Puisi Eddy Pranata PNP

0
60

Mengayuh Sampan Sendirian

Aku tidak sedih mengayuh sampan sendirian
di laut yang puluhan tahun sudah kuarungi
Aku mengenal betul ombak, karang-karang,
bahkan buih-buih sepanjang garis pantai,
yang sekali pun tidak akan menyakiti

Aku tidak mau menangkap camar liar
yang sering bertengger di atas sampan
Dan matahari yang jatuh menyepuh permukaan laut

berkilat-kilat serupa negeri asing yang jauh
tetapi terkadang mencekam
tetapi aku tidak ingin terpesona dengan kemilaunya

Aku selalu saja memeluk teguh cintaku pada Weisku
dan, sekali lagi, aku tidak sedih mengayuh sampan sendirian
sepanjang garis pantai, yang sekali pun tidak akan pernah menyakitkan

Kulit dan lidahku sudah terbiasa dengan asin kelat
keringat dan darah aku pertaruhkan

sampan ini sudah sangat terbiasa diayun-ayun ombak
dan gelombang, dan sesekali aku berdiri di atas sampan
merentangkan kedua tangan ke langit dan berteriak
:  “Aku tidak ingin tenggelam dalam pusaran gelombang!”

Jaspinka, 2019

 

Terjunlah ke Gelora Lautku

Berdirilah di depan cermin yang paling besar
bayang siapakah yang kaulihat
adakah dalam bayang itu sosok lain
yang sungguh memahami dan mencinta
dengan tulus ikhlas
dan benar menyatu untuk selamanya

Berdirilah dengan kepala tegak
tidak dengan rasa putus asa
: kaupeluk eratlah “karang lautmu”

Berapa lama engkau berdiri di situ
di bibir pantai dekat tebing karang
lalu – yang kauingat berapa kali sudah ombak
menghempas memecah dengan debur
menghancurkan sakit hatimu
meredam egomu dan mengurai kusut pikiranmu

Kuharap engkau bisa melihatku
tengah mengendarai gelombang
tak begitu jauh dari tempatmu berdiri

Hai, kuatkan hati jiwamu
terjunlah ke gelora lautku!

Jaspinka, 2019

 

Berbagi Laut Kepadamu, Weisku

 Tentu aku ingin berbagi laut kepadamu, Weisku
selagi camar melayang dan hinggap di sampanku
:  “debar ini, debur ini senantiasa memabukkanku,”  jeritmu
Aku pun membiarkanmu mencebur ke lautku
laut yang bergelora dengan karang-karang runcingnya!

Tetapi hanya sampai dermaga Sleko aku mengantarmu
tak bisa ikut ke Kampung Laut
memecah matahari dari atas perahu

: “hidup menderu-menderas, di atas alun gelombang
dengan asin-kelat dengan kelepak camar
Tuhan, beri ombak yang menghempas
berupa segala kesenangan dan kebaikan!”

Dan dari ketinggian menara mercusuar, aku lihat
perahumu terombang-ambing membelah selat
Apa yang kaubawa dalam perahumu yang gemerlap
Adakah ribuan kuntum edelweis atau ratusan sajak jingga
yang harus kupahami

Ou, merapatlah perahumu ke dermaga, aku segera
menjemputmu dan memelukmu sepenuh rindu.

Jaspinka, 2019

 

Pelabuhan Menerima Segala Kisah

Aroma laut dan debu beterbangan
bukan hanya kegetiran hidup seperti yang kaukira
: ini pelabuhan menerima segala kesah, segala kisah,
dan tak ada mawar gugur, tak ada sampan rapuh
berlumur doa

Konten Terkait:  Prof RM Ngabehi Poerbatjaraka Mewarnai Museum UGM

Aku terpesona aroma laut
darah cintaku kian meluap-luap
“di laut ini, segalanya terasa menyenangkan”

: Sampan yang dilambung-lambung gelombang
kesetiaan dengan seluruh kasih pada mercusuar
asin laut yang memabukkan
liuk camar yang menjauh dengan sayap mengembang
dan karang-karang membisikkan bahwa hidup adalah
pertarungan dengan matahari dan rembulan dan
bermuara di lautan kasih

Sampan yang dilambung-lambung gelombang
di kanan-kirinya tebing karang!

Jaspinka, 2019

 

Berlayarlah di Atas Gelombang Lautku

Berlayarlah, berlayarlah di atas gelombang lautku
dengan pendayung kata, dengan hati cahaya!
yang aku inginkan bukan pisau bermata dua
yang kauselipkan di balik punggungmu
: “tetapi setangkai mawar saja, yang berwarna jingga!”

(ou, engkau tertidur begitu lelap di atas gelombang lautku
hanya suaramu, hanya suaramu yang menggema
bersipongang dalam Sunyi nyeriku!)

Berlayarlah, berlayarlah di atas gelombang lautku
lewati karang-karang, selat dan matahari senja
Ini luka kian nganga, kauelus penuh sukacita, ciah!

 Jaspinka, 2019

Eddy Pranata PNP meraih anugerah Puisi Umum Terbaik Lomba Cipta Cerpen dan Puisi tahun 2019 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI bekerja sama dengan Yayasan Hari Puisi. Juara 1 Lomba Cipta Puisi Sabana Pustaka tahun 2016, Nomine Penghargaan Sastra Litera tahun 2017 dan 2018, Nomine Krakatau Award 2017 dan 2019.Sejak tahun 2004 mengelola Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat, Jawa Tengah. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017).

Puisinya dipublikasikan di Horison, Tembi, Aksara, Litera, Kanal, Jejak, Jawa Pos, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Banjarmasin Pos, Suara NTB, Solopos.

Puisinya juga terhimpun ke dalam antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Bersepeda ke Bulan (2014), Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Matahari Cinta Samudera Kata (2016), Negeri Awan (2017), Seutas Tali Segelas Anggur (2017), Hikayat Secangkir Robusta (2017), Mengunyah Geram (2017), Negeri Bahari (2018), Kepada Hujan di Bulan Purnama (2018), Monolog di Penjara (2018), Kota Kata Kita (2019), Negeri Pesisiran (2019).

Alamat: Cirebah RT 02/RW 08 Desa Cihonje, Kec. Gumelar, Kab. Banyumas, Jawa Tengah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here