Pertunjukan musik bertajuk ‘Meraga Mantra’ oleh kelompok musik Jatiraga dari Yogyakarta meramaikan Galeri Indonesia Kaya, Minggu, 8 Desember 2019. Mereka menyajikan komposisi musik dalam bentuk-bentuk perjumpaan musikal yang dibungkus dalam sebuah pembacaan narasi sastrawi tentang kebangsaan.

Narasi dan repertoar yang tersaji, diandaikan sebagai sebuah kesatuan mantera yang dirapal demi menjaga suburnya cinta kasih dan kemanusiaan di hari-hari bangsa Indonesia yang semakin sesak dengan pertikaian.

Selama kurang lebih 60 menit ada lima repertoar dibawakan oleh Jatiraga, antara lain Lampor Kendeng. Kutut Manggung, Kudung Lembayung, Caplokan dan Jatiraga. Selain membawakan lagu tersebut, pertunjukan itu disisipkan pembacaan narasi yang berkaitan dengan lagu.

“Jika ada yang bisa aku titipkan kepadamu, maka itu adalah rindu
Jika ada yang layak aku tinggalkan untukmu, maka itu adalah rindu
Jika ada yang pernah aku harapkan darimu, maka itu jugalah rindu
Jika ada yang mungkin tersisa darimu, maka itu hanyalah rindu
Tapi Benarkah itu? Selama ini kita hanya kian saling menjauh
Menjauh dari diri, dari waktu, dari mimpi merah putih tanpa biru”

Itu sepenggal narasi yang dibawakan Jatiraga dari beberapa narasi yang dibacakan sepanjang pertunjukan.

Jatiraga Mengusung Musik Tradisional Modern foto - Dok.Pri
Jatiraga Mengusung Musik Tradisional Modern foto – Dok.Pri

Jatiraga merupakan band asal Yogyakarta yang di bentuk pada tahun 2016, bertepatan dengan ujian akhir pemain gitar elektrik Jatiraga, Ragipta Utama di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Jatiraga adalah band dengan spiritualitas kontemporer yang menggabungkan musik tradisional dengan yang modern.

Nama Jatiraga diartikan sebagai ‘kesejatian diri’, yang mencerminkan dinamika kehidupan masyarakat di era kontemporer. Dengan bertolak dari gagasan bahwa realitas tak lain merupakan sebentuk percampuran (hibriditas) berbagai elemen sosio-kultural yang berbeda, setidaknya modernitas dan tradisionalitas.

“Jatiraga meyakini bahwa setiap bentuk budaya manapun yang kita pelajari, selalu menyatu dengan semangat hidup yang kita warisi dari tradisi dan laku hidup masyarakat yang melahirkan dan membesarkan kita, “ ungkap Zuhdi vokalis Jatiraga.

Konten Terkait:  Kangsadewa Gagal Total Merebut Tahta

Dilatari dari semangat tersebut, musik Jatiraga menghadirkan keragaman pertemuan antara musik modern dan tradisional, antara synthesizer dan gendang, scream vocal dan seruling bambu, dan banyak lainnya.

Jatiraga Usai Tampil di Galeri Indonesia Kaya foto - Titien Natalia
Jatiraga Usai Tampil di Galeri Indonesia Kaya foto – Titien Natalia

Personil Jatiraga terdiri dari Zuhdi Siswanto (vokalis), Yulius Andar Prabowo (drummer), Ivan Hendriansyah (pemain terompet atau alat tiup lainnya), Rudy Yatmoko (pemain kendang /perkusi), Antonius Ragipta Utomo (gitar elektrik / backing vocal), M. Sutan Mulia Harahap (pemain bass elektrik), Alfius Charis Juliantara (road manager), dan Christian Pisteosa (soundman).

“Meraga Mantra” merupakan suatu doa untuk mewakili berbagai kemungkinan akan keberagaman dan kebersamaan. Jatiraga berharap, pertunjukan itu bisa diapresiasi oleh berbagai komponen masyarakat dan para pegiat kebudayaan, demi terbangunnya dialektika dan hubungan kreatif.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here