Puisi Indri Yuswandari

0
56

Tersengat

angka angka berputar
bulan pucat mengikat jangkar
kabut menyusup gelombang gelombang
perahu hempas ke nadi karang

pada gambar-gambar penanda
pada nama-nama berpura
pada kata yang tak terduga
labirin membentang kota tua

menerawang rimba kasat mata
bagai membaca peta buta
mantra terkirim serupa sengat
liur sungaimu menjadi obat

07.05.2019

 

Mantra Air

basuh dan zikir sebening air
air bening salaking rabi
doa putih bermaqom siir
mengaliri batu batu liar
melesat bak panah naga pasha
mantra agung kembang bertasbih

rindunya menjelma pagar
lingkaran putih bercahaya
menebas sombong hutan dandaka

09.05.2019

 

Hestu

pada beranda stasiun kota tua,
serpih hatinya berserak berontak
menancap akar rel panjang perjalanan
lengking peluit menghempas sisa jelaga di setiap gerbongnya

angin menggugurkan tubuh daun yang basah
tanah jiwa membuatnya tumbuh perkasa
hatinya menjelma batang trembesi digdaya

kepada kekasih rahasia ia berbisik:
“aku masih mengenali bau tubuhmu yang kucium waktu itu”

13.05.2019

 

Hasrat

adalah deru laju kereta api
digema azan kota tuamu

bara di ujung lorong tempat mengaduk hari
membenamkan ikatan angin dan awan

lalu kita terbang bersama
bagai serombongan burung gereja
bertengger pada ranting cakrawala
meramu gumpalan pekat mega

11.05.2019

 

Jemari

Sekali waktu,
beri angin sempat menyentuh hatimu agar tak jatuh ke lantai
selayaknya pijar kota penuh riang kanak-kanak menari
dan taman yang cemerlang dengan gelora pasang-pasang kaki

Seorang lelaki tengah menunjukkan jemarinya ke atas
sambil berkata kepada anaknya
“ibu ada di antara bidadari dan bintang-bintang”
“apakah ibu akan datang?”
“ya, ibu datang dalam mimpi tiap malam”

Seperti halnya senja yang setia menutup pintu-pintu dan jendela
serta angin yang nakal menggigit ketika membangunkan kita
cengkeramlah ranting-ranting kelam jemarimu dihempas malam
agar ketika ayat-ayat dilantunkan, kilaumu melesat bagai kilat tak tersumbat

Konten Terkait:  Puisi Alfa Amorrista

25.05.2019

Indri Yuswandari, tinggal di Kendal Jawa Tengah. Antologi puisi tunggalnya berjudul: Lukisan Perempuan (2107), Ini Hampir Pukul Tiga (2018) (mendapat juara 3 Lomba Penulisan Buku Kreatip Dapur Sastra Jakarta 2018), Teka Teki Catatan Kaki (2019). Puisi-puisinya juga dimuat di puluhan antologi bersama penyair Nusantara dan dua antologi Malaysia. Ia kerap membaca puisi dan geguritan di berbagai kota. Sekali waktu menjadi juri lomba baca puisi atau bercerita. Bisa dihubungi lewat Facebook : Indri Yuswandari.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here