‘Ugemi’ dalam khasanah bahasa Jawa mungkin dapat dimaknai sebagai memegang teguh sekaligus mempercayai atau meyakini. Contohnya, ngugemi nasihat orang tua adalah proses dan sekaligus mempraktikkan apa yang dinasihatkan orang tua dengan meyakini dan mempercayainya (bahwa hal itu pasti akan berakibat baik). Ugemi itulah yang dipakai oleh Astuti Kusumo dan Rina Kurniyati dalam duet pamerannya di Sangkring Art Project, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, mulai 24 Oktober – 4 November 2019.

Barangkali Astuti dan Kurniyati memang ingin ngugemi hobi ataupun profesinya sebagai perupa sekaligus perempuan sesuai fitrahnya. Fitrah Astuti dalam berkarya rupa barangkali cenderung mengedepankan, yang dalam istilah Oesman Effendi: “kesan-kesan dalam”. Pelukis menyalurkan emosi dan ekspresinya dengan mengandalkan ragam sapuan kuas dan warna.

Lukisan-lukisan Astuti Kusumo memang menampilkan pose-pose figur sebagai narasi utama. Akan tetapi figur-figur itu terlihat abstrak karena sapuan kuas yang tampil lebih menonjol dan cenderung menyamarkan keberadaan figur. Kekuatan Astuti Kusumo barangkali terletak pada kapabilitasnya mengabstraksi figur sekaligus menyalurkan kesan-kesan dalamnya. Ia memproses dua pendekatan melukis yang berbeda dalam satu waktu.

30 Derajat ke Kanan, 120 x 75 cm, enamel on glass, 2019, karya Rina Kurniyati-Foto-A.Sartono
30 Derajat ke Kanan, 120 x 75 cm, enamel on glass, 2019, karya Rina Kurniyati-Foto-A.Sartono

Sekalipun sama-sama ngugemi profesinya sebagai pelukis, objek dan gaya seni lukis yang dijalani Astuti Kusumo dan Rina Kurniyati berbeda. Karya-karya Rina Kurniyati menggunakan material kaca dan enamel. Kurniyati juga lebih memilih melukis mobil, terutama mobil-mobil klasik dengan citraan realistik. Ia kadang-kadang memfokuskan diri pada bagian-bagian tertentu dari mobil, seperti kaca spion, stir, roda, dan lain-lain.

Seraya menciptakan lukisan, Kurniyati juga menorehkan teks-teks sastra dan sejarah. Hal itu membuatnya memilih kata-kata atau kalimat yang ia rasa mewakili narasi mobil (atau bagian mobil tersebut) atau pandangan personalnya pada dunia saat ini. Ia misalnya, menuliskan kembali penggalan kalimat dari Pramoedya Ananta Toer tentang bagaimana “menjadi orang besar”. Demikian di antaranya Aminudin TH Siregar selaku kurator dalam pameran ini menyampaikan ulasannya.

Konten Terkait:  Secangkir Teh: Dunia Cinderella dalam Penyutradaraan Byta Indrawati
Mata Cinta, 120 x 75 cm, enamel on glass, 2019, karya Rina Kurniyati-Foto-A.Sartono
Mata Cinta, 120 x 75 cm, enamel on glass, 2019, karya Rina Kurniyati-Foto-A.Sartono

Sesuai tema yang dipilih, Astuti ingin tetap mengedepankan keluhuran tradisi dan kearifan lokal (Jawa) dengan mengekspresikannya ke dalam lukisan. Dua puluhan lukisannya yang disajikannya menjadi simbol penyeimbang diri sekaligus penyelaras bagi kosmologi di lingkungannya masing-masing. Posisi istri (atau peran ibu) bagi Astuti dan Kurniyati bukan sekadar melayani, tetapi juga mampu memberikan pelajaran bagi masyarakat sekitarnya.

Sapa Sira Sapa Ingsun, 120 x 100 cm, AOC, 2019, karya Astuti Kusumo-Foto-A.Sartono
Sapa Sira Sapa Ingsun, 120 x 100 cm, AOC, 2019, karya Astuti Kusumo-Foto-A.Sartono

Lukisan-lukisan karya keduanya adalah wujud perantaraan dunia yang penuh pesan: keterpaduan antara yang maskulin dan feminin, yang ekspresif dan realistik, yang kasar dan halus, yang keras dan lembut. Semuanya dirangkai melalui warna, garis, dan tekstur. Medium kaca dari Kurniyati dan kanvas dari Astuti adalah bagian dari pesan tentang penyeimbang dan satuan keselarasan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here