Sudah sejak lama etnis Tionghoa datang ke wilayah yang sekarang disebut Indonesia, salah satunya di Pulau Jawa. Arus kedatangan semakin meningkat sejak abad ke-17. Mereka dengan mudah beradaptasi dengan penduduk setempat dan juga nilai-nilai sosialnya, sehingga tercipta kedamaian.

Namun, kedamaian ini terusik oleh Belanda yang pada saat itu melalui Veerenigde Oost Indische Compagnie (VOC) , menancapkan kuku kekuasaannya. VOC berpusat di Batavia, kota berbenteng yang didirikan Belanda. Di sini juga bermukim etnis Tionghoa yang sangat berperan dalam bidang ekonomi (melalui perdagangan, pertanian, perkebunan dan pabrik).

VOC membuat banyak peraturan yang memberatkan bagi etnis Tionghoa. Misalnya tentang pajak dan surat izin tinggal (permissiebiffe). Bagi yang tidak memenuhi, mendapat hukuman baik fisik maupun denda. Peraturan ini dibuat sebenarnya adalah untuk mengisi kas VOC yang mulai menurun bahkan defisit karena korupsi. Di samping itu juga adanya kecemburuan, karena etnis Tionghoa lebih dapat membaur dengan penduduk setempat, berkembang dan cenderung berhasil dalam bidang ekonomi. Alasan lain adalah kalah bersaing dengan kongsi dagang Inggris, sehingga pemasukan berkurang.

Etnis Tionghoa semakin khawatir dan takut  ketika pada akhir tahun 1739 sampai hari Imlek Februari 1740, VOC melakukan penangkapan besar-besaran, mulai dari Bekasi sampai Tanjung Priok. Hal ini memicu beberapa warga Tionghoa yang berada di luar kota atau perkampungan untuk menyusun rencana dan strategi dalam menghadapi kesewenang-wenangan VOC.

Awal  Februari 1740 ada laporan bahwa beberapa warga etnis Tionghoa bermaksud menyerang penjara untuk membebaskan rekan-rekannya. Aksi ini membuat VOC memperketat aturan. Penangkapan dilakukan terhadap siapa saja yang dicurigai baik memiliki izin tinggal maupun tidak. Bagi yang tidak dapat membuktikan bahwa dirinya bekerja, dibuang ke Srilangka.

Aturan tersebut ternyata  banyak disalahgunakan, karena orang baik-baik dan bekerja juga ditangkap dan ditahan, dengan tujuan untuk diperas. Akibatnya banyak yang memilih pergi dan ikut bergabung dengan kelompok Tionghoa lain. Perlawanan dilakukan di bawah pimpinan Wang Tai Pan/Wang Pan Kuan yang dijuluki Khe Panjang. Karena pengkhianatan 3 orang letnan dan 1 orang kapitan Tionghoa, berbagai rencana perlawanan banyak yang diketahui VOC.

Tetapi penyerangan sempat dilakukan di beberapa daerah di luar Kota Batavia. Korban dari VOC juga cukup banyak. Beberapa dari mereka kemudian bergerak ke Batavia. Melihat hal tersebut ada kekhawatiran pada VOC,  bahwa nantinya etnis Tionghoa yang berada di dalam kota juga akan ikut bergerak. VOC kemudian mengambil inisiatif terlebih dahulu. Di antaranya larangan masuk kota untuk membawa wanita keluar, karena sebelumnya telah banyak yang mengungsi. Penyerahan senjata, bagi yang menolak dan atau ikut mengadakan perlawanan akan ditembak mati. Mulai pukul 06.30 sore harus sudah berada di dalam rumah dan tidak boleh menyalakan lampu.

Suasana makin mencekam ketika berhembus kabar, etnis Tionghoa yang dibuang ke Srilangka  dalam perjalanan dibuang ke laut. Etnis Tionghoa yang berada dalam kota dan merasa ketakutan berusaha keluar tetapi dikejar dan ditangkap. Korban pun berjatuhan.

Sore hari tanggal 9 Oktober 1740 pasukan penisten VOC (“milisi kota”) dan pasukan kavaleri mengepung rumah Kapiten Nie Hoe Kong dan rumah-rumah di sekitarnya. Tembakan meriam bertubi-tubi menyebabkan rumah hancur dan terbakar. Banyak yang berusaha menyelamatkan diri baik melalui sungai/kali maupun kanal, tetapi gagal karena sudah dihadang tentara dan pelaut VOC yang membantai siapa pun tanpa ampun.

Malam harinya VOC melakukan aksi penggeledahan senjata, tetapi prakteknya mengambil apa saja yang dapat diambil. Keberatan warga Tionghoa tidak direspons sama sekali. Alasanya etnis Tionghoa di dalam maupun di luar benteng Kota Batavia telah mengadakan persekutuan untuk melawan dan memberontak terhadap VOC.

Konten Terkait:  Kartun Mas Bekel

Dalam situasi yang seperti ini beredar “kabar burung” di kalangan bumi putera bahwa etnis Tionghoa tidak hanya bermaksud melawan VOC, tetapi juga bermaksud menghabisi mereka. Hubungan yang semula harmonis, berubah menjadi saling mencurigai.

Sewaktu VOC sedang melakukan pengeledahan di rumah-rumah warga etnis Tionghoa, tiba-tiba terjadi kebakaran. Kebakaran ini dianggap sebagai tanda dimulai perlawanan terhadap VOC. Valckenier langsung memerintahkan serdadu VOC yang telah siaga untuk membantai habis etnis Tionghoa. Sebagian budak bumi putera, para budak kulit hitam, kelasi, dan pekerja kasar lain berlarian menuju perkampungan Tionghoa, ikut melakukan pembantaian dan penjarahan.

Pembantaian massal berlanjut keesokan harinya, 10 Oktober 1740. Kobaran api membara selama tiga hari hingga 12 Oktober 1740. Khawatir jika kebakaran meluas dan gudang rempah-rempah ikut terbakar, VOC  kemudian mengirim pasukan pemadam kebakaran.

Pada aksi tersebut diperkirakan 600 bangunan tempat tinggal etnis Tionghoa rusak dan terbakar. Korban jiwa etnis Tionghoa diperkirakan lebih 10.000. Mayat-mayat bergelimpangan di seluruh sudut kota, baik di jalan, kanal, kali/sungai atau tanah, telah menjadikan warna air dan tanah berubah merah. Bau busuk bangkai menyebar di segala arah. Salah satunya Kali Angke.  Nama Angke diperoleh karena air sungai tercemar darah dan berwarna merah (ang = merah, ke=sungai).

Kali Angke sebenarnya cukup jauh dari pusat utama pembantaian yaitu Jalan Kali Besar Barat. Tetapi lebih terkenal dibanding Kali Besar, karena Kali Angke berhubungan dengan Muara Angke yang menjadi titik akhir aliran sungai yang menghanyutkan mayat-mayat korban pembantaian. Volume dan aliran air di Kali Besar Barat yang masih tinggi dan deras, telah menghanyutkan mayat-mayat tersebut ke kali dan muara yang berbeda.

Selain Kali Angke bisa juga  ke Kali Obak yang berhubungan dengan Kali Besar, Kali Kerendang yang berhubungan dengan Kali Angke dan lain-lain. Bahkan diperkirakan sampai terhanyut ke sebuah rawa di Jakarta Timur yang saat ini dikenal dengan nama Rawa Bangke.

Setelah peristiwa pembantaian yang lebih dikenal dengan nama peristiwa Kali Angke, para anggota Dewan Hindia Belanda saling menyalahkan dan melempar tanggung jawab.  W van Imhoff dan Valckenier adalah dua orang yang dianggap paling bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Valckenier adalah gubernur jendral, sedangkan W Van Imhoff anggota dewan majelis VOC. Jabatan yang sama-sama memiliki peran dalam membuat keputusan mengenai masalah di Batavia.

Kenyataannya setelah melalui persidangan, W Van Imhoff  justru diangkat  menjadi gubernur jenderal, sedangkan Valckenier harus menjalani hukuman. Kapitan Nie Ho Kong (yang tertangkap saat berusaha meninggalkan rumah bersama istri dan anaknya), juga divonis bersalah dan dihukum buang ke Ambon. Ia dianggap ikut serta dan bertanggung jawab terhadap aksi-aksi perlawanan.

Tragedi tersebut membuat perekonomian Batavia hancur dan hampir lumpuh.Untuk memulihkan ekonomi, VOC mengeluarkan instruksi berupa pemberian pengampunan umum kepada warga etnis Tionghoa serta penghapusan surat izin. Warga etnis Tionghoa kemudian ditempatkan di luar benteng yang disebut Diestpoort, sekarang Glodok. Belanda  menempatkan serdadu sebagai pengawas dan penjaga keamanan.

Judul: Pembantaian Massal 1740. Tragedi Berdarah Angke
Penulis: Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma
Penerbit: Obor, 2005, Jakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: xiii + 252

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here