Bagi para penikmat seni rupa dan seniman seni rupa agaknya nama Bambang Bujono tidaklah asing. Setidaknya sejak dekade 1970-an , penulis dan kritikus seni rupa ini secara rutin dan produktif terus menulis tentang seni rupa, terutama di Majalah Tempo. Moto Majalah Tempo, ‘enak dibaca dan perlu’ terasa pada tulisan-tulisannya yang bergaya populer dan tajam. Sekeluarnya dari Tempo, ia tetap rajin menulis tentang seni rupa. Pada 2017, Yayasan Jakarta Biennale menerbitkan kumpulan tulisannya semasa 1968-2017.

Pada Minggu malam, 24 November 2019, di Jogja National Museum (JNM), Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) memberikan penghargaan bergengsi kepada pria kelahiran Solo berusia 72 tahun ini, Lifetime Achievement Art Award (LAAA) Biennale Jogja XV 2019.

Tradisi YBY adalah memberikan penghargaan kepada sosok yang memiliki kontribusi dan pengaruh besar pada dunia seni rupa, utamanya pada aspek kreativitas, pemikiran, dan kontribusi pada kehidupan seni/seni rupa. Sosok tersebut juga telah aktif di dunia seni/seni rupa selama lebih dari 25 tahun. Rentang waktu kiprah Bambang Bujono jelas jauh melebihi batas ketentuan itu.

Penganugerahan LAAA kali ini diberikan kepada seorang yang bukan seniman, tetapi memiliki minat yang besar terhadap dunia seni, minat dalam bidang kepenulisan jurnalistik, tidak hanya dalam bidang penciptaan, tetapi kritik seni dan kepenulisan. Menurut penilaian YBY, Bambang Bujono sampai pada pencapaian berupa menginspirasi generasi muda‘ dalam aspek pencapaian kreativitas, pemikiran, dan keberpihakannya pada perkembangan penciptaan dan pemikiran seni/seni rupa.

Bagi YBY, Bambang Budjono adalah tokoh inspiratif, yang memiliki sisi lain dalam menulis dunia seni rupa. Tulisannya selalu berinovasi dan mengikuti perkembangan zaman, karya tulis yang dibuat dapat merangsang penulis muda untuk menulis dan mendalami karya yang berfokus pada seni rupa.

Konten Terkait:  Senirupa Dari Muria Memamerkan Karya Mereka
Bambang Bujono memberikan sambutan pada acara penganugerahan LAAA - Doc Biennale XV 2019
Bambang Bujono memberikan sambutan pada acara penganugerahan LAAA – Doc Biennale XV 2019

Puncak acara ditandai dengan pemberian penghargaan kepada Bambang Budjono berupa bunga, plakat, piagam dan uang sebesar Rp 20 juta yang secara simbolis diberikan oleh Direktur Biennale Jogja XV 2019 Alia Swastika, dan Dewan Yayasan Biennale Yogyakarta Nasir Tamara.

Pada sambutannya, Bambang Bujono mengatakan bahwa lebih dari 50 tahun yang lalu iaberada di JNM sebagai mahasiswa. Saat itu JNM masih berfungsi sebagai Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). “Pertama kali saya menginjak lingkungan ini, cita-cita saya adalah menjadi seniman, awalnya saya gagal, dan kegagalan itu justru malah membuahkan pengalaman,” ujarnya.

Lebih lanjut Bambang mengatakan bahwa dunia seni rupa tidak bisa bergerak sendiri. “Kita
mempunyai wacana ruang berpikir di dunia tulis menulis, catatan adalah arsip untuk masa
depan. Saya tidak bisa membayangkan seorang peneliti seni rupa sekarang misalnya, tidak
akan bertolak dari arsip-arsip yang ada, dan lebih memilih menulis daripada melukis misalnya, karena bagi saya menulis itu lebih mudah,” kata Bambang.

Penganugerahan LAAA diberikan pertama kali pada tahun 2005 bersamaan dengan penyelenggaraan Jogja Biennale VIII. Penerimanya adalah pematung G Sidharta Soegijo dan pencipta wayang ukur Sukasman. Berturut-turut kemudian pada 2007, penerimanya adalah budayawan Prof Soedarso, Sp, MA dan pematung Edhi Soenarso. Pada 2009, pelukis Kartika Affandi dan pelukis Soenarto Pr. Pada 2011, pelukis Djokopekik. Pada 2013, pelukis Moelyono. Pada 2015, seniman dan kurator seni rupa Jim Supangkat. Pada 2017, pelukis wayang beber Wiyadi dan pelukis/pematung Sunaryo.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here