Sukses dengan karya “Setan Jawa”, sebuah film bisu dengan orchestra gamelan yang telah dipentaskan di berbagai ajang seni bergengsi dunia, Garin Nugroho kembali dengan karya terbarunya “Planet – Sebuah Lament” berupa rangkaian tarian kontemporer yang akan ditampilkan di Teater Jakarta, Taman Ismail marzuki pada tanggal 17-18 Januari 2020, yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, Arts Centre Melbourne dan Asia TOPA.
Ditemui di Studio Tari Salihara, Pasar Minggu, medio Desember 2019, Garin mengungkapkan karyanya ini dibuat dalam rangka menyambut tahun 2020, di mana isu rusaknya lingkungan adalah realita yang akan disorot sepanjang tahun 2020. “Bencana alam begitu banyak terjadi dan dialami di seluruh dunia, kemudian energi diperbaharui, jadi bencana, energi dan pangan akan menjadi isu luar biasa di dunia,” paparnya.

Sesi Latihan The Planet - Sebuah Lament foto - Image Dynamic
Sesi Latihan The Planet – Sebuah Lament foto – Image Dynamic

Menurut Garin, Pertunjukan ini akan mengisahkan ratapan alam karena keserakahan manusia yang menghancurkan alam, era ketika bumi dipenuhi benda-benda perusak lingkungan dan menjadi monster yang tidak pernah mati. Sebagai konsep visual, pertunjukan ini akan berkolaborasi dengan perupa dari Yogyakarta, Samuel Indratma.

Mengusung perpaduan budaya dari Indonesia Timur (Melanesia), Garin mengombinasikan elemen pergerakan tubuh dari tradisi Nusa Tenggara Timur hingga Papua dengan gerak tablo dan tubuh, yang dikoreografi oleh Otniel Tasman dan Boogie Papeda. Penari yang terlibat dalam pertunjukan ini adalah Boogie Papeda, Douglas D’Krumpers, Pricillia EM Rumbiak, Bekham Dwaa dari Papua dan Rianto dari Solo.

Gerakan ritmik para penari akan diiringi musik yang digarap oleh 3 komposer muda, yaitu Septina Layan, Taufik Adam, dam Yadi Anugerah yang akan dilengkapi dengan lantunan 5 lagu lament (lagu ratapan) oleh paduan suara Mazmur Chorale dari Kupang yang pernah menjadi juara World Choir Games 2014 di Latvia.

Konten Terkait:  Menikmati Alunan Akordeon dalam Berbagai Nuansa
Garin Nugroho Menceritakan Proses Karya Planet - Lament di Teater Salihara foto - Image Dynamic
Garin Nugroho Menceritakan Proses Karya Planet – Lament di Teater Salihara foto – Image Dynamic

Proses kerja pertunjukan ini sudah memakan waktu selama dua tahun. Mengapa begitu lama? Menurut Garin, proses riset cukup memakan waktu karena ia harus mencari grup paduan suara yang bisa membawakan lagu-lagu pentatonik, juga pemilihan lagu-lagu lament yang sekiranya pas untuk pertunjukan ini.

Selain dipentaskan di Jakarta, karya ini akan menjadi karya pembuka dalam ASIA TOPA (Asia Pacific Triennial of Performing Arts) pada Februari 2020 di Melbourne, Australia. Tiket pertunjukan di Jakarta bisa dibeli melalui loket.com dan Go-Tix dengan harga Rp 250.000 – Rp 1.000.000.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here