Taman Budaya Yogyakarta menjadi salah satu tempat Biennale Jogja XV memamerkan karya seni dari seniman-seniman Indonesia dan Asia Tenggara yaitu: Popok Tri Wahyudi, Studio Malya, Muslimah Collective, Arisan Tenggara, Nguyen Thi Thanh Mai, Wisnu Ajitama dan Tran Luong.

Di Taman Budaya Yogyakarta juga ada Pukat Pikat Asia sebagai bentuk presentasi dari program Resource Room. Ini menjadi ruang yang digunakan pengunjung untuk duduk, bertemu, saling mengenal dan bertukar cerita atau sekadar istirahat.

Warung Makan Pukat Pikat Asia foto - Gevi
Warung Makan Pukat Pikat Asia foto – Gevi

Pukat Pikat Asia dapat tercipta dari hasil kerja sama antara Khairunnisa dari Biennale Jogja, Niki Ariestyanti, dan RAR Editions (Alwan Brilian Dewanta, Tyasanti Kusumo, dan Faida Rachma). RAR Editions merupakan kolektif yang awalnya dari memproduksi zine kemudian berkembang menjadi penelitian menggunakan arsip, yang kemudian akan diproses untuk didistribusikan; baik secara isu, pengetahuan, dan penciptaan diskusi. Praktik yang juga dikembangan adalah seni pertunjukan, identitas visual, produksi dan publikasi.

Informasi terkait Asia Tenggara juga dapat ditemukan di Pukat Pikat Asia. Terdapat buku-buku yang dapat diakses untuk dibaca di tempat. Selain informasi, Pukat Pikat Asia menghadirkan berbagai kegiatan pada akhir pekan supaya pengunjung semakin akrab dan mengenal wilayah Asia Tenggara.

Warung makan mudah ditemukan dan sudah menjadi praktik dalam keseharian banyak orang. Lapar, ingin istirahat, mau bekerja, atau sekadar bertemu dengan teman, warung makan merupakan persinggahan yang tepat. Anda bisa makan berat, makan ringan, atau hanya pesan minum pun, tidak menjadi masalah. Sebagai ruang persinggahan, warung makan menyediakan kesempatan untuk berbagai pertukaran cerita melalui pertemuan.

Pukat Pikat Asia ingin menyajikan informasi terkait Asia Tenggara dalam bentuk kalender yang terpampangi dinding. Menampilkan rangkuman beberapa peristiwa sejarah yang terjadi di tahun suatu koleksi berdiri.

ResourcesRoom di Biennale Jogja XV foto - Gevi
ResourcesRoom di Biennale Jogja XV foto – Gevi

Kata kolektif akan lebih familiar terdengar dalam dunia seni rupa. Kata kolektif berarti gabungan atau bersama-sama. Situasi di mana dalam sebuah lingkup sosial, tidak ada ekosistem yang mendukung bentuk-bentuk kerja tertentu; bisa karena pemerintah yang represif, praktik kerja yang belum begitu “populer”, atau terbatasnya ruang untuk berkumpul. Itu beberapa faktor yang dapat membentuk suatu kolektif.

Konten Terkait:  Ketoprak Ria Fakultas Peternakan UGM Bawakan Lakon Layung Wilwatikta

Di situ terdapat buku-buku yang bisa diakses untuk dibaca di tempat, yang merupakan koleksi dari IVAA (Indonesian Visual Art Archive), Gerak Budaya Jogja, dan PSSAT UGM (Pusat Studi Sosial Asia Tenggara). Buku-buku katalog dari seniman yang berpartisipasi di pameran  juga dapat diakses di ruang ini dan juga ditampilkan beberapa resep dan karya seniman bertema makanan.

Informasi yang disajikan dapat juga diakses melalui televisi yang ada di ruangan. Pengunjung dapat memainkan beberapa pilihan piringan DVD; mulai dari lagu-lagu Asia Tenggara, video wawancara seniman, dan video arsip karya-karya seniman.

Permainan dihadirkan bagi pengunjung yang ingin bersantai sambil mengasah pengetahuan yang dimiliki dengan mencocokan lembaran magnet kecil ke papan peta.

Selain informasi, Pukat Pikat Asia akan menghadirkan berbagai kegiatan pada akhir pekan . Berikut ini agendanya:

Jumat, 15 November 2019 (14.00-20.00) dan Sabtu, 16 November 2019 (13.00-20.00) SEA Movie bersama Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM.

Pengunjung Merespon Karya Pukat Pikat Asia foto Gevi
Pengunjung Merespon Karya Pukat Pikat Asia foto Gevi

SEA Movie adalah program pemutaran film pendek yang berfokus pada wacana film di Asia Tenggara yang diinisiasi oleh Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM. Melalui pemutaran film dan diskusi, SEA Movie mendorong penonton untuk menyadari situasi sebagai komunitas bangsa-bangsa di Asia Tenggara dan untuk memahami masalah sosial di wilayah tersebut.

Tahun ini, tema yang dipilih adalah ‘The Future of Humanity in Southeast Asia’. Terdapat lima sesi pemutaran setiap harinya dan akan diikuti dengan diskusi pada setiap akhir pemutaran.

Sabtu, 23 November 2019 (14.00-selesai) Print Show bersama RAR Editions.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here