Sederet Penampil di Pembukaan Biennale Jogja XV

0
25

Pameran utama Biennale Jogja XV Equator #5 akan digelar. Tahun ini lokasi Biennale Jogja ada di berbagai tempat di Kota Jogja, yakni di Jogja Nasional Museum, Taman Budaya Yogyakarta, Kampung Jogoyudan, Ketandan 17, dan Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri.

Pada malam pembukaan 20 Oktober 2019 sederet musisi yang merepresentasikan tema pinggiran, seperti tema yang diangkat Biennale Jogja XV tampil di Jogja National Museum.

Satu di antaranya Voice of Baceprot, tiga mojang asal Garut, Jawa Barat yang terdiri dari Firda Kurnia (vokal dan gitar), Euis Siti Aisyah (drum) dan Widi Rahmawati (bass). Berbeda dengan kebanyakan band bergenre metal lainnya, semua anggota VOB merupakan lulusan Madrasah Tsanawiyah Al-Baqiyatussolihat yang notabene identik dengan mengenakan hijab.

Voice of Baceprot

Meski sempat mendapat cibiran dari masyarakat, VoB terus berkarya. Dalam bahasa sunda, Baceprot artinya berisik. Selain lewat tampilan, mereka juga berusaha mengubah stigma buruk musik metal dengan mengusung tema “The Other Side of Mentalism”.

Lirik yang diusung dalam setiap lagu mereka bisa menjadi patokannya. Sebut saja ‘School Revolution’, ‘Perempuan Merdeka Seutuhnya’ dan ‘Kentut RUUP (Merdeka Itu Kentut)’ yang semuanya berasal dari kegelisahan mereka.

Dimotori oleh Abah Ersa Eka Susila, VoB sedikit banyak berhasil memunculkan metal rasa baru ini.

Selain itu ada Amuba yang menjadi gambaran dari gerakan kelompok queer, yang menunjukkan pernyataan bagaimana praktik seni memberi dukungan pada kelompok-kelompok yang terpinggirkan.

Sedangkan dua seniman partisipan, Pisitakun Kuantalaeng (Thailand) dan Yennu Ariendra memanggungkan projek mereka yang diinspirasi oleh sejarah dan tradisi di masyarakat etnis.

Y-DRA

Proyek yang dikerjakan Yennu Ariendra untuk Biennale Jogja XV masih terkait erat dengan proyek-proyek yang pernah ia garap sebelumnya. Dimulai dari cerita tentang Raja Kirik, yang mengadopsi kesenian Jaranan Buto di Banyuwangi, Jawa Timur, lalu kemudian ekspresi musik akar rumput lewat dangdut koplo.

Konten Terkait:  Workshop Penulisan Novel Berbahasa Jawa: Awal Menuju Karya Bermutu

Melalui ketiga fragmen tersebut, Yennu mengajak pengunjung Biennale Jogja 2019 untuk melihat berbagai bentuk perlawanan melalui ekspresi-ekspresi kesenian.

Tim kurator Biennale Jogja XV Equator #5 yang terdiri dari Akiq AW, Arham Rahman, dan Penwadee Nopaket Manont (Thailand) memilih Do we live in the same PLAYGROUND? sebagai judul pameran.

Tajuk ini dipilih untuk merangkum pembacaan Biennale Jogja dan seniman-seniman yang terlibat di dalam perhelatan Biennale Jogja Equator 5 atas segelintir persoalan “pinggiran” yang berlangsung di kawasan Asia Tenggara, terutama yang beririsan dengan masalah identitas (gender, ras, dan agama), narasi kecil, konflik sosial-politik, perburuhan, lingkungan, atau yang lebih spesifik, praktik kesenian.

PLAYGROUND adalah alegori bagi ruang hidup dan/atau ruang ekspresi kita yang acap kali tampak menyenangkan, tetapi mempunyai berlapis-lapis persoalan di baliknya. Kita tidak hanya perlu mengurai dan mengenali persoalan-persoalan itu, tetapi juga bertanya–terutama kepada diri kita sendiri–tentang bagaimana kita akan mengambil posisi (entah sebagai seniman, kurator, penikmat kesenian, dan pihak-pihak lain) terhadap berbagai isu bersama yang hadir di hadapan kita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here