Bagi perupa pameran adalah kesadaran diri untuk menunjukkan hasil karya, mengasah mental agar berani tampil, menyampaikan gagasan dan sekaligus mempertanggungjawabkannya di hadapan publik.

Dari peristiwa pameran yang kemudian diapresiasi oleh pengunjung (apresian), maka perupa akan mendapatkan respons balik bagimana kira-kira hasil karya dirinya menurut pandangan atau kaca mata apresian. Perupa dapat memperoleh segala sesuatu yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi proses kreatifnya berikutnya untuk menuju pada hasil karya yang jauh lebih baik dan semakin diakui banyak orang. Dengan pameran itu pula perupa menantang dirinya untuk kemudian mengetahui letak kekuatan dan kelemahannya sendiri.

Dengan semangat itulah Jurusan Seni Murni Angkatan 2015 Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menyelenggarakan pameran bersama dengan tema Pertamax. Pameran diselenggarakan di Galeri RJ Katamsi pada tanggal 14-28 Desember 2019. Sebagai perupa muda mereka ingin mengekspresikan segala kegelisahan estetiknya dalam kegiatan bersama, yakni pameran.

Jati Diri Anoman, 230 x 250 x 150 cm, Hardboardcut on Fabric, 2019, karya Anjastama HP-Foto-A.Sartono
Jati Diri Anoman, 230 x 250 x 150 cm, Hardboardcut on Fabric, 2019, karya Anjastama HP-Foto-A.Sartono

Tema Pertamax mengacu pada niatan, tekad yang kuat untuk menjadi yang pertama, utama, dan saling memacu seluruh daya satu sama lain untuk tampil bersama di hadapan publik. Seperti diketahui, pertamax adalah bahan bakar minyak yang mampu menerima tekanan pada mesin berkompresi tinggi, sehingga dapat memicu kecepatan yang lebih optimal dibandingkan jenis BBM lain.

Dalam khasanah kesenian (seni rupa) percepatan perubahan dunia berkesenian juga tidak lagi linier. Ilmu pengetahuan, teknik, dan wacana-wacana kebaruan menjadi aspek dasar yang penting dalam proses penciptaan seni agar relevan terhadap laju gerak zaman.

Mengasuh, 100 x 150 cm, Woodcut Print on Canvas, karya Nugroho Hilman Habibi-Foto-A.Sartono
Mengasuh, 100 x 150 cm, Woodcut Print on Canvas, karya Nugroho Hilman Habibi-Foto-A.Sartono

Pameran ini menjadi penting sebab sebagai ajang untuk ikut berkontribusi dalam merefleksikan dan menafsirkan berbagai peristiwa dan gagasan ke dalam bentu bahasa rupa. Hal ini juga merupakan wujud pengupayaan para perupa dalam membangun roadmap dari sisi seni rupa yang terintegrasi untuk mengimplementasikan strategi berkesenian dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 ini.

Konten Terkait:  Kuliner Centhini Tembi, Kenikmatan Eksotisme Kuliner Jawa Masa Lalu
Skenario, 130 x 100 cm, AOC, 2019, karya Landha Bellamora-Foto-A.Sartono
Skenario, 130 x 100 cm, AOC, 2019, karya Landha Bellamora-Foto-A.Sartono

Diharapkan pameran ini mampu memberikan warna baru bagi dunia seni dan melahirkan karya-karya yang relevan bagiĀ  masa yang selalu mengalami perubahan. Bahkan perubahan yang demikian cepat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here