Majalah Kajawen yang beredar luas di masyarakat Jawa tahun 1926 hingga 1940-an banyak menulis peristiwa-peristiwa penting, termasuk para pejabat lokal Jawa. Satu di antaranya adalah Bupati Purwodadi (Grobogan) Jawa Tengah. Majalah yang dicetak menggunakan aksara Jawa dan pengantarnya memakai bahasa Jawa tersebut, pada edisi 99 tanggal 12 Desember 1928 halaman 1694 menulis sekelumit biografi salah seorang Bupati Purwodadi yang ke-14, yaitu Raden Adipati Arya (RAA) Sunarta (ejaan sekarang: Sunarto).

RAA Sunarta termasuk Bupati Purwodadi yang menjabat cukup lama. Menurut sumber lain, ia menjabat antara tahun 1908 hingga 1933. Sementara Adipati Martapuro atau Adipati Puger sebagai bupati pertama, menjabat pada tahun 1726.

Majalah Kajawen edisi 99 tanggal 12 Desember 1928 yang membuat biografi Bupati Purwodadi RAA Sunarta-repro-suwandi
Majalah Kajawen edisi 99 tanggal 12 Desember 1928 yang membuat biografi Bupati Purwodadi RAA Sunarta-repro-suwandi

Disebutkan dalam majalah tersebut bahwa RAA Sunarta selama menjabat Bupati Purwodadi menerima beberapa kali penghargaan. Dituliskan di bawah foto, begini: “Ingkang Bupati Purwadadi (Grobogan) mentas wonten pasamuwan, wigatosipun ingkang bupati ing ngriku, Raden Adipati Arya Sunarta, tampi ganjaran Bintang Mas Ageng saking pamarentah. Kathah para pangageng tuwin para tamu ingkang sami anjenengi. RAA Sunarta wau anggenipun jumeneng Bupati kala ing taun 1909. Ing taun 1913 angsal sesebutan Arya. Taun 1920 angsal sesebutan Adipati. Taun 1923 angsal Bintang Opisir Oranye Nassao saha ing taun 1925 angsal songsong jene. Ing nginggil punika gambar nalika ingkang bupati dipunpahargya wonten ing kabupaten, sagarwa kulawarga.”

Artinya kurang lebih: “Bupati Purwodadi (Grobogan) usai menggelar perayaan syukuran, yang intinya RAA Sunarta menerima penghargaan berupa Bintang Mas Besar dari pemerintah. Banyak para pejabat dan tamu undangan yang ikut diundang untuk menyaksikan perayaan syukuran bupati yang menjabat di tahun 1909. Tahun 1913 mendapat gelar “Arya”. Tahun 1920 mendapat gelar “Adipati”. Tahun 1923 mendapat Bintang Opsir Oranye Nasao dan tahun 1925 berhak menggunakan payung warna kuning. Gambar di atas, bupati sedang dirayakan di kabupaten beserta istri dan keluarganya.”

Konten Terkait:  Hibernasi Yassir Malik dalam Dunia Seni Rupa

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here