Perantau adalah orang-orang yang ingin sukses, eksis, dan jaya di luar tanah kelahirannya. Tidak ada satu pun perantau yang memimpikan kegagalan. Tekad perantau adalah tekad pejuang. Tekad untuk tidak takut menghadapi tantangan. Perantau adalah orang yang berani prihatin, berani meninggalkan kemanjaan dan kenyamanan. Perantau adalah pekerja sekaligus pemikir keras. Sebab tanpa itu semua jati diri perantau tidak akan tampil atau eksis. Tidak peduli apa pun profesi yang ditekuni perantau itu.

Perantau yang sukses adalah kebanggaan kampung halaman. Ia adalah wakil atau duta kampung halamannya. Perantau yang berprofesi sebagai perupa pun demikian. Eksistensinya di kancah dunia seni rupa tidak bisa tidak ikut menjadi wakil dari eksistensi kampung halamannya.

Sepuluh Perantau, itulah tema yang diangkat untuk membingkai pameran sepuluh perupa Indonesia asal Sumatera Selatan yang tinggal di Yogyakarta. Sepuluh Perantau merupakan pameran bersama yang menampilkan perspekstif dan sikap individu masing-masing seniman.

Berkumpulnya para perupa dari sepuluh perantau ini merupakan sesuatu yang di luar kelaziman pendekatan komunitas berupa sanggar pada umumnya, seperti yang dapat diamati sejak 1990-an pada Sanggar Bidar Sriwijaya, Jendela, Rumah Seni Muara dan Kelompok Sakato. Dapatlah dikatakan bahwa Sepuluh Perantau ini melakukan semacam gerakan pemisahan diri yang disengaja.

Bioskop, 300 x 300 x 250 cm, multiplex, textile, and paint, 2019, karya Ronald Apriyan-Foto-A.Sartono
Bioskop, 300 x 300 x 250 cm, multiplex, textile, and paint, 2019, karya Ronald Apriyan-Foto-A.Sartono

Kesepuluh perupa menandai dan menunjukkan perbedaan yang menonjolkan akar Sumatera Selatan mereka, sekaligus membedakan mereka dari kenyamanan-penyamaan identitas ke-Sumatera-an dalam kelompok orang-orang sekampung asal.

Kesepuluh perantau dari Sumatera Selatan, yakni Decki “Leos” Firmansah, Dedi Sufriadi, Erzane Nova Erlan, Hayatuddin, Iabadiou Piko, Lugas Syllabus, Riduan, Robi Fathoni, Ronald Apriyan, dan Yarno itulah yang memamerkan karya-karya mereka dalam tema Sepuluh Perantau di Jogja Gallery, 9-25 November 2019.

Konten Terkait:  Fatamorgana Tulus Warsito di Albert Gallery Kota Tangerang

Pameran mereka ini menunjukkan sesuatu yang tidak biasa dan itulah kreasi-inovasi yang menjadi jiwa seniman: terus gelisah untuk penciptaan karya baru yang tidak biasa. Ada banyak karya yang besar dalam pameran ini. Besar bukan hanya dalam ukuran fisik, namun yang paling penting dan terutama adalah gagasan, pesan, teknik, dan kesan yang diwujudkan dalam karya.

I Cursed You into The Stone, 260 x 1230 cm, books, cement, 2019, karya Dedy Sufriadi-Foto-A.Sartono
I Cursed You into The Stone, 260 x 1230 cm, books, cement, 2019, karya Dedy Sufriadi-Foto-A.Sartono

Seniman Sepuluh Perantau bukanlah kelompok yang menawarkan manifesto artistik atau praktik baru. Mereka juga tidak melakukan demokratisasi terhadap representasi seniman dari komunitas etnisnya. Mereka adalah unit pendukung dirinya sendiri di masa pasar seni rupa membayang-bayangi wacana seni dan pembuatan karya seni, ketika kontak antara seniman dengan para kritikus dan kurator seni umumnya didahului transaksi terkait perdagangan.

Bagi seniman di mana pun meningkatnya ketertarikan masyarakat dan konsumsi publik akan seni yang baru-baru ini terjadi ternyata bagai pedang bermata dua. Saat permintaan dan akses terhadap seni semakin meningkat, esensi seni dan pembuatan karya seni semakin melemah. Sepuluh perantai berkumpul untuk mengambil jeda dalam dirinya sendiri dan mempertahankan keseimbangan antara filosofi, praktik profesional, dan konsumsi.

Little Wonder Woman, 155 x 140 cm, pencil on canvas, 2017, karya Robi Fathoni-Foto-A.Sartono
Little Wonder Woman, 155 x 140 cm, pencil on canvas, 2017, karya Robi Fathoni-Foto-A.Sartono

Sepuluh Perantau adalah keberanian dalam menyingkap selubung, mengupas kulit luar yang selama ini nyaman melindungi untuk berhadap-hadapan dengan kebijaksanaan yang tegas dalam ketenangan lingkup studio. Di sini mereka bergerak secara proaktif, secara kolektif dan mandiri, kesepuluh seniman ini secara suka rela menampilkan diri sepolosnya, tanpa bungkusan keamanan dari para gallerist, kurator, atau lembaga apa pun, untuk menunjukkan diri di antara rekan-rekan mereka dan dalam menghadapi penilaian kritis. Demikian pengantar yang ditulis oleh Khai Hori untuk pameran ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here