Di Indonesia banyak peninggalan masa Megalitik (kebudayaan batu besar), salah satunya di Pasemah, Sumatera Selatan. Wilayah dengan luas berkisar 3.066,56 km2 ini berada di sebelah timur lereng Gunung Dempo. Arah timur laut adalah Bukit Gumay dan di sebelah tenggara Bukit Patah. Di bawahnya mengalir Sungai Lematang dan Sungai Musi yang menjadi penyatu antara Palembang dan dataran tinggi Pasemah.

Daerah Pasemah merupakan dataran tinggi, bagian dari gugusan Bukit Barisan yang  memanjang dari arah barat laut ke tenggara. Peninggalan megalitik tersebut banyak tersebar di lembah Sungai Lematang, yang bagian hulunya dikelilingi gunung-gunung antara lain Isauisau, Jumbul, Bukit Kutung, Balai dan Patah. Juga di daerah lereng dan dataran. Peninggalan-peninggalan tersebut ada yang in situ (masih berada di tempatnya) ada pula yang sudah ex situ (dipindahkan) dengan alasan-alasan tertentu.

Arca megalitik Pasemah dibuat mengikuti bahan materialnya sehingga mempunyai bentuk atau gambar dengan berbagai sikap. Seperti berdiri, duduk, rebah dan lain-lain. Figur arca tersebut digambarkan sendirian (baik manusia atau binatang), bersama figur anak atau bersama binatang.

Ada yang dibuat hanya kepalanya saja dengan wajah menakutkan, mata bulat besar melotot, dahi menonjol, bibir tebal mengatup, dan tulang pipi menonjol. Ada yang digambarkan dalam kondisi mengendong anak, menunggang gajah, mengapit gajah, menunggang kerbau, melepaskan diri dari belitan ular, diterkam harimau dan lain-lain. Tubuh manusia digambarkan besar dengan bidang bahu lebar, tangan besar dan bentuk torso tegak. Ada yang digambar dengan pakaian dan perhiasan lengkap, membawa senjata atau peralatan keseharian, ada pula yang tidak.

Semua arca tersebut menggambarkan suatu aktivitas, sehingga dapat disebut arca dinamis. Arca-arca tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan bersama benda megalitik lain seperti kubur batu, dolmen, tetralith, batu datar, batu lumpang dan sebagainya. Bentuk-bentuk arca melambangkan penguasa, pemimpin tertinggi, pendeta, prajurit, kalangan keluarga pemimpin (kelas menengah atau bangsawan), rakyat biasa dan budak. Hal ini merupakan gambaran bahwa masyarakat sudah tertata rapi, mempunyai pemerintahan beserta struktur kepemimpinan.

Konten Terkait:  Perubahan Struktur dalam Masyarakat Jawa

Berdasarkan peninggalannya, masyarakat Pasemah merupakan penganut animisme. Tempat-tempat tinggi di Gunung Dempo diyakini merupakan tempat bersemayam roh-roh leluhur atau nenek moyang. Roh-roh  ini diangggap sebagai dewa yang sangat berkuasa, dihormati sekaligus ditakuti. Dengan memuja roh leluhur, diharapkan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam kaitannya dengan binatang,  ada binatang yang berperan penting bahkan dianggap suci, tetapi ada pula yang tidak penting bahkan dianggap membahayakan.

Dilihat dari perkembangan kebudayaan, maka kebudayaan Pasemah tersebut masih berada pada tahap mistis di mana manusia merasa dikelilingi kekutaan-kekuatan gaib yang ada di sekitarnya, yaitu keyakinan bahwa kehidupan alam akherat digambarkan di dunia.

Judul: Arca-arca Megalitik Pasemah Sumatera Selatan. Kajian Semiotik Barthes
Penulis: Rr. Triwurjani
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2018, Jakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: xxxiv + 476

Literatur Menarik tentang Peninggalan Zaman Megalitik di Sumatera Selatan
Literatur Menarik tentang Peninggalan Zaman Megalitik di Sumatera Selatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here