Sukro tewas mengenaskan. Tubuhnya dipegang kuat dan diangkat hingga kakinya tidak menjejak tanah, dan tombak-tombak menghujam dadanya seolah menahannya di udara. Cara mati yang kejam tapi sekaligus artistik. Dan ironis, karena yang mati adalah tokoh protagonis. Inilah akhir dari pertunjukan ketoprak bertajuk ‘Srengene Kembar’ (Matahari Kembar) di Balai Desa Tamantirto, Kasihan, Bantul.

Sukro (Vincent Kritiyadi) bukan tokoh sembarangan. Masyarakat mengenalnya sebagai putra Patih Sindurejo (Arie Wibisono) dan RA Klenting Wungu (Trihtiar). Namun ternyata Sukro adalah anak bawaan Klenting Wungu yang menjanda, dan kemudian menikah dengan Sindurejo. Siapa sangka ternyata ayah kandung Sukro adalah Trunajaya, musuh nomor satu Kerajaan Mataram. Meski Trunajaya telah tewas namun kehadiran putranya dianggap Sutikno sebagai duri dalam daging yang harus segera dimusnahkan. Sutikno  (Maryadi) adalah putra raja Amangkurat Amral (Edi Ismoyo), yang disiapkan meneruskan tahta Kerajaan Mataram. Bagi Sutikno, Sukro adalah matahari kembar yang bisa mengancam kedudukannya.

Amangkurat Amral dan Pangeran Puger membahas perilaku Sutikno - Foto Barata
Amangkurat Amral dan Pangeran Puger membahas perilaku Sutikno – Foto Barata

Namun, Sutikno memiliki karakter dan perangai yang buruk. Sombong, egois, sewenang-wenang. Adigang adigung adiguna. Sebaliknya Sukro berkarakter baik. Tapi pada satu tahapan hidup, kebaikan tidak selalu menang. Di adegan awal, prajurit-prajurit Sutikno mengeroyok Sukro hingga terkulai tak berdaya. Amangkurat yang mendapat laporan kemudian mendamprat Sutikno habis-habisan, bahkan mengancam tidak akan mewariskan tahtanya. Toh di adegan akhir, Sukro mati.

Bukan saja Sindurejo dan Klenting Wungu yang berduka atas kematian Sukro. Istri Sutikno, RA Lembah (Tyas Sari), juga sangat bersedih. Ia memang sedang menjalin kasih dengan Sukro. Diawali dengan pengusiran dirinya oleh Sutikno karena dianggap membela Sukro yang dianiaya oleh prajurit-prajurit Sutikno pada adegan pembuka. Saat mengusir, Sutikno menegaskan bahwa ia mengembalikan Lembah kepada kedua orang tuanya, Pangeran Puger (Singgih Nurjono). Lembah menganggap tindakan itu sebagai penghinaan, sekaligus perceraian.

Di sisi lain, tindakan Sutikno justru membebaskannya karena ia tidak mencintai Sutikno. Alih-alih mencintai Sutikno, hatinya terpikat pada Sukro. Kisah cinta Lembah dan Sukro pun berlanjut. Sutikno kemudian mendengar kisah kasih itu yang mengobarkan api kecemburuan sekaligus api kesombongan dirinya yang merasa sebagai pemilik Lembah. Di adegan akhir, Sutikno dan Sukro berduel. Sutikno kalah namun segera meminta bantuan prajurit-prajurit bawahannya. Sukro pun menemui ajalnya.

Konten Terkait:  Drama Musikal Suara Hati akan Manjakan Telinga Lewat Hebatnya Paduan Suara Anak
Sukro dikalahkan dan ditangkap prajurit Sutikno - Foto Barata
Sukro dikalahkan dan ditangkap prajurit Sutikno – Foto Barata

Dalam durasi sekitar tiga jam, pementasan ini tampil komplit. Mulai dari adegan romantis yang dihiasi tembang, dagelan para abdi, tarian klasik, hingga perkelahian seru. Penonton dimanjakan banyak adegan laga yang yang muncul pada awal, tengah dan akhir pertunjukan. Bahkan di tengah pertunjukan adegan laga sengaja dieksploatasi dengan beragam gaya akrobatik dan jurus silat lewat adegan latihan tanding para prajurit.

Tak ketinggalan layar latar artistik yang selain menandai tempat kejadian juga menandai perpindahan adegan. Mulai dari hutan hingga keraton. Sukro dan Lembah yang berasyik-masyuk memadu kasih berbalas tembang di Taman Sari pun terasa lebih romantis.

Tari tayub menyemarakkan pentas - Foto Barata
Tari tayub menyemarakkan pentas – Foto Barata

Pementasan ketoprak yang didukung Dana Keistimewaan DIY ini dimainkan oleh Paguyuban Nyawiji Budaya dengan sutradara Dhanik Suratno, dibantu penata gending Ki ML Cermokartiko Sri Mulyono, penata artistik dan properti Purwantono, penata tari Dessy Prastiwi, serta penata rias dan busana Dhani Candra.

Hajatan gelar budaya yang diselenggarakan sebagai perayaan hari jadi ke-73 Desa Tamantirto pada September ini selama enam hari diisi dengan berbagai acara seni budaya tradisional. Dengan pameo ‘eling dina eling budoyo’, selain pementasan, juga diadakan lomba panembromo dan bregada.

Di tengah dominasi pementasan wayang kulit di berbagai desa dan dusun di Daerah Istimewa Yogyakarta, pementasan ketoprak ini menjadi selingan yang menarik. Selayaknya kekayaan seni tradisi seperti pentas ketoprak, wayang wong, langen mandra wanara, maupun seni tradisi yang jarang dipentaskan, menjadi pilihan untuk rutin dipentaskan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here