Bagus Putu Parto

0
53

48 Tahun Dik Siti

Istri harus ditemani, bila Subuh menenteng  keranjang ke pasar
Bukan sekedar menjadi sopir atau kuli angkut belanjaan
Tapi biar tahu harga beras lombok dan terasi
Selamat Ulang tahun, dik Siti
Untuk merefleksi 48 tahun kelahiran
tidak harus jalan jalan ke luar negeri
atau makan malam di resto berbintang
Ayo, gorengkan tahu dan tempe untuk sarapan pagi ini
Sambil mengenang kita pernah makan sepiring berdua di awal cerita.
Ah !

Blitar, 17 Juli 2019

 

Blitar Bila Malam

Bila malam telah tiba
aku rindu suara ledek
mendendangkan kepiluan nasibnya.
Ya, Surtiyem nama ledek itu
Bersama kang Suto kang Noyo berjingkrak
menari disepanjang trotoar
Mulutnya bau ciu penawar kepedihan
tak berdaya dirongrong kerasnya kehidupan

Tapi wajah kota malam ini
telah berganti
Surtiyem bergincu bak perawan tujuh belas tahunan
Ajojing seirama dentuman musik kafe
Lampu lampu remang berkedip genit menyapa
Tangannya lihai merogoh kocek para juragan
Bersama mengumbar birahi malam

Kemana aku mencarimu Surtiyem
Ledek, cokekan di Pasar Legi
lenyap ditelan jaman
Maaf bila malam ini aku mengenang kepergianmu sambil nongkrong di Kentucky Fried Chiken
Menatap malammu  yang tak lagi sunyi

Surabaya, 26/9/18

 

Tak Lagi Kupanggil Kau Surip 

Hidup bukan sekedar retorika, Sarip
Rakyat hanya dibuai kata kata
sementara perut mereka lapar
dan hidupnya dihimpit derita

Apa kau tak bernyali lagi
Memgalungkan celurit di leher kumpeniĺ
Tubuhmu tak lagi mengalir darah laki lakil
Dan mulutmu lebih cerewet dari pada wanita
Menutupi ciut nyalimu

Kepentingan telah memborgol jiwamu
Bergandeng erat dengan para kurcaci

Maka  tak lagi ku panggil kau Sarib
karena tak ada lagi darah menetes untuk mereka yang tertindas

Sarip potong saja kelaminmu
dan sembunyi dibalik kutang binimu
Hari gini tak butuh lagi
retorika kata kata !

Surabaya 26/9/18

 

Ngalap Berkah Di Perkebunan Alma’la; Catatan Jamaah Gelap Tanpa Visa

 : bagi mbah moen

bila kelak aku mati, jangan tandai nisan diatas kuburku, biar jasad ini menyatu dengan tanah.

: lalu dimana akan menziarahi istana kuburmu

doa sederhana dengan bahasa jawa, beraroma kembang boreh dan kemenyan ikut berhimpit bersama gelombang dzikir. saling desak, saling serobot berebut eksistensi

Konten Terkait:  Puisi Aming Aminoedhin

malu mustinya malu, jamaah gelap tanpa visa, menyisakan niat ngalap berkah di akhir doa

kulo nyuwun berkah Mbah Mun

: jumat legi pun berlalu !

Blitar, 17 Agustus 2019

 

Gir, Masih Ada Pesta Sunyi Musim Rambutan

Rasanya aku tak  percaya kau telah tiada
Barangkali juga kau tak percaya telah berpisah untuk selamanya

Ai ai ai
Ai ai ai
Ayo Gir, kita baca puisi
untuk mengusir sepi
Mengeja bait kata menjadi mantra
Tapi tak usah banyak daplang daplang
kata Aming itu gaya baca puisi era 80-an

Cek cek nong
Cek cek gung
Itu suara gamelan wayang wolak walik Ki Jumali
Dipadu denting gitar Antok Oye
Lalu Prof Djoko Saryono berjingkrak
“Malam minggu aye pergi kebioskop”
Lengkap sudah pesta sunyi kaum urakan musim rambutan

Tapi mengapa malam ini
kau duduk bermuram
Menyendiri berselimut sunyi
Bersila diujung rembulan separo bayang
Malu malu bak pengantin
menunggu kekasihNya ditepian ranjang
Hanya air matamu membasah
menjelma menjadi buku buku
menetes menimpa ranting ranting pohon
lalu jatuh berserakan direrumputan
Dan paginya dengan setia aku pungut sebagai warisan jaman

Sungguh banyak jejak yang kau toreh di dinding tembok rumah ini. Tangis tawa mimpi adalah bagian dari panggung bersama.
Kita adalah badut badut  yang menari  sepanjang jaman.
Saksi sejarah yang alpa tak tertuliskan

Rasanya aku tak percaya kau telah tiada
Barangkali juga kau tak percaya telah berpisah untuk selamanya.

Di bawah pohon rambutan ini masih banyak mimpi kita bersama
: Gir !

Blitar, 9 Juli 2019

Bagus Putu Parto, alumnus Dapartemen Teater ISI Yogyakara, lahir di Blitar,  2 Juni 1967. Lima tahun belakangan ini bersama Endang Kalimasada, Aming Aminudhin, Widodo Basuki, Antok Yunus, Prof Djoko Saryono, Tengsoe Tjahyono, dan kawan lainnya, membuat lingkaran kreatif dengan menerbitkan buku dan pagelaran di Rumah Budaya Kalimasada. Beberapa karyanya diterbitkan Rumah Budaya ini: Catatan Harian Dokterandus Kartomarmo, Cerita Pendek Yang Ditulis Di Usia 100 Tahun (kumpulan cerpen) dan Jalan Sunyi Dokterandus Kartomarmo (otobiografi kesenian).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here