Puisi Marlin Dinamikanto

0
149

Kepada Pipi Kuyup

Senyum senyap
Menyayup redup
Merayap hinggap
Pipinya yang kuyup

Hatinya bukan kerangka baja
Hanya kayu lapuk sisa gusuran
Tapi merasa indah bak seroja
Bertapa di pekat comberan

Senyum yang begitu senyap itu
Tersimpan di kamera digital
Luh bening yang berbatubatu
Menyisakan sepi di bantal

Pipi kuyup itu terus menyayup
Ingatan yang hilang katup

Palmerah, 28 Agustus 2019

Kotoran Burung

Mungkin kita hanya kotoran burung
Tak pernah dianggap oleh angin

Bebas membercak atau melarung
Bahkan tak pernah merasa dingin

Laut tak pernah hirau betapa camar
Membuang kotoran ke buih ombak

Hamparan sawah juga terdiam
Ketika emprit membuang kotoran

Itulah kita yang tak pernah ada
Meskipun banyak tinggalkan noda

Palmerah, 28 Agustus 2019

Purnama di Gunungkidul

“Adakah kamu sembunyi di sana?
Di celah bintangbintang,” kata sang bocah
Kepada ibu yang tak pernah dilihatnya

Bahkan ketika purnama memeluk langit
Bocah itu masih duduk di pematang
Tak peduli bocah sebaya berlarian
Memungut ceria yang berserak
Di pinggir sungai yang kering

Bocahbocah sebaya bersarung rombeng
Menepis lalat yang menyerbu koreng
Di dahi di siku di sekitar mata kaki
Tetap riang jethungan di pelataran
Saat rembulan merah pasang
Dataran kering terang benderang

Bocah itu masih saja tersenyum
Kepada taburan bintangbintang
Menyapa ibu yang hanya cerita
Tentang Tukinem yang tragis
Gantung diri di pohon kelampok
Saat rembulan berkalung merah

Bocah kecil itu tetap gembira
Bukan bersama bocahbocah sebaya
Melainkan ibu yang tak pernah
Sekalipun dilihatnya – di sana
Di celah taburan bintang

Sebrang Potlot, 23 Agustus 2019

Dari Cinde ke Ramakasih

Saat kegembiraan kita larung
Di Lorong Lebak yang murung
Sejak itu tak ada kita
Setia hanyalah kata

Konten Terkait:  Kisah Orang-orang Biasa Kala Perang Kemerdekaan RI

Kita mungkin bukan sepasang merpati
Melainkan hanya kerumunan bebek
Tidak harus setia – atau gemati
Tapi kita tak boleh lembek

Dari Cinde ke Ramakasih
Terlihat langit tak bersih
Tapi kita tetap berkayuh
Bak sepasang burung puyuh

Kita memang bukan merpati yang setia
Mungkin hanya kerumunan bebek
Tak berdangdut sepiring berdua
Tak pula sesali cinta yang robek

Saat kenangan yang purapura bahagia
Kita larung ke tepian sungai Musi
Tak perlu gambargambar itu dijaga
Demi kesetiaan kepada ilusi

Tak perlu murung
Kepada cinta yang telah kita larung

Palmerah, 28 Agustus 2019

Marlin Dinamikanto, berpuisi sejak kelas 2 SMP. Namun vacuum setelah larut menjadi satu di antara aktivis Gerakan Berlawan Orba. Tepatnya di Pijar Indonesia yang didirikan Almarhum Amir Husin Daulay. Di Pijar selain aktif menulis di Kabar dari Pijar juga turut mendirikan Forum Kesenian Reformasi (Foker). Kembali aktif berpuisi sejak 2012. Karya-karyanya banyak tersebar di blog-blog sastra dan sejumlah antologi bersama. Menjadi partisipan di Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang dikoordinasi Sosiawan Leak. Antologi Puisi tunggalnya “Yang Terasing dan Mampus” terbit pada 2018, yang diluncurkan di Rumah Tembi Budaya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here