Tim Pengembangan Ketoprak DIY di bawah naungan Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) DIY terus melakukan upaya-paya demi lestari dan berkembangnya kesenian tradisional Jawa, ketoprak. Setelah serangkaian kegiatan berupa workshop dan sayembara penulisan naskah lakon ketoprak, Tim Pengembangan Ketoprak DIY membentuk tim untuk melaksanakan uji pementasan berdasarkan naskah-naskah lakon ketoprak yang memenangkan sayembara tersebut.

Dua lakon yang diujipentaskan adalah naskah berjudul ‘Upama’ karya Alfian Anggoro Mukti dan naskah berjudul ‘Grahana ing Bumi Perdikan’ karya Joko Dwi Andono. Lakon ‘Upama’ mengisahkan tentang hal-ihwal Senopati Boko, Rakai Pikatan, dan Pramudhawardhani. Inti dari cerita ini adalah penyatuan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Sedangkan lakon ‘Grahana ing Bumi Perdikan’ mengisahkan tentang Mangir-Senapati dan berakhir dengan takluknya Mangir.

Senapati Boko menentang pentahtaan Rakai Pikatan dalam lakon Upama-Foto-A.Sartono
Senapati Boko menentang pentahtaan Rakai Pikatan dalam lakon Upama-Foto-A.Sartono

Uji pementasan dilaksanakan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Minggu malam, 1 Desember 2019. Secara tidak terduga hampir semua kursi terisi oleh penonton, dan yang lebih mengejutkan lagi, 90 persen penonton merupakan anak-anak muda yang akrab dengan dunia digital.

Bisa dikatakan juga bahwa seluruh pemain, iringan, dan komponen pementasan yang lain diperankan oleh anak-anak muda. Seluruh pemain merupakan gabungan seniman dan seniwati muda empat kabupaten dan satu kota: Gunung Kidul, Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Yogyakarta. Pementasan ini pun lain daripada pementasa ketoprak yang pernah ada yang kemudian disebut sebagai Ketoprak Milenial dengan penggunaan teknologi multimedia.

Ki Ageng Mangir marah besar setelah tahu bahwa Rara Pembayun adalah telik sandi Mataram-Foto-A.Sartono
Ki Ageng Mangir marah besar setelah tahu bahwa Rara Pembayun adalah telik sandi Mataram-Foto-A.Sartono

Dalam kesempatan itu hadir  Rully Andriadi SS selaku Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra dan Permuseuman  dan 10 orang pemenang sayembara penulisan naskah ketoprak. Dalam sambutannya mewakili Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Rully menyatakan bahwa uji pementasan atas dua naskah pemenang sayembara ketoprak merupakan upaya nyata dari pemerintah bersama-sama dengan masyarakat untuk terus mengembangkan ketoprak.

Konten Terkait:  Kustomfest di Yogyakarta, Lebarannya Para Pegiat Kustom

Penggunaan teknik video untuk visualisasi setting, pembayangan akan peristiwa, tokoh tertentu, dan lain-lain yang memang tidak dikehendaki hadir fisiknya pada banyak sisi memang cukup membantu dan tampaknya lebih praktis. Akan tetapi kekurangcermatan perekaman setting yang akan digunakan untuk disinkronisasikan dengan latar waktu atau masa yang dituntut oleh naskah menjadikannya terkesan anakronis.

Dipakainya iringan yang menggunakan nada diatonis pada satu sisi memang membantu, namun bisa juga menjadi kendala bagi imaji dan emosi penonton jika tidak tepat diterapkan dalam pengadeganan.

Para pemain uji pementasan naskah kethoprak pemenang sayembara Disbud DIY di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta-A.Sartono
Para pemain uji pementasan naskah kethoprak pemenang sayembara Disbud DIY di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta-A.Sartono

Terlepas dari beberapa kelemahan, semangat, tekad, greget, kreativitas, dan kecintaan anak-anak muda terhadap kesenian ini yang ditunjukkan dengan keterlibatan dan kinerja mereka, hal itu sangat membanggakan. Masa depan kesenian ketoprak secara bertahap telah berada di tangan mereka. Pemeliharaan dan pengembangan akan hal itu senantiasa selalu perlu dilakukan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here