Suatu ketika hidup suami-istri yang bernama Pak Kromo dan Mbok Kromo serta mempunyai anak bernama Jambul. Kehidupan keluarga di dusun ini serba berkekurangan. Segala daya upaya untuk meningkatkan taraf ekonomi dan sosialnya selalu gagal. Kromo lalu melakukan semadi dan dalam semadinya ia mendapatkan wangsit bahwa keinginannya untuk lepas dari jerat kemiskinan akan terkabul.

Ia pamit dengan keluarganya dan diberi bekal berupa keris sakti oleh ibu mertuanya. Keluarganya berpesan agar Kromo kelak setelah berhasil diminta jangan sampai melupakan anak dan istrinya. Kromo bersumpah jika ia lupa, maka ia akan buta.

Kromo berpamitan kepada keluarganya untuk mencari pekerjaan di kota kadipaten-Foto-A.Sartono
Kromo berpamitan kepada keluarganya untuk mencari pekerjaan di kota kadipaten-Foto-A.Sartono

Sementara itu Kadipaten Pengasih sedang dilanda kerusuhan yang dipimpin oleh Raden Gandalewa. Intinya, Gandalewa meminta agar kakaknya, Adipati Somalewa turun tahta untuk digantikan olehnya. Gandalewa beralasan karena ia mengemban amanah rakyat. Tentu saja Somalewa menolak hal ini. Pertikaian keduanya tidak bisa dihindarkan. Karena niatnya belum tercapai Gandalewa membuat kerusuhan, sedangkan Somalewa dengan aparatnya tidak mampu menanggulanginya.

Kromo yang berniat mencari pekerjaan ke kota dicegat oleh gerombolan Gandalewa. Semua gerombolan dapat dikalahkan. Gandalewa justru memanfaatkan Kromo untuk meringkus Adipati Somalewa dengan janji akan diberi pekerjaan sebagai prajurit. Sampai di depan Adipati Somalewa pikiran Kromo berubah. Lebih-lebih setelah ia ditawari akan dijadikan tumenggung dan diberi hadiah gadis bernama Sekar Arum sebagai istrinya jika ia berhasil meringkus Gandalewa dan gerombolannya.

Setelah kaya dan memiliki istri baru Kromoyudo menolak keluarganya-Foto-A.Sartono
Setelah kaya dan memiliki istri baru Kromoyudo menolak keluarganya-Foto-A.Sartono

Iming-iming itu membuat Kromo bersemangat untuk mengalahkan Gandalewa. Gandalewa dan gerombolannya pun dapat dikalahkan. Kromo kemudian diangkat menjadi  tumenggung dengan nama lengkap Tumenggung Kromoyuda dan ia dinikahkan dengan Sekar Arum. Namun sesungguhnya Sekar Arum sangsi akan kejujuran Kromoyuda yang mengaku masih perjaka.

Begitu lama Mbok Kromo dan keluarga di desa menunggu kepulangan Kromo, namun yang ditunggu  tak kunjung datang. Mbok Kromo sakit dan meninggal. Jambul bersama neneknya menyusul Kromo ke kota. Setelah dapat bertemu, Kromoyuda tidak mau mengakui ibu mertua dan anaknya. Bahkan mengusirnya.

Konten Terkait:  Seniman Lintas Disiplin Berkarya Bersama Lewat “Panggih”

Adipati Somalewa dan Sekar Arum yang mengetahui kelakuan Kromoyuda marah. Kromoyuda dipecat dan dilucuti serta diusir pergi. Kromoyuda pulang ke desa dalam keadaan buta karena termakan sumpahnya sendiri. Untunglah ibu mertua dan anaknya Jambul, mau memaafkannya.

Setelah jatuh miskin Kromo memohon ampun kepada orang tua dan anaknya-Foto-A.Sartono
Setelah jatuh miskin Kromo memohon ampun kepada orang tua dan anaknya-Foto-A.Sartono

Itulah lakon kethoprak Jambul Kromoyudo yang dipentaskan di Dusun Kembaran, RT 05, Tamantirto, Kasihan, Bantul pada Minggu malam, 17 November 2019. Pementasan dilakukan oleh kelompok kethoprak Panca Kumbara (warga Kembaran) sebagai wujud syukur dan gelar budaya. Selain kethoprak, warga setempat juga menggelar seni pertunjukan wayang kulit oleh dalang Ki Seno Nugroho dengan lakon Wisanggeni Gugat pada Senin malam, 18 November 2019 sebagai pamungkas acara.

Pentas kethoprak itu menghadirkan bintang tamu antara lain Pur Bonsai dan Waluyo. Pementasan ketoprak disutradarai oleh Haryo Prasetyawan, Pimpinan Produksi oleh Sari Purwanto, dan Penata Iringan adalah Wakidi SPd. Pementasan dilaksanakan dengan dukungan Dana Keistimewaan DIY.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here