Maluku mempunyai luas sekitar 900 km2, umumnya terdiri dari pulau-pulau vulkanis atau pulau-pulau karang yang berbukit-bukit atau bergunung-gunung, dengan dataran rendah yang tidak terlalu luas. Hampir 90 % terdiri lautan dan sisanya daratan. Penduduk Maluku berasal dari berbagai ras dan suku bangsa, yang telah datang sejak berabad-abad lampau.

Berdasarkan lokasi permukiman, penduduk Maluku terbagi dua yaitu di daerah pantai dan daerah pegunungan. Daerah pantai adalah daerah yang lebih sering didatangi orang asing bahkan ada yang tinggal entah hanya sebentar, lama atau bahkan menetap. Interaksi ini menyebabkan terjadinya  percampuran kebudayaan dan lahir kebudayaan baru. Berbeda dengan yang ada di  daerah pegunungan, kebudayaan relatif ‘stagnan’ dan dinamikanya lambat.

Dalam masalah religi (kepercayaan), agama Islam dan agama Kristen mempunyai pengaruh yang cukup besar. Keduanya mampu menggeser atau menggantikan kepercayaan lama, walaupun sisa-sisa kepercayaan lama masih ada dan digunakan, terutama dalam upacara-upacara tradisi. Agama ini juga membawa pengaruh dalam pemberian nama pada seseorang, juga memunculkan tokoh dengan jabatan tertentu yang mempunyai pengaruh pada masyarakat.

Penduduk Maluku yang terdiri dari berbagai macam suku ini mempunyai bahasa sendiri-sendiri.  Bahasa selain sebagai alat komunikasi, juga mengandung nilai historis. Misalnya tradisi lisan  kapata (lebih menonjolkan peristiwa perang) dan lania (lebih menonjolkan peristiwa sedih, misal pengkhianatan).

Tradisi lain yang menonjol adalah pela dan gandong, yaitu pertemuan yang diteruskan dengan  suatu perjanjian. Pertemuan dilakukan oleh dua negeri atau kelompok atau lebih. Isi perjanjian tersebut antara lain, saling menolong apabila membutuhkan (baik negeri/kelompok atau individu) dan sanksi atau hukuman apabila ada pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan baik kelompok maupun individu. Tradisi ini sangat bermanfaat untuk menjaga kerukunan dan menghindarkan pertikaian.

Konten Terkait:  We Ar{t}e Here, Pameran Lukisan di Tembi

Ketika bangsa Eropa (Portugis dan Belanda) datang, yang pada akhirnya menjadi penjajah, untuk memudahkan komunikasi digunakan ‘bahasa Melayu’. Bahasa Melayu ini terutama digunakan di daerah-daerah dengan penganut Kristen mayoritas.  Tentu saja tetap tercampur dengan bahasa setempat. Pengaruh Eropa lainnya adalah adanya lembaga pendidikan yang dinamakan sekolah dan bidang arsitektur. Untuk mencapai keuntungan, Portugis dan Belanda ikut campur tangan dalam masalah politik dan pemerintahan, yang seringkali merugikan penduduk setempat. Politik ini telah menyebabkan perpecahan dan hilangnya kerukunan.

Judul: Sejarah Kebudayaan Maluku
Penulis: R.Z. Leirissa, G.A. Ohorella, Djuariah Latuconsina
Penerbit: Depdikbud, 1999, Jakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: xiii + 143

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here