Namanya Theodorus Setyo Nugroho, anak sulung Rendra, yang dikenal dengan sebutan si Burung Merak. Ia lebih akrab dipanggil Tedy, makanya sering dikenal sebagai Tedy Rendra. Sekarang tinggal di Bali. Meskipun sebagai anak sulung Rendra, seorang penyair dan dramawan terkenal di Indonesia, Tedy tidak produktif menulis puisi, tetapi  ‘mengikuti jejak’ dalam membaca puisi. Setidaknya sesekali dia tampil membaca puisi Rendra.

Dalam Sastra Bulan Purnama edisi 97, yang diselenggarakan Rabu 16 Oktober 2019 di Tembi Rumah Budaya, Tedy membacakan beberapa puisi Rendra. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Rambut putihnya yang panjang dibiarkan tergerai di pundaknya.

Beberapa minggu, atau mingkin dua bulan sebelulmnya Tedy mencoba mencari puisi-puisi Rendra yang akan dia bacakan. Dia akan memilih puisi-puisi yang ditulis Rendra, yang jumlahnya tidak sedikit, dan ditulis dalam tahun yang berbeda-beda, termasuk puisi yang ditulis Rendra ketika masih bujang. Tedy mencari-cari buku puisi Rendra, yang tampaknya dia tidak memiliki koleksi.

“Ons, aku tolong kirimi  buku puisi papaku,” Tedy memberi pesan melalui WA.

Satu buku puisi, yang diberi judul Empat ‘Kumpulann Sajak’ saya kirim ke Bali, supaya Tedy bisa memilih puisi Rendra yang akan dibacakan di Sastra Bulan Purnama. Rupanya, di Bali dia memang mencoba memilih puisi-puisi Rendra dari buku itu. Selain itu, ketika sampai di Tembi, dia meminta saya untuk mencarikan puisi-puisi cinta.

Salah satunya, Tedy memilih puisi yang berjudul ‘Surat Cinta’. Puisi ini ditulis Rendra untuk (calon) istrinya, Sunarti Suwandi, yang kemudian menjadi istri Rendra, dan dikenal dengan nama Narti Rendra.

“Saya akan membaca puisi, karya papaku, yang  membuat aku ada. Tanpa puisi ini, mungkin saya tidak lahir,” kata Tedy mengawali, dan kemudian membacakan puisi ‘Surat Cinta’. Puisinya cukup panjang. Berikut ini kutipan satu alinea yang terdiri dari 6 baris puisi tersebut:

Konten Terkait:  Lagu Puisi dari Penyair

“Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur mainan
anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah.
Wahai, dik Narti
aku cinta padamu!”

Meskipun berbeda dari Rendra, namun Tedy cukup menarik dalam membaca puisi, dan tidak harus meniru Rendra dalam membaca puisi. Tedy memang mempunyai gaya sendiri. Lima Puisi karya Rendra dibacakan dalam dua kali tampil. Pertama tampil di awal membacakan dua puisi, dan sebelum penutup. Tedy membacakan tiga puisi, salah satunya berjudul ‘Rich Dari Corona’.

“Saya akan membacakan puisi, yang saya kira disenangi oleh teman-teman saya alumni de Britto, yang malam ini hadir di Sastra Bulan Purnama ini,” ujar Tedy mengawali.

Ketika Tedy memulai membaca puisi berjudul ‘Rich Dari Corona’ teman-temannya dari de Britto bertepuk tangan, mungkin ingat persahabatan mereka 40 tahun lalu ketika masih sekolah SMA, dan sering membacakan puisi karya Rendra tersebut. Kalimat terakhir dari puisi tersebut, yang barangkali mengingatkan persahabatan mereka.

Tedy memang bukan si ‘Burung Merak’ dan tidak bisa disamakan dengannya, namun kalau mencoba mencari identifikasi, barangkali bisa disebut sebagai si ‘Burung Blekok’.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here