Sebagian Kisah dari Bencana Dahsyat Tsunami Aceh Desember 2004

0
76

Tsunami dalam bahasa Jepang berarti ombak yang berlabuh. Bila kekuatannya wajar akan terasa dan terlihat indah. Tetapi bila berkekuatan besar maka bencana yang terjadi. Dan pada tanggal 26 Desember 2004 Aceh mengalami bencana tersebut. Gempa besar yang berpusat di laut menjadi penyebab tsunami. Gelombang dengan  kecepatan 480-490 km per jam meluluhlantakan daratan sepanjang pesisir beserta isinya. Banyak perkampungan hilang. Di Banda Aceh gelombang menyambar hingga 6 km ke daratan.

Begitu bencana ini diketahui masyarakat luas solidaritas pun muncul. Relawan berdatangan baik secara perseorangan maupun terorganisasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Minggu-minggu pertama adalah saat-saat yang berat. Mereka harus bekerja ekstra keras mencari dan mengubur korban yang meninggal, membantu korban yang hidup dengan luka fisik ringan sampai berat dan yang jelas adalah luka batin yang hebat.

Para relawan bekerja dalam situasi yang serba terbatas: transportasi, komunikasi, situasi yang mencekam, lingkungan yang tidak sehat, makanan yang terbatas dan lain-lain. Biaya hidup pun menjadi berkali-kali lipat dari sebelumnya.

Situasi tersebut masih ditambah lagi dengan keamanan yang serba tanda tanya, akibat Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang belum sepenuhnya dapat diatasi pemerintah. Di sana sini penuh dengan kecurigaan membuat kekompakan dan kekeluargaan dalam masyarakat Aceh sendiri menjadi rapuh.

Setelah masa tanggap darurat selesai, tahap berikutnya adalah masa pemulihan. Dalam tahap pemulihan ini fungsi relawan ‘hanya’ sebagai pendamping, yang utama adalah masyarakat Aceh sendiri. Bersama-sama mereka merencanakan dan melaksanakan berbagai program. Antara lain ‘mencari’ pemukiman baru, mendirikan rumah, memberdayakan ekonomi, mengelola program bantuan (uang, barang, tenaga dan lain-lain).

Berbagai hambatan dan kesulitan seperti dana yang kurang, lembaga donor yang menunda bahkan membatalkan bantuan, korupsi dan penjarahan, egoisme, kecurigaan dan lain-lain mereka atasi bersama-sama.  Untuk memperlancar program yang dibuat maka lembaga adat turut serta dilibatkan. Hal ini disebabkan masyarakat Aceh masih sangat menghormati lembaga adat.  Aceh pun pelan-pelan bangkit dan hidup lembali.

Konten Terkait:  Membaca Pohon-Pohon di Bulan Purnama

Bencana tsunami Aceh memang menimbulkan banyak korban, baik jiwa, harta benda maupun kawasan. Tetapi tragedi juga menciptakan peluang yang amat besar bagi terwujudnya masa depan yang cerah bagi Aceh, untuk  menjadi masyarakat yang maju, dinamis dan sejahtera. Juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah kawasan yang rawan bencana.

Judul: Sejarah Tumbuh di Kampung Kami
Penulis: Mardiyah Chamim
Penerbit: Yayasan Air Putih + Yayasan Puter + Cisco System Indonesia + Jaringan Relawan Kemanusiaan, 2005, Jakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: xi + 196

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here