Di sela-sela pertunjukan wayang orang (WO) dengan lakon Gandawerdaya di Pagelaran Keraton Yogyakarta selama tiga malam berturut-turut, ditampilkan juga tari-tarian lain yang turut melengkapi pertunjukan tersebut. Di luar pagelaran WO Gandawerdaya tersebut ditampilkan juga pethilan (fragmen) Tari Anoman-Yaksadewa. Tarian ini menggambarkan tentang peperangan yang terjadi antara Anoman dan Raden Yaksadewa (Saksadewa).

Yaksadewa adalah salah satu putra Prabu Dasamuka (Rahwana) dari Alengka. Selain putra Dasamuka, Yasksadewa merupakan salah satu panglima perang Alengka yang diandalkan bersama dengan saudara-sadura tirinya yang lain,  seperti Raden Indrajit Megananda, Raden Trisirah, dan Raden Trinetra. Mereka semua adalah putra Alengka yang memiliki kesaktian yang luar biasa. Raden Yaksadewa selain sakti juga memiliki kereta perang yang ditarik oleh singa dan dapat terbang ke angkasa serta mempunyai senjata ampuh yang dinamakan Candrasa.

Pethilan/fragmen tari Anoman-Yaksadewa menggambarkan duel yang terjadi antara Raden Anoman dan Raden Yaksadewa. Peperangan terjadi karena Anoman sebagai utusan (duta) Prabu Ramawijaya dari Ayodya merusak Taman Argasoka di Alengka setelah ia dapat bertemu dengan Dewi Sinta dan menyerahkan cincin pemberian Prabu Rama kepadanya.

Anoman dikeroyok prajurit Alengka-Foto-A.Sartono
Anoman dikeroyok prajurit Alengka-Foto-A.Sartono

Perusakan Taman Argasoka ini diketahui pihak Alengka dan Rahwana memerintahkan Yaksadewa untuk meringkus Anoman. Perang tanding antara keduanya pun terjadi. Dalam peperangan itu kereta milik Yaksadewa dapat dihancurkan oleh Anoman. Bahkan akhirnya Yaksadewa gugur di medan laga dengan tubuh hancur setelah dihantam dengan sebatang pohon nogosari.

Dalam pagelaran tari ditunjukkan bagaimana ragam tari gagahan brasak (raksasa) yang kelihatan teguh, galak, berwibawa, keras, trengginas diperlawankan dengan ragam tari kera yang menuntut kelincahan, tangkas, cekatan, sekaligus gecul (lucu), di samping dihiasai pula dengan pola-pola gerak akrobatik. Tontonan semacam ini mampu membangkitkan greget atau semangat bagi penonton sekaligus membangkitkan rasa cinta nusa bangsa (nasionalisme). Itulah salah satu fragmen tari yang dipergelarkan di Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta pada Rabu malam, 6 November 2019 dalam rangka peringatan Sekaten 2019.

Konten Terkait:  Ada Marsinah di Biennale Jogja 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here