Puisi Chairul Anwar

0
108

Perempuan  Bermata  Sihir

Hujan air  mata membanjiri  sungai di pelupuk mata
Engkau  biarkan   cintaku  padamu   terus mengalir ke hilir
Tetapi tak sampai membasuh daun-daun dan bunga.  Hanya jelaga
Perempuan  bermata sihir telah    menunggumu di pinggir

Semestinya engkau  mau  diam sejenak  mengenang kasih sayang
menyatu   dalam   indahnya malam  ketika  kau ada di sisiku
Kau sambut tulus cintaku kau peluk erat tubuhku dan aku melayang
Kau bisikkan  kata-kata indah  perhiasan  dunia  dan aku  membeku

Perempuan bermata sihir itu dulu  pernah  berkata
Jangan pernah kau izinkan orang lain menyakitimu
Karena akan membuat senyum dan harapan  sirna
Dan kau  kehilangan. Kehidupanmu sepahit  empedu

Perempuan bermata  sihir  bikin  kekasihku  tak berdaya
Kata-katanya kini  berubah jadi  muntahan lava bencana
menerjang mimpi indahku. Kata-katanya kini pada kekasihku
bujuk rayu hancurkan harapanku. Dalam kesendirian aku termangu

Yogyakarta, 2019

NKRI

Seekor burung parkit bertanya kepada burung elang
Mengapa engkau masih saja mau jadi lambang negeriku
Burung Elang terbata-bata menjawab dengan suara sumbang
Aku harus menjaga semangat negeri ini tetap bersatu
Terbang  tinggi menghalau petir dan badai menggelombang
Suara-suara perpecahan menggelegar  mau merobohkan dinding batu

Jangan biarkan  keringat dan darah pahlawan  bercucuran sia-sia
Jangan biarkan  gelombang  deras menerjang  negara kesatuan
Merah darahmu  meneteskan semangat damai walaupun berbeda
Putih tulangmu kokoh kuat bertahan melawan  serangan kerusuhan

Yogyakarta, 2019

Singa Ompong

Seekor anak Singa bertanya kepada ayahnya
Mengapa akhir-akhir ini tak tampak  tersenyum
Singa tua itu menyahut dalam senyum dikulum
Karena aku bukan lagi  ayah yang  mengisi hidupmu
Aku adalah aku yang bukan mencintai  dunia apa adanya

Singa kecil itu  mengeluh merasa  diabaikan
Aku bukan bagian penting dalam hidupmu
Tapi kamu  adalah alasanku tak bisa terus bertahan
dalam deras  kehidupan  bikin  aku  mati  beku

Jangan berkata aku  terbelenggu dalam angan-angan
Kapan waktu  dunia ini tidak ada fitnah dan bohong
Pasti  akan datang. Singa tua berkata jangan melolong
Sebuah harapan perlu diperjuangkan bukan khayalan
Supaya tak berujung sia-sia.Tapi Aku tak bisa bertahan
dalam  dunia yang apa adanya, kata singa tua dan ompong

Yogyakarta, 2019

Suatu  Sore di Hutan  Rimba

Suatu sore seekor  babi  betina menanyakan anaknya ke mana
Babi jantan menjawab mungkin pergi mencari kebahagiaan yang hilang
Babi betina terkejut mengapa kata-kata suaminya terdengar sumbang
Suaminya  menyahut,  hingga waktunya tiba nanti suaraku  berirama

Kebahagiaan yang kita tunggu adalah menghalalkan semua cara
Apa saja mau dimiliki karena itu  cita-cita yang  lama kita pendam
Kini terukir dibentuk  dalam selembar  Surat  Keputusan  berharga
Jadi jangan mainkan lagi lagu lama. Apalagi gurindam  terbenam

Tapi aku  ingat anakku.  Rindu  dendam   hati ini, kata babi betina
Hasratku  ingin bertemu. Tetapi kau  hanya  melihat harta dan tahta
Kita ini  babi hutan  berada dalam dunia yang berbeda
Kita hadir di  gerbang dunia maya, kata babi jantan berbusa-busa
Apa beda babi dan manusia? Kata-kata manis dan jorok siapa sangka

Setiap waktu  mulut kita  mengaduk kata-kata terasa sesuai logika
Tapi akal sehat hilang entah ke mana? Anak babi hutan  ke mana?
Dan kita selalu berkata setia dan bela rakyat jelata kapan saja
di mana saja?

Yogyakarta, 2019

Kutulis

Kutulis rasa gelisah hati di malam gelap  dan hening
Mungkin tak berarti  karena hanya lamunan dalam selembar kertas
Tapi ini adalah lukisan api cintaku  kepadamu  merah  dan kuning
Terbakar ketika memandang potretmu berdiri di tepi sungai deras

Di ujung malam paling sepi mengalir gairah  pelan tapi pasti
Tiba-tiba potret itu menyeberangi air sungai cokelat ke sisiku
Deras air sungai bergolak menerjang batu kali rapat menyatu
Deras gairah kita bersama bergolak menggugah hasrat di hati

Ketika air dari langit jatuh menimpa sisa-sisa rokok terburai
Air coklat keruh meruh  menggenang dan mengalir menerpa
potretmu  membawa sisa senyumanmu dalam ilusi  kecewa
Kepalaku kepentok penyangga  jembatan. Lamunanku cerai- berai

Yogyakarta  2019

Cahirul Anwar
Cahirul Anwar

Chairul  Anwar bekerja sebagai pengajar di Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Ia meluncurkan buku puisi berjudul “Investigasi Pohon-pohon” di Tembi Rumah Budaya bulan September 2019. Aktif menulis karya sastra berupa puisi, novel, cerpen, naskah drama, dan fragmen komedi, juga beberapa kali sebagai sutradara pementasan drama karyanya sendiri. Aktif juga menulis artikel ilmiah di jurnal terakreditasi berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Konten Terkait:  Makna Mendalam ‘Hom Pim Pah’ dalam Iringan Musik Tradisi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here