Dalam rangka Joglit  Fest (Festival Sastra Jogja 2019) Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul bekerja sama dengan Teater Banyu dan SMK I Bugisan menyelenggarakan sandiwara berbahasa Jawa dengan lakon Aja Dumeh. Naskah lakon ini merupakan karya dari Ofelia Galuh dan sutradara oleh Heri Mayong.  Pengarah: Nugroho Eko Setyanto SSos MM, Penanggun jawab: Drs Dahroni MM dan Trijaka Suhartaka SS, Supervisor Musik: Mamiek Slamet, Penata Musik: Mamiek Slamet, Artistik: Agusnawa, Feri Ragil Santoso, Lek Kapuk, dan Afik Kuncoro.

Bintang tamu pada pementasan lakon Aja Dumeh adalah Sihono Clewo dan Yu Beruk. Pementasan dilaksanakan di Arena Teater SMKI Yogyakarta pada Sabtu malam, 28 September 2019.

Nugroho Eko Setyanto selaku Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul yang memberikan sambutan dalam acara ini menyampaikan bahwa Kabupaten Bantul kaya akan seni budaya. Potensi-potensi itu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan kebudayaan Bantul khususnya dan Yogyakarta pada umumnya. Apa yang disajikan oleh seni teater ini memberikan hiburan sekaligus di dalamnya ada makna, pesan, dan hikmah. Intisari dari cerita itu perlu diambil manfaat baiknya.

Para buruh perusahaan gaplek bekerja keras di bawah tekanan Mandor Sarimin-Foto-A.Sartono
Para buruh perusahaan gaplek bekerja keras di bawah tekanan Mandor Sarimin-Foto-A.Sartono

Lakon Aja Dumeh menceritakan tentang Pak Ngarso, seorang juragan gaplek yang kaya raya. Ia memiliki banyak buruh/tenaga kerja. Akan tetapi kekayaan dan kuasanya atas buruh justru menjadikannya arogan, adigang-adigung-adiguna. Ia sombong dan kikir. Ia selalu khawatir menderita rugi dalam hal harta benda, bahkan tenaga dan waktu. Oleh karena itu semua buruhnya ditekan waktu dan tenaganya serta dipres upahnya.

Untuk menjalankan roda perusahaannya ia mempekerjakan Mandor Sarimin yang tabiatnya tidak kalah dengan Pak Ngarso. Nasihat dari Simbok (ibunya Pak Ngarso) kepada Pak Ngarso pun tidak pernah digubris oleh Pak Ngarso. Bahkan ibu atau Simbok diusirnya.

Konten Terkait:  Anak yang Lahir pada Musim Kasa Punya Watak Tidak Sabaran
Seluruh pemain Teater Banyu berfoto bersama di akhir pertunjukan lakon Aja Dumeh-Foto-A.Sartono
Seluruh pemain Teater Banyu berfoto bersama di akhir pertunjukan lakon Aja Dumeh-Foto-A.Sartono

Pada suatu ketika Kliwon yakni salah satu buruh di perusahaan gaplek Pak Ngarso, mau meminjam uang untuk biaya persalinan istrinya namun ditolak oleh Pak Ngarso. Justru Cenil (buruh wanita yang menjadi gula-gula Pak Ngarso) berjanji mau meminjamkan uang pada Pak Ngarso untuk Kliwon asal Kliwon mau menjadi kekasih gelap Cenil. Kliwon tidak berdaya dan terperangkap oleh Cenil. Skandal ini diketahui Sarimin yang akhirnya mengancam dan memeras keduanya. Intinya Sarimin juga menginginkan Cenil. Cenil bingung.

Tekanan dan tindakan semena-mena Pak Ngarso yang akan memecat Kliwon tanpa pesangon dan alasan yang jelas mengakibatkan para buruh berdemonstrasi. Di tengah acara demikian tiba-tiba perusahaan gaplek Pak Ngarso terbakar. Semua harta miliknya ludes dilalap api. Pak Ngarso menangis tidak karuan. Di tengah kejadian demikian Simbok datang dan menghiburnya. Oleh nasihat Simbok itu Pak Ngarso menyadari semua kesalahannya dan mohon maaf kepada semua buruhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here