Perhelatan seni rupa internasional di sebuah galeri yang tidak begitu besar, galeri yang pertama kali dibuka, milik seorang perupa muda. Meski terjadi di Yogyakarta, ini tetaplah fenomena kesenian yang menarik. Pameran 100 artis dari 100 negara diselenggarakan di OK Gallery, Warungboto, milik pematung muda Valentinus Rommy Iskandar.

Galeri yang didisain artistik ini baru dikenal secara terbatas karena baru dibuka perdana. Kepada Tembi, Rommy mengaku bahwa sebenarnya galeri tersebut belum waktunya dibuka. Tapi akhirnya dipercepat karena ia menjadi tuan rumah acara internasional ini.

Tak kalah menarik, pada saat pembukaan pameran yang hadir bukan saja seniman dan budayawan serta pejabat pemerintah daerah, namun juga warga yang tinggal di Warungboto. Rommy mengatakan, dia sengaja mengundang warga sekitar supaya mereka bisa menikmati karya seni rupa dan tidak sungkan memasuki galeri seni rupa. Ia juga melibatkan warga sekitar untuk tampil pada malam pembukaan pameran.

Gen Morimoto (Japan) – Foto Barata

Pameran bertajuk ‘Intercontinental Art Exhibition: Cultural Impression’ ini bisa terselenggara, selain karena partisipasi Rommy, juga berkat dukungan Inter-Art Foundation Aiud, Rumania. Pameran yang berlangsung pada September ini memang merupakan program Inter-Art Foundation. Rencananya, kata Rommy, seluruh karya dalam pameran ini akan digilir ke 99 negara lainnya untuk dipamerkan. Setelah Yogyakarta, pameran akan diadakan di Senegal, kemudian Turki.

Presiden Inter-Art Foundation, Stefan Balog, yang juga menjadi kurator pameran ini, mengatakan, setiap artis mengekspresikan impresi individualnya melalui karyanya yang menghargai kebudayaannya sendiri, refleksi mendalam dari identitas etniknya. Beragam emosi, perasaan, kenangan bercampur bersama sebagai puzzle raksasa pada karya kolektif dari 100 artis.

Melihat karya-karya yang dipamerkan memang menyenangkan. Terutama karena pameran ini ikut menyadarkan kita sebagai umat manusia dalam dunia yang sama dengan keragamannya. Budayawan Sindhunata dalam pengantarnya menulis bahwa seni akan diperkaya, diperdalam dan dipercantik, bila ia mau mendialogkan kelokalannya dengan keuniversalan.

Lebih lanjut, Sindhunata menjelaskan, “Kemanusian sendiri makin hari makin tidak bisa lagi dimengerti sebagai kemanusiaan yang sempit, terbatas, lokal atau nasional. Tapi kemanusiaan yang meluas, global dan universal. Seni harus berani meninggalkan kemapanan dan kemapanan sendiri. Baginya juga berlaku tuntutan era post-truth, gelisah dan mempertanyakan kebenaran dan keindahannya, lalu mencari kebenaran dan keindahan apa yang mungkin bisa diraih di dalam dialog universalnya, di mana ia berjumpa dengan kebenaran dan keindahan seni-seni lokal lainnya.”

Konten Terkait:  Klasikisme Pameran Foto Kekinian dengan Tampilan Masa Lalu
Asha Dangol (Nepal) - Foto Barata
Asha Dangol (Nepal) – Foto Barata

Sebagian peserta bukan dari negara yang terkenal dengan seniman seni rupanya. Bahkan alih-alih terkait sejarah dan perkembangan seni rupa, sebagian negara malah tidak pernah terdengar, atau diketahui ada di atlas dunia (bagi publik umumnya, bukan pelajaran geografi di sekolah). Misalnya, Benin, Cape Verde, Latvia, Micronesia, dan Moldova. Dan inilah justru poin lebihnya.

Termasuk Yogyakarta, yang mewakili Indonesia, menjadi lebih dikenal, setidaknya di 99 negara peserta pameran ini. Karenanya pengantar pameran yang ditulis akademisi seni rupa Dwi Marianto banyak mengangkat soal daya tarik Yogyakarta serta peranannya dalam seni rupa. Katalog pameran, selain foto-foto karya, juga berisi foto-foto ikon-ikon budaya dan wisata di Yogyakarta.

Karya-karya yang dipajang dalam pameran ini rata-rata berukuran kecil karena alasan praktis, dengan beragam gaya, aliran, dan teknik. Kita bisa menikmati mulai dari realisme, ekspresionisme, impresionisme sampai aliran-aliran lain; mulai dari lukisan, grafis sampai kolase. Begitu pula medianya bermacam-macam, seperti kanvas, kertas, plastik, cat akrilik, cat air, pastel, cukil kayu, print, tinta, pen, dan mix media.

Sayangnya, karya yang dipamerkan hanya diberi keterangan perupa dan negaranya. Tidak ada keterangan tentang judul dan medianya. Mengingat bahwa karya-karya ini membawa keunikan masing-masing negara, akan lebih baik lagi jika disertai deskripsi karya. Misalnya, karya Rommy akan lebih mengena ketika dijelaskan makna dan filosofinya.

Valentino Rommy Iskandar (Indonesia) - Foto Barata
Valentino Rommy Iskandar (Indonesia) – Foto Barata

Dalam warna hitam putih, Rommy menggambar deretan wayang bersusun tiga baris. Lukisan cat akrilik keluarga Kurawa ini, menurut Rommy, merupakan ajakan instropeksi diri, agar kita tidak hanya menilai sisi negatif orang lain. Manusia perlu bercermin bukan saja pada hal yang baik, tapi juga pada hal yang buruk. Jika dicermati, memang keserupaan bentuk wayang yang berderet mengesankan berbagai pengejawantahan diri yang bisa terjadi secara personal pada diri satu orang, pada diri kita masing-masing. Jika ditarik lebih jauh, jumlah seratus anggota Kurawa dan jumlah seratus peserta pameran ini menjadi representasi yang tepat.

Selain Rommy, karya-karya yang dipamerkan cenderung mengangkat persoalan kemanusiaan, termasuk soal cinta, kesetaraan dan solidaritas, selain masalah konflik, lingkungan dan kemiskinan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here