Ganzer Lana Sasandois: Siapkan Sasando yang Bisa Mainkan Musik Klasik

0
51

Kecintaannya pada alat musik sasando yang berasal dari daerahnya membawa ia menekuni alat musik dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, sampai bangku kuliah. Lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengambil jurusan Etnomusikologi, Agusto Andreas Naga Lana mulai menekuni Sasando dan melakukan pementasan Sasando di beberapa negara Asia dan Eropa.

Sasando terbuat dari anyaman daun lontar. Di NTT lontar dianggap pohon kehidupan masyarakat, mulai dari akar hingga ujung daun sangat berfungsi. Hal ini yang kemudian memberikan rangsangan visi hidup pria kelahiran 11 Agustus 1993 ini yaitu, “Lontar Itu Beta Pung Hidup & Beta Pung Sasando Untuk Dunia” bersama alat musik Sasando Ganzer, panggilan akrabnya ingin mempertahankan, melestarikan, dan mengembangkan alat musik sasando.

Selain tampil sendiri sebagai sebagai pemain sasando, Ganzer beberapa kali tampil bersama grup musik etnik, di antaranya Nusa Tuak yang dibentuk oleh Ganzer sejak 2013, yang terbaru adalah SAS. Ganzer yang bermain sasando berkolaborasi dengan Gregorius Argo yang memainkan sape, alat musik dawai dari suku Dayak. Saat ini grup musik SAS cukup terkenal setelah mereka memutuskan untuk mengikuti ajang pencarian bakat ‘The Rising Star’ yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta.

Ganzer Bersama Grup SAS foto – Galeri Indonesia Kaya

Meski kini SAS sudah tampil di mana-mana, bukan berarti langkah mereka langsung sukses. Ganzer bercerita sempat merasakan kesulitan keuangan saat nekat pindah ke Jakarta untuk mengembangkan karier musiknya. Namun saat ini karirnya cukup gemilang, salah satunya saat ia diajak oleh Purwacaraka untuk ikut dalam pameran industri musik terbesar di Eropa, Frankfurt Musikmesse pada April lalu.

Selain tampil bersama sasando kesayangannya, Ganzer mengaku banyak orang yang mendatangi dirinya untuk mengundang atau hanya sekadar belajar memainkan sasando. “Banyak banget pengalaman berharga selama satu minggu aku di sana, aku berkesempatan bertemu banyak orang hebat, dan bangga bisa membawa sasando keliling dunia,” ujarnya saat ditemui Tembi beberapa waktu lalu.

Konten Terkait:  Siklus Wuku Kulawu, Wuku Urutan Ke-28, Periode 30 Juli s/d 5 Agustus 2017
Aksi Ganzer Saat Memainkan Sasando foto – Galeri Indonesia Kaya

Selain berkeliling mengenalkan sasando, pria berambut keriting ini juga memberikan workshop bermain sasando dan mengenalkan perjalanan dan perkembangan sasando, ia juga mengenalkan membuat sasando yang awalnya memiliki 7 dawai, kini bisa sampai 11 dawai bahkan berkembang menjadi 32-44 dawai.

Yang terbaru, Ganzer sedang berkutat dengan konsep sasando yang bisa memainkan lagu-lagu klasik. “Tolak ukur aku adalah alat musik harpa yang memiliki 38 dawai dan bisa main semua tangga nada. Nah, acuanku dari situ, masih proses dan aku masih ‘ngulik’ terus, belakangan aku lagi coba-coba mainkan lagu Beethoven,” ujar dia.

Ganzer berharap risetnya selama lima tahun ini bisa selesai dan sesuai dengan harapannya. Karena jika berhasil ia berharap bisa ikut dalam ajang pameran alat musik terbesar di Amerika, National Association of Music Merchants (NAMM) Show. “Pengajuan konsepkku sudah diterima, semoga lancar dan bisa berangkat ke sana, doakan ya,” tutur Ganzer. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here