Pameran seni rupa bersama yang bertajuk Nandur Srawung pada tahun 2019 ini telah memasuki saat yang keenam kali. Ada pun sub tema yang disuguhkan adalah Gegayutan (Peer to Peer). Tema yang kemudian menjadi identitas perhelatan ini cukup menarik karena mengambil  idiom-idiom lokal (Jawa).

Nandur srawung dapat dimaknai sebagai menanam pergaulan dalam arti yang seluas-luasnya. Dapat juga dimaknai sebagai saling berhubungan, berjejaring, bergandengan tangan, pertemanan, dan saling menguatkan yang dalam kontek global mungkin dapat disebut dengan istilah peer to peer.

Atas konsepsi itu pengetahuan dibagikan secara langsung dan merata dengan hak dan kuwajiban yang disepakati menurut konteks.  Tema tersebut berangkat dari  warisan nilai yang selama ini mengakar kuat dan ada dalam masyarakat kita, yakni azas gotong royong dan saling berbagi, sebuah prinsip yang sangat relevan dalam kerja nonkompetisi.

Pintu masuk pameran Nandur Srawung di TBY-Foto-A.Sartono
Pintu masuk pameran Nandur Srawung di TBY-Foto-A.Sartono

Nandur Srawung terus memperluas lingkup kerja dan praktiknya, yang dalam hal ini memberikan fokus ke sub-sub kategori acara yang kiranya dapat merealisasikan spirit berbagi pengetahuan dan pada gilirannya dapat menjadi cara untuk membangun dialog antarberbagai bentuk pengalaman masyarakat melalui beragam praktik seni di Yogyakarta, Indonesia, dan internasional.

Masa depan ditentukan pula oleh sejauh mana kita dapat berbagi pengetahuan dalam berbagai praktik kolaborasi. Tentu hal ini bukan kerja yang mudah, namun proyek ini percaya bahwa fungsi seni dengan sifatnya yang lentur dan melampaui rigiditas struktur dapat menghubungkan antardisiplin ilmu dan menyatukan kembali masyarakat yang terpecah-pecah oeleh berbagai hal. Kini saatnya bersama-sama membuat wahana untuk kembali mempertemukan apa yang retak dan menjauh, tanpa menghilangkan keunikan pengalaman. Itulah nukilan tulisan kuratorial oleh Rain Rosidi, Sujud Dartanto, Irene Agrivine, Arsita Pinandita, dan Bayu Widodo.

Pace Naik Babi, 89,9 x 100 cm, batik tulis, rumasol, 2018-karya Ledjar Dianiartana Hukubun-Foto-A.Sartono
Pace Naik Babi, 89,9 x 100 cm, batik tulis, rumasol, 2018-karya Ledjar Dianiartana Hukubun-Foto-A.Sartono

Pameran yang melibatkan puluhan seniman dan beberapa kelompok seni di Taman Budaya Yogyakarta ini diselenggarakan pada 18-27 September 2019. Selain pameran Nandur Srawung yang merupakan perhelatan akbar seni rupa ini juga menyelenggarakan acara Srawung Moro, Srawung Temu, Srawung Panggih, Pasar Srawung Bazaar, Panggung Srawung, Young Rising Artist Award, dan Lifetime Achievement Award.

Konten Terkait:  Citra Kirana Perankan ‘Putri Purbasari’ Tanpa Naskah

Khusus untuk program Young Rising Artist Award, seleksi dilakukan bagi perupa muda yang berusia di bawah 35 tahun. Perupa yang terpilih mendapatkan penghargaan dan kesempatan untuk melakukan kunjungan, riset, dan studi banding dengan pendampingan tim kurator melalui program Srawung Panggih.

Wayang Lostang, vaiabel dimensi, akrilik pada kulit sintetis, 2019, karya Samuel Indratma-Foto-A.Sartono
Wayang Lostang, vaiabel dimensi, akrilik pada kulit sintetis, 2019, karya Samuel Indratma-Foto-A.Sartono

Untuk Nandur Srawung #6 ini Young Rising Artist Award jatuh pada perupa muda, Ledjar Daniartana Hukubun. Ia acap menggunakan pendekatan visual wayang Papua dalam karyanya. Ia menggabungkan konsep kreatif antara dua hal yang berbeda, seperti antara vektor dan batik. Antara wayang dan pop art. Melalui pengamatan Srawung antarkeluarga yang berbeda namun tetap satu antara suami dan istri yang kemudian dianalogkan dengan Papua dan Jawa. Budaya Indonesia timur diwakili dengan bentuk ornament yang khas, sedangkan budaya Jawa diwakili dengan wujud wayang. Dua hal yang berbeda disatukan melalui Wayang Papua sebagai wujud syukur atas karunia Sang Pencipta.

Mantra Loop Generator, besi, resin, digital animator, 100 x 120 x 90 cm, 2019-Foto-A.Sartono
Mantra Loop Generator, besi, resin, digital animator, 100 x 120 x 90 cm, 2019-Foto-A.Sartono

Selain itu, Lifetime Achievement Award diberikan kepada satu orang perupa karena dedikasi dan pengabdiannya terhadap dunia seni rupa dan dampaknya yang besar ke masyarakat luas. Untuk tahun 2019 ini penghargaan jatuh ke tangan Samuel Indratma. Kerja kreatif Samuel meliputi banyak hal. Mulai dari drawing, painting, mural, komik, patung, seni instalasi, dan sebagainya. Berbagai kiprah dan perannya telah mampu mendorong, menginisiasi, menginspirasi berbagai kinerja seni. Ia adalah sosok kreatif dalam berbagai peristiwa seni.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here