Seni arsitektur digunakan dalam berbagai hal. Salah satunya adalah tempat tinggal, baik rumah maupun kompleks permukiman. Setiap orang pasti menginginkan tempat tinggal yang nyaman dan aman.

Indonesia adalah daerah yang kaya dengan berbagai macam bentuk arsitektur rumah dan pola permukiman. Bagi masyarakat di daerah Nusantara, rumah bukan hanya sekadar bangunan untuk tempat tinggal. Rumah mempunyai banyak makna. Dari arsitekturnya dapat dilihat bahwa rumah atau pun kompleks permukiman merupakan simbol hubungan manusia dengan Tuhan (hubungan vertikal) maupun hubungan manusia dengan alam dan sesama (hubungan horizontal). Rumah juga mengandung simbol ruh/jiwa dan jasmani/raga.

Dalam membangun rumah atau kompleks permukiman ada pertimbangan-pertimbangan tertentu. Antara lain sumber air, makanan dan ancaman gangguan keamanan. Gangguan keamanan ini dapat berasal dari sesama manusia (suku atau kelompok lain), binatang maupun alam (banjir, kekeringan dan lain-lain). Ada berbagai macam cara untuk mengatasi gangguan tersebut. Misal membangun kompleks permukiman di atas bukit dikelilingi benteng batu, membuat rumah panggung atau pun  rumah di atas pohon. Selain itu dalam membangun juga menggunakan perhitungan-perhitungan tertentu dan sesajian baik sebelum membuat, selama membuat dan sesudah membuat rumah.

Untuk membangun hubungan dengan dzat yang tidak kelihatan (Tuhan, arwah nenek moyang) mereka membuat lokasi/tempat/ruang khusus. Sebagai tempat yang dianggap suci atau sakral  tidak sembarang orang dapat berada di sana. Doa, persembahan dilakukan di tempat ini untuk memohon rahmat dan keselamatan.

Pada dasarnya pembangunan rumah atau kompleks permukiman di Nusantara ini mengedepankan konsep semesta. Rumah atau kompleks permukiman dibangun dengan mengedapankan nilai-nilai ketuhanan, transendentalitas, kemanusiaan, kehidupan bersama, keselarasan baik dengan sesama manusia maupun lingkungan alam, dan juga nilai-nilai keindahan.

Konten Terkait:  Cahaya Novan Mencari Alam

Judul: Merah Putih Arsitektur Nusantara
Penulis: Galih Widjil Pangarsa
Penerbit: Andi, 2006, Yogyakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: vi + 141

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here