduh kedua
kalinya,
“ya Tuhan, ya Tuhan”

2019

Maulidan Rahman Siregar
Maulidan Rahman Siregar

Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang, Sumatera Barat, 03 Februari 1991. Ia menulis puisi dan cerpen di berbagai media. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018) dan Menyembah Lampu Jalan (2019).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here