Mata Waktu adalah tema yang dipilih oleh Empu Ageng Fotografi Oscar Motuloh dalam pameran tunggal karya fotografinya di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta. Pameran yang diselenggarakan tanggal 18-28 September 2018 ini selain sebagai unjuk karyanya yang luar biasa sekaligus sebagai wujud syukur dan perayaan atas penganugerahan gelar empu ageng yang diterimanya.

Oscar Motuloh adalah jurnalis foto di Kantor Berita Antara. Berkaitan dengan hal itu ia sering mendapat penugasan ke berbagai tempat/negara. Selain foto jurnalistiknya, beberapa esai fotografi telah dibuatnya dan hasilnya sulit ditempatkan ke dalam kategori foto jurnalistik.

Esai foto tersebut tidak hanya menarasikan posisi objektif dan representasi kontekstual seperti foto jurnalistik pada umumnya: tapi juga mempersembahkan arti simbolik dari objek-objek yang bersangkutan. Realitas dalam foto Oscar adalah realitas yang terbuka atas penerjemahan-penerjemahan baru. “The Art of Dying” adalah salah satu contohnya. Foto esai ini dipresentasikan sebagi bagian dari proyek multimedia yang disebut “Konser Fotografi”. Sebuah proyek esai meditatif yang dikomposisi oleh Tony Pranowo.

Killing of Journalist, karya-Oscar Motuloh-Foto-A.Sartono
Killing of Journalist, karya-Oscar Motuloh-Foto-A.Sartono

The Art of Dying memperlihatkan petikan meditasi Oscar, yang terbagi atas dua bagian. Bagian pertama terdiri dari 24 foto yang merepresentasikan kontemplasi Oscar yang diekspresikan melalui foto-foto kuburan di Paris dengan menggarisbawahi beberapa tokoh historis. Dalam imajinasi Oscar, intervensi para tokoh ini atas makam mereka sendiri tidaklah sesederhana yang terlihat. Mereka tidak punya peran dalam mendesain kuburan mereka, namun mereka mempengaruhi peringatan kematian mereka dengan mengambil posisi historis, menempatkan kebutuhan publik dibandingkan pribadi maupun dengan membuat pencarian filosofis.

Dalam imajinasi Oscar, para tokoh ini telah memprediksi kematian dan menentukan bagimana makam mereka diselebrasi. Demikian petikan tulisan kuratorial atas pameran karya Empu Ageng Fotografi Oscar Motuloh oleh Jim Supangkat.

Konten Terkait:  Konser Jakarta City Philharmonic, Peminat Musik Klasik Makin Meningkat
Sidoarjo, East of Java, karya Oscar motuloh-Foto-A.Sartono
Sidoarjo, East of Java, karya Oscar motuloh-Foto-A.Sartono

Pada sisi lain, Mikke Susanto yang juga memberikan catatan kuratorial atas pameran ini menyatakan bahwa kematian dalam karya-karya foto Oscar adalah momen tentang keabadian peristiwa yang paling sulit dijelaskan. Oscar seolah memerankan dirinya dekat dengan Sang Maha Pengatur. Mengais jejak-jejak, dan membantu “yang tengah bertugas” untuk mendokumentasi kematian. Foto-fotonya tandas akan rekaman peristiwa, terutama tragedi kemanusiaan dan bencana alam yang sampai kini tak ditentukan pola terjadi dan asal-usulnya.

Lebih jauh Mikke Susanto menyatakan bahwa kematian manusia dan peradaban yang tak pernah usai, tak terkirakan, dan tak terperi oleh pikiran manusia ini ditangkap oleh Oscar melalui objek-objek yang terserak. Objek yang terserak lalu didekatinya dengan pendekatan imaji. Pendekatan yang selaras dengan kepercayaan Oscar, bahwa fotografi adalah optis jiwa, pantulan realitass.

Eternal Life, karya-Oscar Motuloh-Foto-A.Sartono
Eternal Life, karya-Oscar Motuloh-Foto-A.Sartono

Oleh karenanya pendekatan imajinasi dipakai untuk menciptakan narasi terhadap benda (objek) yang berserak. Itulah “mata waktu”, sebuah konsep yang memandang realitas/peristiwa sebagai narasi waktu.

Di mata Oscar, objek berserak sekitar kematian, bencana, dan tragedi tersebut menjelma sebagai narasi. Tuturan sekaligus “akar” persoalan dan segalanya: akar kehidupan, akar kematian, dan akar persilangan antara hidup dan mati. Jadi, Anda kini perlu tahu, akar dari semua hal, mengapa kematian selalu saja menjadi misteri?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here