Pameran seni rupa terus dilaksanakan di Galeri Tembi Rumah Budaya, Bantul. Untuk tanggal 25 September – 8 Oktober 2019 ini giliran Kelompok Cerobong yang berpameran. Kelompok yang dibentuk pada tahun 2013 dengan sembilan orang perupa ini mengambil nama Cerobong dengan maksud sebagai representasi dari tempat mereka bertemu, yakni sebuah perusahaan swasta di Kabupaten Sleman.

Perusahaan tersebut bergerak di bidang seni dan dekorasi. Cerobong merupakan tempat bernapas dan juga bisa diartikan sebagai sebuah penanda keeksitensian sebuah perusahaan, yang dinilai masih beroperasi jika cerobongnya berasap. Sebuah eksistensi yang masih ingin dipertahankan sebagai perupa di sela-sela padatnya jam kerja.

Dengan semangat dan harapan yang besar maka dibentuklah sebuah kelompok untuk berpameran seni rupa bersama. Cerobong yang mengepulkan asap tentu mengindikasikan bahwa di balik itu ada api atau kehidupan. Cerobong asap pabrik tidak mengepul itu tanda tidak ada aktivitas atau produksi dalam perusahaan itu. Demikian pula cerobong asap dapur.

Aktor Baru dalam Konstelasi, akrilik pada kanvas, 100 x 90 cm, 2019, karya Harun-Foto-A.Sartono
Aktor Baru dalam Konstelasi, akrilik pada kanvas, 100 x 90 cm, 2019, karya Harun-Foto-A.Sartono

Jika cerobong asap dapur tidak mengepulkan asap berarti tidak ada proses memasak, yang bisa dimaknai sebagai tidak ada minuman dan makanan di rumah yang bersangkutan. Cerobong menginspirasi kelompok ini untuk terus mengepulkan asal, yang berarti terus menunjukkan produktivitas dan kreativitas dalam berkarya.

Sejak 2013 Kelompok Cerobong terus berkiprah. Pameran bersama telah dilakukan di Galeri Biasa Yogyakarta dengan tajuk Ruang dan Harapan (2013). Pameran kedua dilaksanakan di Mien Gallery Yogyakarta dengan tajuk di Balik Cerobong (2014). Pameran ketiga dilaksanakan di Tahunmas Art Room Yogyakarta dengan tajuk Life Story (2017).

Pupuk Daru Purnomo yang membuka secara resmi pameran Kelompok Cerobong ini dalam sambutannya mengatakan bahwa kerja berkesenian itu tidak kenal putus asa. “Sekalipun pembukaan pameran hanya dikunjungi sedikit pengunjung jangan pernah berkecil hati,” katanya,  “Saya dan Entang Wiharso malah pernah mengalami hal yang lebih parah. Tetapi itulah proses dan perjalanan hidup dalam berkesenian. Kita layak mengapresiasi apa yang dilakukan teman-teman Kelompok Cerobong. Tidak perlu berkecil hati”.

Konten Terkait:  Launching Empat Antologi Puisi Penerima Penghargaan
Remember The Time, akrilik pada kaca, 85 x 45 cm, 2019, karya Alpert Roza-Foto-A.Sartono
Remember The Time, akrilik pada kaca, 85 x 45 cm, 2019, karya Alpert Roza-Foto-A.Sartono

Pupuk juga mengatakan bahwa cerobong harus selalu mengepulkan asapnya. Jika tidak demikian berarti tidak ada aktivitas. Hendaknya cerobong menginspirasi semua anggotanya untuk terus berkarya. Pupuk juga menyampaikan bahwa tema Nggrahito mungkin lebih berkenaan dengan merenung. Merenung bukan melamun, namun merenung untuk berefleksi, melihat ke dalam diri untuk menjadi bekal melangkah ke depan. Nggrahito bukan hanya persoalan berpikir, tetapi juga merasakan dan merasa-rasakan ke dalam hati.

Sama-sama Berjuang, kayu, resin, 35 x 16 x 20 cm, 2019, karya Kang Aris-Foto-A.Sartono
Sama-sama Berjuang, kayu, resin, 35 x 16 x 20 cm, 2019, karya Kang Aris-Foto-A.Sartono

Nggrahito juga dipahami sebagai membuka pikiran, memahami, dan mencoba mengerti. Nggrahito merupakan usaha untuk mengamati dan memahami apa yang ada di sekitar, apa yang terjadi. Pada sisi itu terjadi relasi atau interaksi fisik dan psikologis yang memunculkan rasa simpati dan empati terhadap segala sesuatu. Nggrahito juga merupakan ajakan kepada publik untuk lebih peduli dan kritis terhadap sesuatu yang terjadi di sekitar kita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here