Ki Ageng Tunggul Wulung dipercaya merupakan salah satu kerabat dari penguasa Kerajaan Majapahit yang melarikan diri ketika Majapahit mengalami kemunduran. Ki Ageng Tunggul Wulung ini dalam pelariannya untuk mencari tempat yang aman dan nyaman menuju ke arah barat hingga sampai di wilayah Padukuhan Diro.

Di tempat ini ia bersama rombongannya sempat mendirikan pesanggrahan yang kemudian dikenal dengan Pesanggrahan Mendiro. Usai singgah beberapa saat di pesanggrahan itu ia melanjutkan perjalanan ke arah barat hingga sampai di Padukuhan Dukuhan, tepatnya di tepian Sungai Progo. Di tempat inilah ia dipercaya moksa pada hari Jumat Pon. Padukuhan Dukuhan berada di Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, DIY.

Selang beberapa lama kemudian ada pula rombongan ledhek barangan (pengamen ledek/tayub) yang sampai di tepian Sungai Progo. Di tempat Ki Ageng Tunggul Wulung moksa itu ledhek yang bernama Raden Ayu Sari Rampin tiba-tiba juga moksa. Kebetulan pula Raden Ayu Sari Rampin moksa di hari Jumat Pon.

Sejumlah gunungan yang dikirab dalam Upacara Adat Tunggul Wulung-Foto-A.Sartono
Sejumlah gunungan yang dikirab dalam Upacara Adat Tunggul Wulung-Foto-A.Sartono

Oleh karena itu pula hari Jumat Pon menjadi hari yang dikhususkan untuk memperingati Ki Ageng Tunggul Wulung dan Raden Ayu Sari Rampin, khususnya di bulan Sura/pasca panen rendhengan. Pada hari itu, setidaknya sejak tahun 1960-an warga Sendangagung kemudian mengadakan upacara adat sebagai bentuk peringatan akan keduanya.

Upacara yang kemudian dikenal dengan nama Upacara Adat Ki Ageng Tunggul Wulung ini biasanya berupa serangkaian acara mulai dari bersih desa, kenduri, nyekar ke petilasan, pentas kesenian, dan puncaknya berupa kirab gunungan yang diikuti oleh hampir semua pedukuhan di Desa Sendangagung.

Kirab ini umumnya juga dilengkapi dengan atraksi kesenian, bregada/rombongan dari masing-masing padukuhan. Kirab dimulai dari Lapangan Sendangagung menuju Petilasan/Makam Ki Ageng Tunggul Wulung. Setelah didoakan semua gunungan tersebut kemudian diperebutkan oleh siapa pun yang hadir di tempat itu.

Konten Terkait:  Ono Uni Menggarap Lagu Puisi dengan Lintas Genre
Penari Tayub dan pengibing berfoto bersama dalam Upacara Adat Ki Ageng Tunggul Wulung-Foto-A.Sartono
Penari Tayub dan pengibing berfoto bersama dalam Upacara Adat Ki Ageng Tunggul Wulung-Foto-A.Sartono

Usai itu acara dilanjutkan dengan pentas Sontit Kawilujengan (semacam pembuka pentas Tari Tayub). Tayub di Padukuhan ini juga tergolong unik karena dibagi menjadi dua kategori: Tayub Sakral dan Tayub Ibingan. Tayub Sakral dilaksanakan untuk menghormati Ki Ageng Tunggul Wulung dan Raden Ayu Sari Rampin dan Tayub Ibingan digunakan untuk menghibur warga.

Untuk Upacara Adat Tunggul Wulung tahun 2019 ini jatuh pada hari Jumat Pon, 20 September 2019. Acara kirab dimulai pukul 13.00-17.00 WIB. Malam hari setelah pementasan Tayub dipentaskan juga wayang kulit semalam suntuk. Dalam kesempatan itu, HY Aji Wulantara SH MHum selaku          Kepala Dinas Kebudayaan Sleman menyampaikan sambutannya yang menyatakan apresiasi terhadap penyelenggaraan acara ini. Profisiat karena masyarakat terus setia dalam nguri-uri kebudayaan. Kiranya ke depan hal ini terus menjadi ikon wisata wilayah Sendangagung dan juga kiranya semakin kreatif. Semoga dengan acara ini warga masyarakat kian guyub rukun dan hidup makmur sejahtera.

Upacara Adat Tunggul Wulung tahun 2019 ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena pada penyelenggaraan kali ini gunungan yang dikirab berjumlah 12 buah. Sedangkan pada waktu sebelumnya hanya berkisar 3-5 gunungan saja. Kirab juga diikuri hampir semua pedukuhan di Sendangagung. Pesertanya mencapai 2.000 orang lebih di luar penonton. Alhasil kirab terasa lebih meriah.

Suasana rebutan gunungan di Pendapa Ki Ageng Tunggul Wulung-Foto-A.Sartono
Suasana rebutan gunungan di Pendapa Ki Ageng Tunggul Wulung-Foto-A.Sartono

Perebutan gunungan juga terasa lebih menggairahkan karena yang terlibat semakin banyak dan perolehannya pun semakin banyak. Suguhan nasi gurih yang diedarkan ke semua warga/penonton juga menambah kegembiraan. Lebih-lebih lagi di tengah-tengah acara Tayub ada pembagian door prize.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here