Penulis buku Marchella FP yang akhir-akhir ini menjadi populer di kalangan generasi muda lewat beberapa bukunya yaitu ‘Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini’ dan ‘Generasi 90-an’ mengadakan bincang-bincang mengenai buku lainnya yaitu ‘Kamu Terlalu Banyak Bercanda’ di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, Sabtu 06 Oktober 2019.

Hadir di GIK, Marchella turut menggandeng ketiga temannya yaitu Reza Chandika yang lebih dikenal sebagai influencer di media sosial; TV personality Maria Juliana; dan fotografer Rendha Rais. Berempat, mereka membedah buku Kamu Terlalu Banyak Bercanda dan menginterpretasikan isi buku itu sesuai dengan pandangan mereka masing-masing.

Marchella menuturkan sedikit tentang bukunya, “Buku Kamu Terlalu Banyak ini, kalau kalian baca Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini (NKCTHI), NKCTHI adalah surat yang dikirim oleh Awan di masa depan untuknya. Dan buku KTTB ini adalah kumpulan surat yang tidak pernah dikirim oleh Awan. Kumpulan surat kemarahannya, kesedihannya, kegagalannya, dan semua hal yang diumpetin selam 10 tahun”.

Kemudian Marchella telah memilih 4 halaman dalam buku Kamu Terlalu Banyak Bercanda untuk dibacakan. Diiringi dengan dentingan piano, Marchella dengan khusyuk membacakan kalimat.

Katanya,
“Kamu terlalu banyak bercanda”
Sama,
Kita sedih
Kita marah
Kita takut
Tapi, kita simpan.

Setelah membaca penggalan isi bukunya, Marchella menanyakan pendapat ketiga temannya. “Dari tulisan ini, menurut lo gimana? Agak singkat aja”.

Marchella FP Membedah Buku Karyanya Kamu Terlalu Banyak Bercanda foto - Image Dynamic
Marchella FP Membedah Buku Karyanya Kamu Terlalu Banyak Bercanda foto – Image Dynamic

Reza Chandika menjawab “Bercermin” kemudian ia menjelaskannya lebih panjang, Reza sering mendapat pesan dari followers yang menganggap hidupnya enak karena bahagia dan tidak pernah terlihat sedih.

“Gue juga pernah sedih. Cuma menurut gue kenapa mesti gue taruh di sosial media di saat gue punya sahabat-sahabat gue sendiri, sodara gue sendiri, keluarga gue sendiri, yang udah kenal gue dari kecil jadi udah tau, ‘oh solusi lo kaya gini za’,” jelasnya.

Sedangkan Rendha, punya pandangan yang hampir sama dengan Reza. “Kaya yang Reza bilang, gak mungkin gue jual kesedihan gue di social media, itu bisa jadi boomerang buat kita juga. Maksudnya kaya ‘Ih, dia kerjanya sedih mulu.’ Yang ada kita gak bikin senang orang, tapi orang lihat kita jadi kasian sama kita.”

Halaman kedua yang Marchella baca berjudul “Harga Tamat” merupakan salah satu tulisan favorit Marchella ketika ia tidak sabar ingin mengetahui ending dari masalah yang dihadapi. “Tapi bila saya bisa memberli akhir cerita, saya bersedia. Tolong beri tahu saya, berapa harga tamat” ucap Marchella membacakan akhir tulisannya.

Mayu yang pertama kali memberikan komentar. Menurutnya banyak orang di luar sana yang akan relate dengan tulisan ‘Harga Tamat’ ini. Ia menuturkan pernah ingin merasakan langsung ending ceritanya dan tidak mengalami kesedihan-kesedihan seperti pada saat ayah dan ibunya meninggalkannya. “Dari situ gue merasa kaya tulisan ini. Boleh enggak, sih, gue nyari duit, buat beli ending hidup gue tuh kaya gimana”.

Konten Terkait:  Sosrokartono, Seorang Nasionalis yang Fasih Bicara dalam 26 Bahasa Asing

Di lain sisi, Reza, belum pernah merasakan ‘Harga Tamat’ “Tapi gue yakin banget ketika kita dikasih kejadian yang emang kita gamau, itu sebenarnya kita lagi diuji.” Saran dari Reza, jika kita sedang ,erasakan sedih, trutama untung oang-orang yang terlihat sering bercanda, dikeluarkan aja kesedihannya, namun jangan kelamaan.

Marcella FB Mengajak Tiga Temannya Membedah Buku foto - Image Dynamic
Marcella FB Mengajak Tiga Temannya Membedah Buku foto – Image Dynamic

Sedangkan Rendha lebih melihat tulisan ‘Harga Tamat’ ini kepada ranah percintaan. Halaman ketiga yang Marchella baca mempunyai inti “Bila diri terus jadi obat, kapan hati sendiri sehat”

Di penghujung acara, Marchella menuturkan bahwa ia belajar sekali dari teman-teman baiknya. “Semoga teman-teman di sini juga menemukan sesuatu kali ini, mendapatkan pelajaran hari ini,” ujarnya. Acara bedah buku Kamu Terlalu Banyak Bercanda kemudian ditutup dengan pesan-pesan dari ketiga temannya Marchella.

Mayu berpesan jika kita berhak menolak curhatan teman kita jika sedang dalam kondisi tidak mood untuk mendengarkan. Kemudia juga untuk teman-teman yang hendak curhat ke temannya, ada baiknya menanyakan terlebih dahulu suasana hati temen yang akan dicurhati. Lagi merasa baik atau tidak, “Jadi jangan sampai curhat ke dia, malah jadi ngerusak mental dia.”

Kalau Rendha hanya berpesan singkat tetapi “Bikin orang senang boleh, tapi jangan pernah lupa kebahagiaan lo sendiri. Karena kebahagaian lo sendiri lebih penting dari kebahagian orang lain.”

Terakhir, ditutup dengan pesan Reza, “Untuk yang gak senasib dengan kita (maksudnya orang yang sering curhat) Jangan lupa untuk menjadi pribadi yang peka dan jangan egois. Dan untuk yang senasib dengan kita, jangan lupa untuk kasih reward ke diri sendiri”.

Dari acara bedah buku Kamu Terlalu Banyak Bercanda yang meski penuh bercandaan khas Reza Chandika dan kawan-kawan, kita bisa mengetahui bahwa orang yang kelihatannya banyak bercanda kerap mempunyai masalahnya sendiri, yang ia simpan sendiri. (*)

Tetapi ketika sudah mengetahui hal tersebut, jangan malah merasa sungkan untuk menceritakan masalah kepada seseorang terdekat atau mendengarkan curhatan orang. Asalkan kita tetap menerapkan prinsip yang sudah disampaikan Marchella, Reza, Mayu dan Rendha, tetap menjadi pribadi yang peka, toleran dan utamakan kebahagaian diri sendiri di atas kebahagian orang lain.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here