Sosialisasi  Warisan Budaya Cagar Budaya (WBCB) di Yogyakarta, khususnya di Kabupaten Bantul, terus dilakukan. Sosialisasi  tersebut dilaksanakan di desa-desa/kelurahan. Untuk tahun 2019 ini Sosialisasi WBCB Bantul dilaksanakan di Balai Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong.

Sosialisasi dihadiri oleh tokoh-tokoh desa, sesepuh, juru pelihara, pokdarwis, LKMD, perangkat desa, Babinsa, Babinkamtibmas, pemuda, camat, PKK, dan warga setempat, diselenggarakan hari Selasa, 22 Oktober 2019. Untuk itu dihadirkan tiga narasumber, yakni Wiwit Kasiyati SS MA (Kepala Seksi Pelindungan Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB DIY), Dra Andi Riana (Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Bantul), dan Albertus Sartono SS (anggota TACB Bantul).

Sosialisasi dibuka secara resmi oleh Kabid Adat Seni dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Drs Sapto Priyono MM. Ia mengharapkan bahwa dengan adanya sosialisasi ini masyarakat Bantul, khususnya Seloharjo, Pundong semakin peduli pada WBCB. Kepedulian tersebut diharapkan juag menumbuhkan sikap untuk ikut memelihara dan melestarikannya karena WBCB menjadi salah satu identitas, karakter, dan ciri khas masyarakat yang bersangkutan. Selain itu, WBCB dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraaan bersama. Salah satu contohnya, bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata.

Dalam kesempatan itu pula Andi Riana menyampaikan tentang keberagaman cagar budaya yang ada di Kabupaten Bantul. Keberagaman atau kekayaan CB di Bantul ini bahkan tidak dimiliki oleh kabupaten lain di DIY. Keberagaman itu ditunjukkan dengan adanya CB di Bantul mulai masa prasejarah-klasik-Islam- hingga masa kolonial. Kekayaan semacam ini perlu terus dijaga, dilestarikan, dimanfaatkan, dan dikembangkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Para peserta Sosialisasi WBCB di Balai Desa Seloharjo Pundong Bantul-Foto-A.Sartono
Para peserta Sosialisasi WBCB di Balai Desa Seloharjo Pundong Bantul-Foto-A.Sartono

Sementara itu Wiwit Kasiyati dalam paparannya lebih menyoroti persoalan hukum dan perudang-undangan yang berkait dengan WBCB serta pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatannya. Dengan adanya peraturan hukum tersebut diharapkan masyarakat semakin sadar dan mengerti bahwa WBCB merupakan objek yang dilindungi oleh hukum. Perusakan, pencurian, pemindahan, dan lain-lain tanpa seizin pihak yang berwenang akan berimplikasi pada hukum dan atau denda.

Konten Terkait:  Mengenal Sepintas Koleksi Sejarah Mesir di Museum Lab Sejarah UPY

Sedangkan Albertus Sartono dalam paparannya lebih banyak menguraikan tentang warisan budaya tak benda, khususnya yang ada di wilayah Desa Seloharjo dan Bantul pada umumnya. Warisan budaya tak benda ini sering tanpa disadari sesungguhnya juga merupakan kekayaan budaya yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain dan itu menjadi sesuatu yang unik atau bagi wilayah setempat. Salah satu contoh yang terdapat di Seloharjo adalah adanya Wedang Ereng-ereng, Sambal Kopi, Merti Bumi Sendang Surocolo yang didahului dengan memotong kambing “kendhit”, dan lain-lain.

Warga Seloharjo menyambut positif sosialisasi ini. Bahkan mereka juga menyampaikan permohonannya untuk terus dilakukan pendampingan melalui Disbud Kabupaten Bantul.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here