Puisi Sahaya Santayana

0
248

Di Sepanjang 1

di sepanjang langkah
jalan menghampar senja
juga satu arah kita mencari
dan menanti kepulangan

kedatangan yang silih berganti
aku duduk menghayati pertemuan
dan memuncak seperti keramaian
yang waktu itu mendampingimu

terasa kemarin dalam percakapan
menuntun jelang malam hari-harimu
tak dapat menyaput apapun

seperti kain yang menutupi rambutmu
adalah sebagai tanda bahwa aku
tak ingin lepas dari ingatanmu

Astana Gede, Kawali 2019.

 

Di Sepanjang 3

bahkan aku ingin memahat
sebuah sajak dan meletakkannya
tepat di batinmu yang sekali
sebagai cerita sebelum pagi tiba

saat itu bulan begitu purnama
lalu dingin membuat gigil badan
di antara ritual juga penyucian
diterangi damar dan wangi dupa

masih ingatkah di sela keramaian
kita membuat jejak menjadi sajak
dan merasakanmu adalah kehadiranku

mendamping dalam hening malam
susuri ketenangan sampai kesendirian
mengantarmu serupa sepi yang harus ditemani

Astana Gede, Kawali 2019.

 

Di Sepanjang 4

aku tulis surat ini
berawal di ranum matamu
seperti surya yang terbit
menyembulkan bahasa lain dari sunyi

terkapar aku melihat ketenanganmu
yang tak bisa diulang kalbu
di bawah langit Kawali saat pagi
dimana kabut menyampurkan kata-kata

aku menghayati daun-daun gugur
sebagai penantian yang dalam
memayungi diam tatapan

aku membaca prasasti-prasasti
sebagai penanda juga mengkristal di hati
yang menuntun kita menuju kerinduan

Astana Gede, Kawali 2019.

 

Di Sepanjang 6

aku melihat ke belakang
jalan yang pernah kita lalui
semakin berat dan menanjak
pada tulisan yang buntu

aku susuri kembali diri
malam terasa tawar juga asing
oleh tenaga yang selalu dihabiskan
sunyi di keringat sendiri

aku masih tak menemukan aku
di tengah belantara waktu
yang bersandar di tanah

Konten Terkait:  Rani Kurniawati Berambisi Jadi Mumpuni

aku memejamkan mata dan langit
seperti halnya mengingatmu juga
memulainya dengan kata-kata baru

Astana Gede, Kawali 2019.

 

Di Sepanjang 8

aku lebih merenungi
dingin memeluk badan
malam yang sudah sampai di tengah
terasa hangat di dekat apimu

percik-percik unggun
melayang dari lingkaran
keramaian kitari kekhusyukkan
saling menyanubari

aku lebih menghayati
saat keringat ada di pelipismu
dan kusapu menjadi lembaran sajak

sebagai bunga yang diingat hari
di sela semak belukar dan gugur daun
menyemai perpisahan kita

Astana Gede, Kawali 2019.


Sahaya Santayana, lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Desember 1995. Menulis puisi sejak tahun 2014, di samping itu juga aktif melakukan kegiatan Satu Jam Sastra di Taman Kota Tasikmalaya. Antologi Bersama antara lain : Jejak Cinta Di Bumi Raflesia (2018), Jejak Hang Tuah Dalam Puisi (2018), Bulu Waktu (2018), Bulan-Bulan Dalam Sajak (2018), Sajadah (2019), dan Risalah Api (2019), Dari Negeri Poci 9 : Pesisiran (2019), Membaca Asap (2019), Gestur Sajak Juara (2019), Suara dari Jiwa (2019), Jazirah Melayu dalam Puisi (2019). Puisinya pernah dimuat antara lain di : HU Kabar Priangan, Radar Tasikmalaya, HU Rakyat Sultra, Kuluwung.com, Koran Merapi, Magelang Ekspress, Solopos, Radar Banyuwangi. Sekarang ia tinggal di Kota Tasikmalaya. E-mail : [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here