Pameran tunggal, 11-20 Oktober 2019 di Jogja Gallery menjadi peristiwa bermakna bagi Andre Prasetia Winata. Pameran ini dapat dimaknai sebagai salah satu bentuk deklarasi dirinya sebagai seniman (perupa). Yogyakarta dipilih oleh Andre sebagai tempat pameran tunggalnya bukan tanpa alasan. Yogya mempunyai nilai sejarah dalam seni rupa Indonesia. Begitu banyak seniman tenar lahir dari Kota Yogyakarta. Atmosfir kesenimanan di Yogyakarta ini memikat Andre. Itulah sebab Andre pun ingin hadir memperkenalkan diri sebagai seniman kepada publik Yogyakarta.

Tema yang diambil Andre dalam pameran ini adalah ‘Sebelum Binasa’ yang merepresentasikan keresahan dan pesan Andre atas kondisi alam, terutama binatang yang terus terancam kelangsungan hidupnya. Pencemaran yang meningkat frekuensi, volume, dan kadarnya senantiasa menjadi ancaman serius oleh karena perilaku manusia. Sesungguhnya pencemaran tidak hanya mengancam kelangsungan hidup binatang, namun juga aneka tanaman, alam, dan bahkan pada gilirannya juga berbalik mengancam kehidupan manusia. Hal inilah yang menggelisahkan Andre yang kemudian dituangkannya dalam bentuk karya rupa.

Tolong Selamatkan Kami II, OOC, 130 x 150 cm, 2019, karya Andre Prasetia Winata-Foto-A.Sartono
Tolong Selamatkan Kami II, OOC, 130 x 150 cm, 2019, karya Andre Prasetia Winata-Foto-A.Sartono

Bumi yang kita tinggali bukanlah semata-mata milik manusia saja. Banyak makhluk hidup lain yang membutuhkannya. Akan tetapi kecerdasan dan keterampilan manusia yang terus bertambah jumlahnya kian mendesak dan meminggirkan bahkan memusnahkan makhluk-makhluk lain. Alih-alih ingin memanjakan dan memudahkan diri dengan apa yang dinamakan kemajuan dan kemodernan, manusia justru mengorbankan lingkungan alam dan makhluk lain. Kemajuan di satu sisi membawa kemunduran di  sisi lain.

Satu bahan/benda atau material yang sangat mengancam kehidupan di bumi adalah adanya plastik. Bahan ini tidak akan pernah membusuk atau terurai selama ratusan tahun. Ia akan terus “ada” dan terus bertambah jumlahnya. Bumi semakin dipenuhi plastik. Bumi terbungkus dan terisi plastik. Bahkan laut pun menjadi salah satu tumpuan akhir perjalanan hidup plastik yang gilirannya mencemari laut dalam arti keseluruhan. Hal itu pun masih ditambah pula dengan perburuan liar dan rusaknya “rumah” para ikan dan biota laut.

Konten Terkait:  Merah Muda: Semangat Muda Menuju Perupa Prima
Naga Api, OOC, 200 x 150 cm, 2019, karya Andre Prasetia Winata-Foto-A.Sartono
Naga Api, OOC, 200 x 150 cm, 2019, karya Andre Prasetia Winata-Foto-A.Sartono

Ikan, biota laut, karang, dan hal lain yang ada di laut telah banyak menarik perhatian manusia untuk memilikinya. Eksploitasi atasnya kemudian dilakukan. Dunia fashion, kuliner, kesehatan, dan aneka kenikmatan yang didapatkan dari laut menyebabkan laut tak henti dieksploitasi.

Rusa, OOc, 130 x 150 cm, 2017, karya Andre Prasetia Winata-Foto-A.Sartono
Rusa, OOc, 130 x 150 cm, 2017, karya Andre Prasetia Winata-Foto-A.Sartono

Keutuhan ciptaan berikut keanggunan serta keelokan makhluk hidup di laut telah menarik minat Andre untuk memvisualisasikannya dalam bentuk lukisan. Juga kerusakan dan”penderitaan” makhluk laut menarik perhatiannya untuk ditampilkan ke hadapan publik.

Perupa otodidak yang menampilkan 30 karya ini bukan hanya unjuk karya rupanya, namun melalui karya-karya itu ia ingin mengajak publik untuk peduli dan terlibat pada penyelamatan serta pelestarian keutuhan ciptaan Tuhan. Demikian antara lain nukilan pengantar pameran yang dituliskan oleh Tomi Firdaus atas pameran ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here